Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019
AIR mata di Sumatra mewarnai penutupan kalender 2025. Suasana penuh duka dialami ratusan ribu atau bahkan lebih dari sejuta masyarakat yang menjadi korban atau terdampak banjir bandang dan tanah longsor di sebagian wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Banyak dari mereka yang kehilangan harta, kerabat, bahkan nyawa. Saat saya membuat tulisan ini per 23 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 1.112 jiwa, 176 orang hilang, dan 7.000 orang mengalami luka-luka.
Bencana alam sering dipandang sebagai sebuah kehancuran yang disebabkan oleh fenomena alam. Namun, bencana alam juga perlu dipandang sebagai tanda kehidupan yang kompleks. Di sana ada pengingat, pelajaran, dan introspeksi. Dari kacamata religi, orang dapat melihat bencana alam sebagai teguran atas rasa ketidakadilan atau perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Orang-orang bijak sudah lama memberi pesan bahwa manusia dan hewan adalah bagian dari alam, bukan sesuatu yang terpisah. Menjaga harmonisasi dengan alam pun menjadi cara manusia paling fundamental untuk mempertahankan kehidupan. Sebab, manusia sangat bergantung sepenuhnya pada sumber daya alam dan ekosistem yang sehat untuk kelangsungan hidup, mulai dari udara, angin, air bersih, pangan, obat-obatan, bahan baku, hingga tempat untuk tinggal.
Maka dari itu, sudah seharusnya manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya dan mencegah eksploitasi berlebihan. Seperti halnya matahari yang memancarkan sinar tanpa meminta imbalan, demikian juga hutan dan sungai yang tidak meminta apa-apa dari manusia. Dia hanya butuh kesederhanaan, sebagaimana dikatakan ilmuwan penemu teori gravitasi, Sir Isaac Newton (1643 1727), “nature is pleased with simplicity”.
Founding father India, Mahatma Gandhi (1869-1948), juga mengatakan, alam sebagai sumber daya cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk keserakahannya. Dan, hampir 2000 tahun sebelumnya, filsuf asal Spanyol, Seneca, juga sudah mengingatkan, “If you live in harmony with nature, you will never be poor; if you live according what others think, you will never be rich.”
“If you live in harmony with nature, you will never be poor; if you live according what others think, you will never be rich.”
Alam adalah cerminan diri, perilaku spiritual, dan sumber inspirasi kepemimpinan. Ada pengendalian diri, tanggung jawab, ketulusan, dan keberlanjutan. Alam juga menawarkan tantangan yang menguji kapasitas manusia untuk mengatasinya pada saat alam mengalami krisis besar semisal bencana alam di Sumatra. Seperti kata motivator Kanada-Amerika Serikat, Brian Tracy, “The true test of leadership is how well you function in a crisis.”
Alam pun mengajarkan kesederhanaan dan tindakan kecil namun berdampak besar. Seperti kata Admiral William H. McRaven, melalui bukunya berjudul The Wisdom of the Bullfrog: Leadership Made Simple (But Not Easy), yang mengatakan pola kepemimpinan harus dimulai dari tindakan kecil, integritas, ketahanan, dan kerja tim. Kata-katanya yang terkenal, "jika Anda ingin mengubah dunia, mulailah dengan merapikan tempat t idur Anda. Jika Anda tidak dapat melakukan hal-hal kecil dengan benar, Anda tidak akan pernah melakukan hal-hal besar dengan benar".
Untuk menjaga harmonisasi kehidupan dengan alam, juga sangat dibutuhkan kesadaran dan t indakan-tindakan kecil yang nyata, seperti menghemat energi dan air, jangan menebang pohon sembarangan, menanam pohon, memilah sampah, hingga mengurangi penggunaan plastik dan kendaraan bermotor.
Tentu, yang paling penting lagi adalah kesadaran dan tindakan dari seorang pemimpin. Karena pemimpin adalah orang yang tindakannya memengaruhi nasib orang banyak, maka dia yang paling bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang sudah atau akan terjadi. Sehingga, ketika ada tindakan keliru dari seorang pemimpin, dia harus berani meminta maaf karena tidak ada manusia yang sempurna. When you have done something wrong, admit it and be sorry. No one in history has ever choked to death from swallowing their pride.
Tulisan ini saya tutup dengan kutipan seorang pengusaha dan aktivis asal Amerika Serikat, Carine McCandless, “that’s the purity of nature. It may be harsh in its honesty, but it never lies to you”. Alam mengajarkan kejujuran, ketulusan, dan kesederhanaan. Kita tidak sedang mewarisi bumi dari pendahulu kita. Tapi, meminjamnya dari generasi mendatang. Segala tindakan yang kita ambil hari ini akan berdampak langsung pada kehidupan generasi mendatang.
Bencana alam sering dipandang sebagai sebuah kehancuran yang disebabkan oleh fenomena alam. Namun, bencana alam juga perlu dipandang sebagai tanda kehidupan yang kompleks. Di sana ada pengingat, pelajaran, dan introspeksi. Dari kacamata religi, orang dapat melihat bencana alam sebagai teguran atas rasa ketidakadilan atau perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab.