Sumber: Istimewa
KETIKA berlibur bersama istri ke Turki pada akhir 1980-an atau awal 1990-an, saya merasakan bagaimana kurs mata uang bisa membingungkan wisatawan asing. Hal itu sudah dirasakan sejak mendarat di Bandara Istanbul: koin untuk menyewa troli untuk membawa bagasi ditebus seharga 2.000.000 lira, sebotol air mineral 750.000 lira, yang sebenarnya masing-masing hanya senilai US$1 atau Rp2.000 dan US$0,375 atau Rp750 saat itu.
Bahkan, menjelang pulang, kegamangan masih sangat tinggi ketika akan menandatangani slip kartu kredit untuk pelunasan hotel. Bolak-balik pinjam kalkulator dari kasir, mengelap keringat, bingung melihat tagihan hotel yang mencapai miliaran lira – apa benar semahal ini? Padahal, 2.000.000 lira hanya US$1. Dan, plafon Diners saya, kartu kredit paling populer di Indonesia masa itu, mungkin sekitar Rp10.000.000.