THR kerap dianggap penyelamat keuangan Lebaran. Jika tidak dikelola dengan bijak, uang tambahan ini bisa lenyap dalam waktu singkat. Di balik euforia hari raya, banyak keputusan finansial kecil yang diam-diam menjadi beban panjang setelah Lebaran usai.
Sumber: Istimewa
TUNJANGAN hari raya (THR) kerap dianggap sebagai “uang durian runtuh”. Datangnya setahun sekali, jumlahnya terbilang besar, maka tak jarang orang menghabiskannya tanpa banyak pertimbangan. Tak heran, begitu Lebaran usai, keluhan yang sama kembali muncul: tabungan tak bertambah, cicilan meningkat, dan arus kas bulanan makin seret.
Masalahnya bukan pada besaran THR, melainkan pada cara pandang. Banyak orang sudah lebih dulu berbelanja karena yakin THR cair. Ketika THR pada akhirnya keluar dan benar-benar masuk rekening, dana itu tidak digunakan untuk menutup pengeluaran sebelumnya, melainkan dihabiskan untuk konsumsi lanjutan karena dianggap sebagai “uang ekstra”. Siklus ini membuat THR kehilangan fungsi: harusnya sebagai penopang keuangan.
Kesalahan pengelolaan THR jadi makin berisiko ketika dikombinasikan dengan cicilan. Kebutuhan Lebaran seperti mudik, konsumsi, dan gaya hidup hari raya bersifat sementara, hanya berlangsung beberapa minggu. Tapi, ketika dibiayai dengan cicilan, beban yang muncul justru mengikat dompet dalam jangka panjang. Ruang untuk menabung, menyiapkan dana darurat, atau menghadapi kebutuhan tak terduga pun menyempit.