Dia adalah potret bankir yang ditempa kerasnya hidup, yang menjadikan pengalaman sebagai pelajaran tentang kejujuran, integritas, dan kerja keras. Baginya, nilai-nilai itu bukan sekadar teori, tapi kompas hidup yang terus digenggamnya.
Ricardo Simatupang; Pengalaman dan kebijaksanaan
PENGALAMAN merupakan salah satu aset berharga bagi seorang bankir. Kemampuan menavigasi perusahaan di tengah kondisi sulit, membaca ceruk pasar yang belum tergarap, hingga memberdayakan sumber daya manusia (SDM) secara optimal tidak bisa dipelajari hanya dari buku teks. Dalam banyak situasi, pengalaman dan kebijaksanaan justru menjadi guru terbaik.
Ricardo Simatupang, Direktur Utama BPR Daya Perdana Nusantara, adalah gambaran nyata tentang bagaimana pengalaman panjang dan kebijaksanaan berpadu. Di usianya yang sudah memasuki tujuh dekade, ia memilih untuk menggunakan seluruh pengetahuan dan kepiawaiannya untuk membimbing dan membina generasi bankir berikutnya, khususnya di industri perbankan mikro.
Perjalanan Ricardo sebagai bankir dimulai dari titik nol. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kerja keras dan ketekunan. Lahir di Jakarta pada 1955, Ricardo merupakan keturunan Batak Toba. Sang ayah, seorang perantau, berkarier sebagai bankir di Bank Negara Indonesia (BNI) sejak 1965. Dan, dari sanalah awal mula perkenalan Ricardo dengan dunia perbankan.
Namun, perjalanan hidup Ricardo tak sepenuhnya mulus. Ayahnya wafat saat Ricardo berusia 15 tahun, meninggalkan istri dan delapan anak. Keteladanan sang ayah semasa bekerja di BNI membuat keluarga Simatupang diperkenankan menempati beberapa kamar losmen milik perusahaan di kawasan Pejompongan. Sang ibu kemudian memikul tanggung jawab besar untuk menyekolahkan semua anaknya hingga jenjang sarjana.
“Ibu saya perjuangannya tidak main-main. Karena tidak punya pekerjaan, kami sembilan orang cuma pakai dua kamar saja. Kamar sisanya disewakan jadi kos-kosan. Selain itu, ibu saya juga menerima cucian, tapi tidak pakai pembantu. Semua dia cuci sendiri,” kenang Ricardo saat ditemui di kantornya, bulan lalu.
Beban finansial yang meningkat membuat sang ibu makin kesulitan untuk membiayai kuliah anakanaknya. Termasuk Ricardo, yang saat itu sedang berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya. Demi mengurangi beban itu, Ricardo diminta ibunya untuk bekerja sambil kuliah.
Anak ketiga dari delapan bersaudara ini diutus untuk menemui atasan sang ayah semasa bekerja di BNI dulu, yang waktu itu sudah menjadi direksi Bank DKI (kini Bank Jakarta). Dengan harapan, beliau mau menerima Ricardo untuk bekerja di bawah arahannya. Lagi- lagi, keteladanan sang ayah membuat sosok ini yakin untuk menerima Ricardo bekerja di Bank DKI.
Karier Ricardo di industri perbankan diawali di kantor cabang pembantu (KCP) kecil yang hanya berisikan enam orang. Namun, tempat itu merupakan permulaan yang ideal baginya untuk menimba ilmu dan belajar tentang seluk-beluk perbankan. “Karena kantor cabang pembantu itu biasanya kecil ‘kan, jadi saya bisa belajar banyak. Dan, karena itu pengalaman pertama, sampai hari ini, saya masih ingat orang-orang yang ada di sekitar saya,” lanjutnya.
Dari lingkungan sederhana itulah, nilai-nilai dasar seorang bankir, seperti kejujuran, kerja keras, dan integritas, tertanam kuat dalam diri Ricardo. Kariernya kemudian berkembang. Ia pun dipercaya bekerja di kantor pusat Bank DKI, belajar langsung dari para senior, serta mengikuti berbagai pelatihan bersama bankir legendaris seperti Abdul Gani dan Robby Djohan.
