Kualitas pembiayaan industri multifinance sedang merangkak naik. Kewaspadaan perlu disetel lebih tinggi, terutama setelah program restrukturisasi pembiayaan dalam rangka penanganan pandemi COVID-19 berakhir dan daya beli masyarakat melemah.
Sumber: Istimewa
PELAKU bisnis multifinance kini perlu melangkah lebih hati-hati. Sebab, program restrukturisasi pembiayaan dalam rangka penanganan pandemi COVID-19 telah berakhir. Persisnya medio April lalu. Debitur yang dulu dapat keringanan, sekarang sudah harus kembali ke kondisi normal. Tapi, apakah kemampuan debitur sudah pulih sepenuhnya? Itu pertanyaan besarnya. Apalagi, sekarang adalah eranya sulit duit. Semua serbamahal.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, industri multifinance telah cukup siap secara fundamental untuk menghadapi normalisasi kebijakan. “Dengan mempertimbangkan data yang ada, OJK menilai bahwa kebijakan restrukturisasi dihentikan pada April 2024, maka NPF gross diproyeksikan hanya akan sedikit terdampak, yaitu menjadi sekitar 2,48% sampai dengan 2,55%,” ujar Agusman, beberapa waktu lalu.
Hanya saja, meski dinilai telah siap, Biro Riset Infobank (birI) mencatat NPF industri multifinance pada April 2024 mencapai 2,82%. Naik jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 2,45%. Juga lebih tinggi daripada perkiraan regulator.
Secara historis, ditarik dari 2020, tahun ketika pandemi COVID-19 mulai merebak, NPF mengalami fluktuasi signifikan. Meskipun sempat menurun, tren NPF cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir. Pada 2020, NPF berada di 4,01%. Mencerminkan dampak awal dari pandemi COVID-19 yang mengganggu ekonomi global dan nasional. Banyak debitur yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran sehingga mendorong peningkatan NPF.
Perkembangan Pembiayaan & NPF Industri Multifinance (2020-April 2024)
Kemudian, 2021 NPF mengalami penurunan menjadi 3,53%. Penurunan ini bisa diatribusikan pada berbagai upaya restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) dan dukungan kebijakan dari pemerintah untuk membantu debitur menghadapi kesulitan ekonomi. Pada 2022, NPF kembali menurun signifikan menjadi 2,32%. Ini merupakan capaian positif. Menandakan bahwa upaya restrukturisasi dan pemulihan ekonomi mulai membuahkan hasil.
Tapi, penurunan tersebut tidak bertahan lama. Memasuki 2023, NPF sedikit meningkat menjadi 2,44%, dan pada April 2023 naik tipis lagi menjadi 2,47%. Hingga April 2024 mencapai 2,82%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbaikan, tantangan masih ada dan perlu diatasi secara berkelanjutan.
Mandala Multifinance (Mandala Finance), misalnya, mengalami kenaikan NPF pada April 2024. Managing Director Mandala Finance, Christel Lasmana, mengatakan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor ekonomi, termasuk kenaikan harga barang pokok yang memengaruhi kemampuan bayar masyarakat. Tapi, Mandala Finance telah menyelesaikan program restruk turisasi pada 2023 sehingga periode restrukturisasi kredit April 2024 tidak memengaruhi NPF perusahaan.
“Kami tetap fokus menjaga kinerja yang baik dengan pengelolaan operasional yang efisien dan penyaluran pembiayaan yang tepat sasaran,” ujarnya kepada Infobank. Christel menambahkan, industri multifinance diperkirakan akan menghadapi persaingan yang makin ketat ke depannya. Banyak pemain baru yang tertarik masuk ke industri ini karena potensi bisnis pembiayaan yang besar, termasuk angka penjualan mobil dan sepeda motor yang relatif tinggi serta bisnis pembiayaan kembali (refinancing). “Perusahaan harus secara aktif memantau seluruh sektor dan jenis debitur untuk mengidentifikasi potensi kerentanan dan mengelola risiko,” tuturnya.
Mandala Finance menerapkan berbagai kebijakan preventif, termasuk penilaian yang lebih selektif dan pemberian edukasi kepada debitur untuk memastikan mereka memahami sepenuhnya kewajiban angsuran mereka. Dengan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam penyaluran pembiayaan dan menjaga tingkat pencadangan yang optimal, Mandala Finance berupaya mengantisipasi dampak peningkatan NPF. Selain itu, perusahaan fokus pada penguatan fundamental bisnis dan pengelolaan operasional yang efisien.
