Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menapaki Jalan Penuh Amanah Milik Sang Rasul

Bermimpi menjadi pedagang, ia justru menemukan jalan hidup sebagai bankir. Dengan fondasi Islam yang kuat, bankir satu ini terus mengembangkan bisnis BPRS dengan meneladani ajaran Nabi Muhammad saw. yang berbasis kepercayaan, serta diyakini membawa berkah bagi sesama.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

“SEBAIK-BAIKNYA manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis Rasulullah saw., yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ahmad ini, menjadi pengingat bagi umat Islam. Bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta atau jabatan, melainkan dari kontribusi positif yang diberikan kepada sesama.

Ajaran itu pun dijadikan pegangan hidup oleh Edi Sunarto, bankir yang hampir dua dekade mengemban dan menjalankan amanah sebagai Direktur Utama BPRS Barokah Dana Sejahtera (BDS). Perjalanan kariernya di dunia perbankan syariah diwarnai dengan nilai-nilai kebaikan terhadap sesama, serta upaya menghadirkan maslahat bagi lingkungan sekitar.

Lahir pada 1965, Edi merupakan putra asli Yogyakarta. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini tumbuh besar di keluarga sederhana, di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sang ayah berprofesi sebagai kepala sekolah dasar, sementara sang ibu sebagai ibu rumah tangga.

Latar belakang keluarga yang pendidik, tak heran bila kakak dan adiknya memilih untuk mengikuti jejak sang ayah, sebagai pengajar. Namun, tidak dengan Edi. Ia justru menempuh arah yang berbeda. Sejak awal, ia sangat tertarik pada dunia perdagangan. Tamat SMA, Edi pun mantap melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), demi mengejar keinginannya berkecimpung di bidang itu.

“Enam saudara saya yang lain semuanya berkuliah di jurusan yang berkaitan dengan guru. Sementara, saya itu tidak mau jadi guru. Saya lebih ingin jadi pedagang,” kenang Edi saat dihubungi Infobank.

Edi menempuh pendidikan di UGM enam tahun, dari 1984 hingga 1990. Selama kuliah, ia aktif dalam berbagai organisasi berbasis Islam, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pemuda Muhammadiyah. Dari aktivitas itu, nilai-nilai agama Islam makin terbentuk dan perlahan melekat dalam dirinya, menjadi kompas moral dalam menjalani kehidupan.

Lulus dari UGM, Edi mendapat wejangan dari seorang tokoh spiritual untuk tetap bekerja di Yogyakarta dan turut berkontribusi mengembangkan perekonomian daerah. Ia sempat meniti karier di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga percetakan. Pemilik gelar magister manajemen dari Universitas Ahmad Dahlan ini kemudian menemukan jalannya di bidang yang masih bersinggungan dengan dunia perdagangan, yakni perbankan syariah.

Pada 1994, Edi resmi bergabung dengan BPRS Bangun Drajat Warga (BDW), yang kala itu baru memperoleh izin operasional. Dalam waktu empat tahun, kinerjanya berhasil menarik perhatian pemegang saham, hingga ia dipercaya mengemban amanah sebagai direktur. Tapi, setelah enam tahun menjabat, Edi memutuskan untuk mencari tantangan baru di industri keuangan syariah.

Perjalanan itu tidak selalu mulus, tidak juga selalu bergelombang. Pun yang dialami Edi. Setelah sempat mengalami penolakan ketika melamar sebagai direksi di sejumlah BPRS lain, Edi justru mendapat tawaran untuk membentuk bank rural syariah baru, yakni BPRS BDS. Setelah melalui berbagai proses, Bank Indonesia (BI) akhirnya meresmikan BPRS BDS pada Oktober 2007. Edi pun dipercaya memimpin bank yang baru saja lahir itu.

Saat itu, usia Edi baru menginjak 42 tahun, relatif muda untuk memimpin sebuah institusi keuangan. Meski demikian, sosok yang gemar bersepeda ini mensyukuri amanah yang diterimanya. Ia merefleksikan perjalanan hidup yang telah dilalui hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi direktur utama, sebuah proses yang ia maknai sebagai bentuk kematangan. Mirip kisah Nabi Muhammad saw.