Perjalanan Ricardo di Bank DKI berakhir setelah ia menikah. Menemukan kisah cinta di sana, ia memutuskan memberi ruang bagi istrinya untuk berkarier di Bank DKI. Ricardo sendiri memilih melanjutkan kiprahnya di bank lain. Bank Duta dan Bank Bukopin menjadi bagian penting selanjutnya dari fase pembentukan kemampuannya sebagai bankir profesional.
|
“Menurut saya, masa depan BPR itu sesungguhnya keren. Tinggal kita melihat bahwa tidak ada yang melarang kita (pelaku BPR) menjadi besar dan menjadi canggih. Kalau begitu caranya, ayo kita bikin seperti itu, dengan dukungan dari semua stakeholders.” |
Hampir dua dekade berkiprah di bank umum, tantangan baru datang pada periode krisis 19971998. Ricardo dipercaya memimpin holding BPR Nusantara Bona Pasogit (NBP), yang kala itu membawahkan 32 BPR di Sumatra Utara dan Jawa Barat. Kepercayaan pemegang saham bertumpu pada rekam jejak dan keteladanannya selama bertahun-tahun di industri perbankan.
Fokus pertamanya adalah membangun SDM. Ricardo bahkan mengarantina karyawan BPR NBP di sebuah hotel selama tiga bulan penuh untuk mempelajari perbankan dari dasar. Keputusan ini sempat menuai resistansi dari pemegang saham, tapi ia bersikukuh bahwa investasi pada SDM adalah fondasi jangka panjang.
“Can you imagine, tiga bulan di hotel cuma buat belajar? Pemilik BPR sampai mengundang saya untuk membicarakan ini. Dia tanya, ‘Kenapa lama sekali? Apa nggak rugi kita?’ Saya jawab dengan sopan, kalau kita tidak lakukan hari ini, maka rugi kita nanti akan lebih besar. Jadi, bagusnya kita lakukan sekarang,” ujarnya.
Pada 2004, Ricardo pamit dari BPR NBP, kemudian berlabuh di BPR Daya Perdana Nusantara. Seperti di tempat sebelumnya, Ricardo pun harus memulai membangun bank rural ini dari nol. Namun, berkat kesabaran dan ketekunannya, BPR Daya Perdana Nusantara terus tumbuh dan mencatatkan kinerja positif. Per September 2025, aset BPR ini menyentuh angka Rp172,29 miliar.
Pria yang pada April 2026 akan berusia 71 tahun ini percaya bahwa SDM kelas wahid adalah tulang punggung kesuksesan sebuah perusahaan. Di BPR Daya Perdana Nusantara, Ricardo juga dengan serius mengajarkan segala pengetahuan yang diperlukan industri ini, termasuk pentingnya menegakkan integritas dan kejujuran dalam bekerja.
Sesekali ia membagikan ilmu dan pengalamannya ke sesama pelaku industri, melalui berbagai forum seperti rapat organisasi atau yang lainnya. Dan, meski memiliki segudang pengalaman di sabuknya, Ricardo tetap tekun mempelajari halhal baru seputar bank rural.
Ricardo juga terus mendalami peran teknologi seperti artificial intelligence (AI) terhadap perusahaannya. Baginya, digitalisasi adalah sebuah konsep yang tidak bisa dihindari bagi BPR yang hendak melangkah lebih jauh. Ke depan, sang nakhoda kapal pun sudah mempersiapkan rencana untuk mengeluarkan aplikasi perbankan guna mempermudah nasabah mengakses layanan BPR kapan saja dan di mana saja.
Dengan tata kelola yang baik, penguatan SDM, dan dukungan teknologi, Ricardo yakin, bank rural memiliki peluang besar untuk tumbuh dan bertransformasi. “Menurut saya, masa depan BPR itu sesungguhnya keren. Tinggal kita melihat bahwa tidak ada yang melarang kita (pelaku BPR) menjadi besar dan menjadi canggih. Kalau begitu caranya, ayo kita bikin seperti itu, dengan dukungan dari semua stakeholders,” pesan Ricardo.
Bagi dia, pengalaman bukan untuk disimpan, melainkan diwariskan dan dimanfaatkan. Ricardo telah melakukannya, memanfaatkan pengalaman dan kebijaksanaan untuk masa depan industri yang lebih cerah.
Ricardo Simatupang, Direktur Utama BPR Daya Perdana Nusantara, adalah gambaran nyata tentang bagaimana pengalaman panjang dan kebijaksanaan berpadu. Di usianya yang sudah memasuki tujuh dekade, ia memilih untuk menggunakan seluruh pengetahuan dan kepiawaiannya untuk membimbing dan membina generasi bankir berikutnya, khususnya di industri perbankan mikro.