Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Jurus PNM Dorong Perempuan Prasejahtera Naik Kelas

PNM melayani segmen dasar piramida, yakni kaum miskin ekstrem dan golongan rentan. Pembiayaan tanpa agunan dibarengi pendampingan menjadi stimulator bagi kaum prasejahtera untuk naik kelas. Tantangannya tak mudah, termasuk soal menjaga kualitas aset.

Oleh Ari Astriawan

SEPANJANG 2025, sejumlah tantangan menerpa segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk ultra mikro. Tekanan daya beli paling dalam dirasakan masyarakat lapisan bawah, seperti segmen ultra mikro. Tekanan ini bisa berimbas pada kesempatan mereka untuk naik kelas. Jumlah pelaku usaha ultra mikro mencapai puluhan juta. Usaha-usaha skala kecil ini menjadi titik awal lahirnya wirausaha baru, yang bisa naik kelas menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Tak heran bila pemerintah juga punya concern dalam mendorong penguatan segmen ultra mikro. Negara mengambil peran lewat regulasi, program pembiayaan khusus, dan kebijakan sosial ekonomi. Perusahaan pelat merah, seperti Permodalan Nasional Madani (PNM), menjadi salah satu ujung tombak pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro. Segmen ini tak hanya soal akses pembiayaan, tapi juga butuh intervensi khusus. Mitigasi risiko dalam membiayai masyarakat unbanked juga harus dicermati.

PNM misalnya, mengandalkan PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) sebagai program pembiayaan modal bagi kalangan perempuan prasejahtera pelaku ultra mikro. Pembiayaan tanpa agunan ini dikombinasikan dengan pendampingan usaha dan pembentukan disiplin keuangan. Model group lending dipilih sebagai mitigasi risiko dan membangun solidaritas sosial.

Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, mengatakan, sejak diluncurkan 10 tahun lalu, Mekaar menjadi perpanjangan tangan PNM sebagai stimulator sekaligus akselerator ekonomi bawah. Dalam satu dasawarsa, program ini sudah menjangkau 22,7 juta perempuan pelaku ultra mikro. Nasabah PNM tersebar hingga daerah-daerah 3T di 36 provinsi di Indonesia, dan sekitar 87% berada di daerah rural. Total ada lebih dari 943.000 kelompok yang menerima group lending dari PNM.

“Dalam satu dasawarsa ini kami sudah bisa membantu pembiayaan dan pendampingan pada 22,7 juta perempuan prasejahtera pelaku ultra mikro. Total rupiah yang kami salurkan Rp370,70 triliun. Kalau untuk perbankan mungkin kecil, tapi ini menyentuh 22,7 juta perempuan di Indonesia. Per November 2025 kemarin, nasabah aktif kami sekitar 16,3 juta. Ada 1,8 juta nasabah yang berhasil naik kelas menjadi nasabah BRI atau Pegadaian,” ujar Arief kala ditemui Infobank, Desember lalu.

Dalam holding BUMN Ultra Mikro (UMi), PNM menjalankan peran strategis sebagai gerbang awal inklusi keuangan. Di ekosistem pembiayaan berjenjang, PNM menjadi pengumpan (feeder), sebelum nasabah terhubung dengan layanan Pegadaian atau perbankan, yakni BRI sebagai induk Holding BUMN Ultra Mikro. PNM memungkinkan pelaku ultra mikro yang belum bankable mendapat akses permodalan sekaligus pendampingan. Dengan begitu, produktivitas mereka dapat ditingkatkan dan bisa naik kelas.

PNM juga memberikan dukungan bagi nasabah terdampak bencana, termasuk banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang terjadi pada November lalu. Arief menyebut ada sekitar 920.000 nasabah Mekaar di tiga provinsi itu yang terdampak. PNM menyiapkan langkah relaksasi sesuai dengan aturan dari regulator. Tahap awal, PNM memberlakukan henti (freeze) pembayaran selama satu bulan.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, di salah satu wilayah terdampak bencana di Sumatra Barat menegaskan, nasabah PNM Mekaar yang menjadi korban bencana akan mendapatkan keringanan berupa penangguhan pembayaran cicilan untuk sementara waktu. Selain penangguhan cicilan, Andre menyebut akan mengupayakan bantuan modal tambahan atau skema restrukturisasi pinjaman. Dengan begitu, masyarakat bisa memiliki modal awal untuk kembali membuka usaha mereka.

Terlepas dari itu, dari sisi kinerja keuangan, di tengah tekanan yang dialami segmen UMKM, PNM tetap mampu membukukan kinerja positif. Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), per Juni 2025, PNM mengantongi laba Rp885,91 miliar, meningkat 6,66% secara year on year (yoy). Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan bunga dan syariah yang tumbuh 4,06% atau menjadi Rp7,62 triliun. Sementara, ekuitas makin tebal dengan kenaikan 15,75% atau menjadi Rp11,46 triliun. Di paruh pertama 2025, PNM tercatat memiliki total aset Rp56,06 triliun.

Tak heran bila pemerintah juga punya concern dalam mendorong penguatan segmen ultra mikro. Negara mengambil peran lewat regulasi, program pembiayaan khusus, dan kebijakan sosial ekonomi. Perusahaan pelat merah, seperti Permodalan Nasional Madani (PNM), menjadi salah satu ujung tombak pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro. Segmen ini tak hanya soal akses pembiayaan, tapi juga butuh intervensi khusus. Mitigasi risiko dalam membiayai masyarakat unbanked juga harus dicermati.

PNM misalnya, mengandalkan PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) sebagai program pembiayaan modal bagi kalangan perempuan prasejahtera pelaku ultra mikro. Pembiayaan tanpa agunan ini dikombinasikan dengan pendampingan usaha dan pembentukan disiplin keuangan. Model group lending dipilih sebagai mitigasi risiko dan membangun solidaritas sosial.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Januari 2026

Rp 65.000

BELI