Memasuki 2026, perbankan menjadi jangkar optimisme pasar berkat likuiditas, fundamental kuat, dan tata kelola yang terjaga. Indeks infobank15 menangkap pergeseran ini dengan menyeleksi bank yang adaptif dan kredibel, menjadikan optimisme lebih terukur dan berkelanjutan.
MEMASUKI 2026, sektor perbankan kembali menjadi poros optimisme pasar keuangan nasional. Setelah periode ketidakpastian akibat tensi geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, dan dinamika suku bunga, perbankan justru muncul sebagai sektor yang paling cepat menemukan keseimbangan. Meski ekspektasi pertumbuhan tidak lagi seagresif fase pemulihan pascapandemi, pasar kini bergerak lebih realistis dengan menekankan stabilitas, kualitas fundamental, dan keberlanjutan kinerja.
Ketahanan sektor perbankan tecermin dari kemampuannya menjaga likuiditas, kualitas aset, serta stabilitas laba di tengah tekanan eksternal. Kondisi ini menggeser persepsi investor bahwa perbankan bukan lagi sekadar sektor siklikal, melainkan jangkar stabilitas dalam pasar yang makin selektif. Perbaikan regulasi, penguatan manajemen risiko, serta tata kelola yang baik membuat industri perbankan Indonesia dinilai lebih kredibel dan siap menghadapi dinamika global.
Pasar modal Indonesia pasca 2025 juga memasuki fase pendewasaan. Reli berbasis euforia dan sentimen jangka pendek mulai tergantikan oleh seleksi berbasis fundamental dan likuiditas. Investor kian rasional, meninggalkan saham dengan narasi besar tapi kinerja rapuh, dan beralih ke emiten dengan model bisnis jelas serta arus kas berkelanjutan. Dalam konteks ini, sektor perbankan menawarkan transparansi, keterbukaan risiko, dan likuiditas tinggi yang relevan di tengah volatilitas global.