Pemain lainnya, Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance), melihat kenaikan NPF sebagai sinyal awal dari keadaan ekonomi yang kurang baik pasca Lebaran. Presiden Direktur Maybank Finance, Alexander, menyebutkan bahwa pendapatan masyarakat kelas menengah mulai terganggu. Terlihat dari menurunnya angka penjualan produk otomotif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dia juga menyampaikan, pihaknya tidak memiliki strategi khusus untuk menghadapi kenaikan NPF karena angkanya masih rendah dan dalam batas wajar.
Menurut Alexander, pendapatan masyarakat, terutama kelas menengah, mulai tergerus untuk kebutuhan yang lebih mendesak, sehingga kemampuan mengangsur melemah dan terjadi penundaan pembayaran angsuran ke perusahaan pembiayaan. Selain itu, arus kas untuk konsumen berbentuk badan usaha mulai banyak yang terganggu, yang menyebabkan penundaan pembayaran angsuran. “Kami akan tetap agresif dalam memberikan pembiayaan baru dengan prinsip kehati-hatian,” tegasnya.
Kendati demikian, dia mengungkapkan, berakhirnya periode restrukturisasi kredit pada April 2024 tidak memengaruhi kenaikan NPF di Maybank Finance, karena perusahaan terakhir melakukan restrukturisasi terhadap para debitur yang terdampak pandemi COVID-19 pada Januari 2022. Posisi NPF perusahaan pada April 2024 masih stabil dan cenderung tidak mengalami kenaikan. Kenaikan NPF baru mulai dirasakan pada Mei 2024. “Untuk menekan NPF, kami mengintensifkan proses penagihan dari awal munculnya masalah tunggakan debitur bersangkutan,” imbuh Alexander.
Sementara itu, pihak CIMB Niaga Finance (CNAF) berpendapat bahwa jumlah outstanding restrukturisasi yang kecil tidak akan berdampak signifikan pada peningkatan kredit macet. Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, mengungkapkan pada Juni 2024, posisi NPF CNAF mencapai 1,42%, atau turun 0,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total outstanding program restrukturisasi COVID-19 di CNAF sebesar Rp12,75 miliar atau 0,1% dari total aset kelolaan Rp12,08 triliun.
Setelah berakhirnya restrukturisasi, pihaknya menerapkan berbagai strategi untuk menjaga kesehatan portofolionya, termasuk pemutakhiran sistem scoring untuk memastikan nasabah yang disetujui memiliki tingkat risiko terkendali. Pria yang akrab disapa Aris ini juga mengatakan, pihaknya aktif mengingatkan debitur tentang pembayaran angsuran lebih awal melalui WhatsApp dan telepon, serta sedang mengembangkan teknologi telepon dengan suara robot dan memperkuat proses KYC (know your customer) untuk nasabah. Selain itu, CNAF akan menambah channel dan metode pembayaran angsuran untuk memudahkan akses pembayaran. CNAF optimistis mencapai pertumbuhan pembiayaan baru dengan target peningkatan sebesar 10%-12%. “Kami menargetkan total penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp9 triliun di 2024 dan optimistis dapat meningkat di setiap segmennya hingga akhir tahun,” kata Aris.
Berakhirnya masa restrukturisasi kredit pada April 2024 memang menjadi tantangan bagi pelaku industri multifinance. Namun, dengan kesiapan fundamental yang baik dan strategi pengelolaan risiko yang tepat, industri ini diharapkan mampu bertahan dan terus tumbuh di tengah persaingan yang kian ketat. Dengan langkah-langkah yang diambil perusahaan, seperti Maybank Finance dan Mandala Finance, industri multifinance dapat menjaga stabilitas dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, industri multifinance telah cukup siap secara fundamental untuk menghadapi normalisasi kebijakan. “Dengan mempertimbangkan data yang ada, OJK menilai bahwa kebijakan restrukturisasi dihentikan pada April 2024, maka NPF gross diproyeksikan hanya akan sedikit terdampak, yaitu menjadi sekitar 2,48% sampai dengan 2,55%,” ujar Agusman, beberapa waktu lalu.