“Ketika perpindahan saya ke BPRS BDS, saya baru berusia 42 tahun. Saya melihat, Rasulullah saw. diangkat sebagai nabi pada usia 40 tahun. Banyak orang mengatakan, usia 40 tahun itu sudah menginjak usia kedewasaan dan kematangan seseorang. Tapi, kalau saya, di umur 42 tahun malah baru mulai di BDS. Saya melihat, ini kaitan dengan kematangan karier,” kata Edi.

“Saat berdagang, Rasulullah saw. sangat dikenal dengan sifat ‘Al-Amin’ atau dapat dipercaya. Ini yang kemudian kami lakukan, yaitu untuk dapat dipercaya dan memperoleh trust dari masyarakat. Untuk itu, kami harus ambil peran dalam banyak aktivitas sosial di masyarakat, sebagaimana konsep keuangan berkelanjutan.”

Penunjukan Edi sebagai pemimpin BPRS BDS terbukti tepat. Perlahan namun konsisten, BPRS yang berbasis di pusat Kota Yogyakarta ini kemudian menjelma menjadi salah satu bank rural syariah yang diperhitungkan, dengan kinerja yang terus tumbuh positif dari tahun ke tahun.

Sebagai pemimpin lembaga keuangan berbasis syariah, Edi menjalankan bisnis dengan fondasi nilai-nilai Islam yang kuat. Dalam mengejar target perusahaan, ia selalu menekankan pentingnya menjaga kesehatan, keseimbangan hidup, serta tidak melupakan ibadah. Baginya, Allah Swt. telah menetapkan porsi rezeki masing-masing pada setiap hamba-Nya.

Dalam menjalani peran sebagai bankir, sosok yang aktif di bidang pengembangan ekonomi syariah ini memang banyak mengambil inspirasi dari Nabi Muhammad saw. ketika masih berprofesi sebagai pedagang. Meski berbeda konteks, kedua profesi itu sama-sama bertumpu pada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, reputasi seorang pedagang maupun bankir tidak akan berarti.

“Saat berdagang, Rasulullah saw. sangat dikenal dengan sifat ‘Al-Amin’ atau dapat dipercaya. Ini yang kemudian kami lakukan, yaitu untuk dapat dipercaya dan memperoleh trust dari masyarakat. Untuk itu, kami harus ambil peran dalam banyak aktivitas sosial di masyarakat, sebagaimana konsep keuangan berkelanjutan,” tegas Edi.

Tahun 2025 menjadi periode yang tidak mudah bagi industri BPRS. Turbulensi ekonomi membuat kinerja sejumlah bank rural syariah tertahan. Tapi, dengan nilai-nilai yang ditanamkan sejak awal kepemimpinannya, Edi mampu menavigasi BPRS BDS melewati masa sulit. Hingga kuartal ketiga 2025, aset BPRS BDS tercatat Rp257,84 miliar.

Memasuki 2026, tantangan diperkirakan masih berlanjut mengingat gejolak ekonomi yang masih berlangsung. Meski begitu, Edi tetap memandang masa depan dengan optimisme yang realistis. Baginya, selalu ada peluang yang bisa digarap jika dijalani dengan ikhtiar dan keyakinan.

“Kami harus optimistis menghadapi situasi ini. Allah Swt. mengajarkan kita untuk optimistis, tapi juga realistis. Semangat ini yang kemudian membuat kami melihat, ternyata peluang itu masih banyak. Meskipun ada kontraksi ekonomi, tapi di lain sisi peluang masih tetap ada. Ke depan, kami akan melakukan kolaborasi sinergi dengan masyarakat, lembaga, dan jaringan di sekitar BDS,” jelasnya.

Perjalanan Edi di dunia perbankan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah, merawat kepercayaan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan fondasi nilai-nilai yang ia pegang teguh, Edi telah menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah BPRS akan bergantung pada kejujuran, ketulusan, serta komitmen untuk terus berjalan bersama masyarakat yang dilayani.

Ajaran itu pun dijadikan pegangan hidup oleh Edi Sunarto, bankir yang hampir dua dekade mengemban dan menjalankan amanah sebagai Direktur Utama BPRS Barokah Dana Sejahtera (BDS). Perjalanan kariernya di dunia perbankan syariah diwarnai dengan nilai-nilai kebaikan terhadap sesama, serta upaya menghadirkan maslahat bagi lingkungan sekitar.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Maret 2026

Rp 65.000

BELI