Sejak kecil, orang tuanya mendidik dengan keras supaya ia bisa menggapai kesuksesan di level tertinggi. Pemimpin ia terjemahkan sebagai figur yang mampu menjadi teladan dan melayani bawahannya demi kemajuan perusahaan.
Agus, Direktur Utama BPR Akasia Mas
Langit mulai gelap ketika seorang anak laki-laki berlari tergesa-gesa menuju rumahnya yang juga berfungsi sebagai toko kelontong kecil di Natar, Lampung Selatan. Jantungnya berdegup kencang, bukan lantaran kelelahan, melainkan karena ketakutan. Ia tahu, ayahnya pasti marah melihat toko sudah tutup tanpa bantuannya. Benar saja, begitu ia membuka pintu rumah, suara keras ayahnya menyambutnya.
“Dari mana saja kamu? Kok nggak bantu jualan? Mau jadi apa kamu nanti? Makan tuh bola!”
Perkataan sang ayah masih terngiang di benak Agus, sosok yang kini menjabat sebagai Direktur Utama BPR Akasia Mas. Kala itu, setiap pulang sekolah, ia diminta membantu menjaga toko, menitipkan dagangan seperti es kepal di warung-warung lain, serta mengambil setoran. Sering kali ia merasa iri dengan teman-temannya yang bebas bermain dan menikmati masa kecil tanpa beban. Apalagi saat Idulfitri, ketika anak-anak lain sibuk bermain dengan mengenakan baju baru, Agus harus tetap menjaga toko. “Kalau ingat momen Idulfitri dulu, saya suka sedih. Teman-teman saya bermain, sementara saya ikut orang tua jaga toko. Kata papa dan mama saya, toko itu ramai pas Lebaran karena banyak yang beli rokok atau biskuit. Memang benar ramai, tapi saya iri melihat teman-teman bermain,” kenangnya saat berbincang dengan Infobank.
Namun, didikan keras orang tua ternyata menjadi bekal berharga baginya. Pria kelahiran Lampung Selatan pada 1969 ini tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan tangguh. Sejak di bangku sekolah dasar, Agus selalu menempati peringkat teratas di kelasnya. Bahkan, Agus meraih predikat cum laude ketika lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas, baik saat menempuh jenjang pendidikan diploma (D-3) maupun sarjana (S-1). Keseriusannya dalam belajar juga mengantarkannya sebagai peraih gelar magister manajemen dari Universitas Esa Unggul.
Ketekunan Agus tak hanya terlihat dalam hal pendidikan, tetapi juga dalam hal olahraga. Semasa muda, ia aktif berolahraga dan hampir mencapai level atlet nasional. Ia pernah meraih peringkat ketiga dalam lomba maraton 10 kilometer yang diselenggarakan STIE Perbanas dan menjadi bagian dari tim sepak bola kampus yang menjuarai kejuaraan nasional mahasiswa pada 1995. Namun, kecintaan pada angka dan ilmu eksak membawanya ke dunia perbankan.
“Saya tidak pernah panik ketika dihadapkan dengan selisih atau angka. Malah, menurut saya itu tantangan. Jika ada kesalahan, saya justru berpikir, ‘kok bisa saya keliru?’ Dan, ketika menemukan jawabannya, ada kepuasan tersendiri,” ujarnya.
Agus memulai kariernya di industri perbankan pada 1992. Ia pernah bekerja di Bank Universal, Bank Putera Multikarsa, Bank Danamon, dan Bank Dana Asia dengan berbagai peran, mulai dari bagian kliring, operasional, akuntansi, hingga audit. Setelah Bank Dana Asia dibekukan pada 1998, Agus bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) hingga 2004.
Tak hanya di industri keuangan, Agus juga sempat berkarier di Hino Indonesia sebagai finance accounting dan di Mayapada Group sebagai auditor. Pada 2011, Agus mendapat tawaran dari mantan atasannya di Mayapada Group untuk memimpin BPR Akasia Mas, yang saat itu baru berganti nama dari BPR Gunung Tambora. Dikenal tekun dan beretos kerja tinggi, ia dipercaya sebagai direktur utama bank yang berbasis di Serpong, Tangerang Selatan, itu.
Meski berada di puncak kepemimpinan, Agus tak hanya sekadar memerintah. Bagi pria yang gemar membaca buku bergenre self improvement ini, pemimpin adalah sosok yang harus siap berkorban dan menjadi teladan bagi bawahannya.
“Leadership itu bukan sekadar memberi perintah. Seorang pemimpin harus berani berkorban dan bisa melayani, bukan sebaliknya. Seperti nakhoda kapal yang harus menyelamatkan anak buahnya lebih dulu saat ada kecelakaan,” tegasnya.
Agus selalu berusaha melindungi dan membimbing karyawannya. Jika ada yang melakukan kesalahan, ia akan maju membela mereka, kemudian memberikan arahan dengan sabar agar kesalahan itu tidak terulang. Sikap ini membuatnya dihormati para stakeholders dan karyawan perusahaan.
Tahun 2025 menandai 14 tahun kepemimpinannya di BPR Akasia Mas. Ia masih ingat ketika bank ini hanya memiliki aset Rp20 miliar. Dan, kini, BPR Akasia Mas tumbuh pesat dengan pertumbuhan laba bersih tahunan mencapai 65,89%, atau menjadi Rp9,67 miliar pada 2024. Adapun asetnya tercatat Rp544,35 miliar di penutup tahun 2024. Agus optimistis bahwa bank ini masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang. “Harapan saya, kalau kita tetap bertumbuh, misalnya aset bisa sampai Rp1 triliun dalam dua tahun, kita ingin memanfaatkan undang-undang terbaru (UU P2SK) untuk IPO. Kalau aset dan infrastrukturnya sudah memadai serta modal disetor mencapai Rp100 miliar, IPO bisa menjadi langkah selanjutnya,” ungkapnya.
Ketekunan, kerja keras, dan konsistensi bukanlah anugerah yang datang begitu saja. Itu adalah kebiasaan yang harus dipupuk sejak dini dan dipertahankan seiring dengan berjalannya waktu. Banyak orang kehilangan semangat saat menghadapi tantangan, tetapi Agus adalah contoh bahwa ketekunan dan kedisiplinan bisa membawa seseorang menggapai puncak.
Seperti sungai yang terus mengalir melewati batu dan rintangan, Agus membuktikan bahwa siapa pun bisa mencapai kesuksesan asalkan tetap bergerak maju tanpa menyerah. Kini, ia berdiri di puncak. Bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai inspirasi bagi banyak orang.
“Leadership itu bukan sekadar memberi perintah. Seorang pemimpin harus berani berkorban dan bisa melayani, bukan sebaliknya. Seperti nakhoda kapal yang harus menyelamatkan anak buahnya lebih dulu saat ada kecelakaan.”
“Dari mana saja kamu? Kok nggak bantu jualan? Mau jadi apa kamu nanti? Makan tuh bola!”