Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Manajemen Risiko Siber

Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lPPI). tulisan ini merupakan Pendapat Pribadi.

Oleh Krisna Wijaya
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

Tampaknya sulit dihindari dan telah menjadi suatu keniscayaan bahwa kemajuan di bidang teknologi selalu bermata dua. Satu sisi, dapat digunakan untuk kemanfaatan dan kebaikan, tapi di lain sisi selalu ada saja pihak-pihak yang menggunakannya untuk sebaliknya.

Isu inovasi terkini misalnya terkait dengan Chat GPT-5. Dengan menggunakan generative artificial intelligence (GAI), selain makin canggih kegunaannya, responsnya juga lebih cepat. Namun, karena Chat GPT (apa pun serinya) menggunakan algoritma, maka sangat tergantung pada integritas yang membuatnya. Bisa saja algoritma yang dibuat sesuatu yang tampak benar tetapi kebenarannya tidak teruji.

Sepengetahuan saya, semua bentuk kejahatan IT selalu dibuat apabila ada inovasi baru. Di bank, misalnya, ketika bank membuat atau menyempurnakan aplikasinya selalu saja ada serbuan para hacker untuk mencoba kerentanan aplikasi tersebut. Bahkan sudah banyak bank dan tentunya industri keuangan lainnya ketika aplikasinya dalam tahap uji coba mengundang para hacker untuk ikut mengujinya. Mereka yang menguji akan memberikan rekomendasi terkait apa saja yang harus disempurnakan.

 Tentunya banyak sekali ragam produk yang diproduksi oleh para hacker, baik untuk tujuan baik maupun sebaliknya. Meskipun dari sisi populasi lebih banyak yang beriktikad baik, dalam praktiknya selalu saja ada yang tidak baik. Misalnya, apa yang disebut ransomeware, di mana ketika mengganggu bahkan menghentikan sistem IT sebuah bank. Dalam prakteknya ada yang meminta semacam kompensasi uang untuk menormalkan kembali baik sistem maupun aplikasi yang diserang.

Risiko Siber

Hasil survei Ernst & Young (EY) 2023 menyebutkan bahwa sekitar 72% chief risk officer (CRO) global memandang keamanan siber sebagai risiko teratas di tahun depan, diikuti oleh risiko kredit dan lingkungan hidup 62%. Tampak ada pergeseran peringkat risiko. Bagi perbankan dan lembaga keuangan pada umumnya, risiko kredit dianggap yang paling penting. Dari hasil survei tersebut, 58% CRO tidak yakin dengan kemampuan mereka untuk bertahan melawan serangan siber, dan ketidakmampuan mengelola risiko keamanan siber sebagai ancaman strategis utama mereka selama tiga tahun ke depan.

Dari berbagai referensi, risiko siber diartikan sebagai potensi paparan atau kerugian akibat serangan siber atau pelanggaran data pada organisasi suatu entitas bisnis khususnya. Risikonya tidak hanya mengenai kemungkinan terjadinya serangan siber tetapi juga potensi dampaknya, seperti kerugian finansial, kerusakan reputasi, atau gangguan operasional.

Risiko siber terjadi karena berbagai bentuk aktivitas jahat, seperti serangan ransomware yang mengenkripsi data penting dan meminta uang tebusan untuk pelepasannya. Sebuah serangan melalui malware yang dapat menyusup ke sistem secara diam diam untuk mencuri atau merusak data. Selain serangan melalui malware, risiko siber lainnya adalah serangan melalui phishing. Disebut juga serangan phishing.

Ada kecenderungan serangan siber terhadap industri perbankan khususnya mengalami peningkatan. Sekadar ilustrasi adalah apa yang disampaikan oleh IBM (2023). Disebutkan, peretas berhasil “mencuri” sekitar US$81 juta dari Bank Sentral Bangladesh pada Februari 2016. Hal yang sama juga dialami oleh Bank Sentral Rusia. Peretas mencuri lebih dari US$31 juta atau miliar rubel pada saat itu. Hal lain diungkapkan oleh Justin Kueper (2024) bahwa 63% jumlah lembaga keuangan secara global mengalami peningkatan serangan siber destruktif dari 2021 hingga 2022.

Negara maju dan super, seperti Amerika Serikat (AS), juga tidak bebas dari serangan siber. Menurut Hoff Dockerty (Americans Bankers Magazine, 2024) serangan siber di AS tetap tidak dapat dihindari. Misal nya, kasus serangan siber yang dike nal sebagai LockBit, yang melakukan pelanggaran dunia maya terhadap penyedia perangkat lunak keuangan Infosys McCamish. Serangan itu mem bobol informasi identitas priba di dari 57.028 nasabah Bank of America.

Dengan adanya kecenderungan serangan siber yang terus meningkat terhadap bank, maka penting sesege ra mungkin melakukan tindakan preventif yang lebih tinggi. Sebab, apabila terus terjadi dapat meng gang gu solvabilitas lembaga keuang an, utamanya sektor perbankan.

Selera Risiko

National Institute of Standards and Technology (NIST) menyarankan pendekatan manajemen risiko siber sebagai proses berulang yang berkelanjutan. Bukan hanya untuk saat terjadi serangan siber. Untuk itu, perusahaan, termasuk kalangan industri perbankan, perlu meninjau kembali pengelolaan manajemen risikonya. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, antara lain sebagai berikut.

Isu inovasi terkini misalnya terkait dengan Chat GPT-5. Dengan menggunakan generative artificial intelligence (GAI), selain makin canggih kegunaannya, responsnya juga lebih cepat. Namun, karena Chat GPT (apa pun serinya) menggunakan algoritma, maka sangat tergantung pada integritas yang membuatnya. Bisa saja algoritma yang dibuat sesuatu yang tampak benar tetapi kebenarannya tidak teruji.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2024

Rp 65.000

BELI