Jelang Lebaran, pembiayaan dana tunai kembali menguat dan jadi penopang pertumbuhan industri di tengah perlambatan pembiayaan otomotif. Tapi, di balik momentum musiman itu, risiko setelah hari raya tetap perlu diantisipasi supaya pertumbuhan tak berujung pada kenaikan NPF dan hanya bersifat short lived.
Sumber: Istimewa
MENJELANG Idulfitri, denyut industri pembiayaan kembali menguat. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan pertumbuhan pembiayaan otomotif yang melambat, segmen multiguna, khususnya dana tunai, kembali menjadi motor penggerak. Kebutuhan mudik, belanja kebutuhan pokok, renovasi rumah, hingga tambahan modal usaha kecil mendorong lonjakan permintaan likuiditas cepat dengan proses yang relatif fleksibel. Dalam siklus tahunan industri, fase ini hampir selalu menjadi periode panen.
Satu hingga dua bulan menjelang hari raya, penawaran dana tunai dengan jaminan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) atau aset lainnya makin agresif. Proses persetujuan yang lebih ringkas dan pencairan cepat menjadi daya tarik utama, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dana instan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan konsumsi.
Tapi, di balik euforia penyaluran itu, tersimpan risiko yang membayangi kenaikan kredit bermasalah pascaLebaran. Pengalaman tahuntahun sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan pembiayaan menjelang hari raya hampir selalu diikuti tekanan pada kualitas aset beberapa bulan setelahnya. Rasio kredit bermasalah atau non performing financing (NPF) cenderung merangkak naik ketika kemampuan bayar debitur tergerus oleh beban konsumsi yang membengkak selama Ramadan dan Idulfitri.
Di sinilah dilema industri muncul. Dana tunai menjadi penopang pertumbuhan ketika pembiayaan kendaraan bermotor belum pulih benar. Tapi, agresivitas tanpa disiplin manajemen risiko dapat berujung pada lonjakan NPF yang menggerus profitabilitas.
Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengingatkan agar momentum kenaikan permintaan dana tunai menjelang Lebaran tidak membuat perusahaan pembiayaan lengah dalam menjaga kualitas aset. Ketua APPI, Suwandi Wiratno, menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian, terutama di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. “Di dalam proses approval-nya itu harus benar-benar dilihat kemampuan debitur, sehingga kualitas daripada portofolionya bisa tetap sehat,” tekannya kepada Infobank. Ia juga mengingatkan pelaku multifinance untuk tidak asal menyalurkan pembiayaan demi mengantisipasi lonjakan risiko pascaLebaran.
Optimisme pelaku industri terhadap penguatan dana tunai menjelang Lebaran tahun ini terbaca dari sikap Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Perusahaan pembiayaan satu ini menilai momentum musiman tetap relevan sebagai sumber pertumbuhan, meski dibarengi kewaspadaan terhadap risiko pascahari raya.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menyebut peningkatan permintaan sebagai pola tahunan yang kembali terulang. “Menjelang Lebaran, permintaan pembiayaan dana tunai umumnya meningkat, dan tahun ini kami juga memproyeksikan tren pertumbuhan yang positif,” ucapnya.
Selama 2025, total pembiayaan baru Adira Finance, termasuk konsolidasi, mencapai Rp43,2 triliun atau tumbuh 18% secara tahunan. Pertumbuhan itu ditopang seimbang oleh segmen otomotif dan nonotomotif, termasuk dana tunai yang kembali menunjukkan peran strategisnya.
Meski demikian, ekspansi dilakukan secara terukur. Adira Finance menerapkan pendekatan tersegmentasi sesuai risk appetite dengan fokus pada nasabah existing yang memiliki rekam jejak pembayaran baik. Untuk nasabah baru, proses underwriting diperketat melalui verifikasi lebih komprehensif. Penguatan fungsi collection, pemanfaatan digitalisasi, credit scoring, serta early warning system menjadi instrumen penting dalam menjaga kualitas pembiayaan. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, tren NPF Adira Finance diklaim tetap berada di bawah ratarata industri. Ini menjadi indikasi bahwa pertumbuhan masih berada dalam koridor risiko yang terkendali.
Sikap berbeda ditunjukkan CIMB Niaga Finance (CNAF). Di tengah tekanan makroekonomi yang membayangi awal 2026, perusahaan pembiayaan ini memilih pendekatan lebih konservatif. Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menilai pola musiman tetap ada, tapi daya dorongnya tidak sekuat tahuntahun sebelumnya.
“Tekanan makroekonomi cukup berat, sehingga pertumbuhan tidak akan agresif dan permintaan dana tunai diperkirakan sama atau bahkan lebih rendah dari tahun lalu,” nilai Ristiawan.
CNAF mengakui bahwa secara historis terdapat kenaikan NPF yang bersifat musiman pascaLebaran. Karena itu, seleksi nasabah diperketat sebelum periode hari raya melalui credit scoring, pengecekan biro kredit, serta integrasi teknologi dalam underwriting. Early warning system dioptimalkan untuk memantau kualitas pembiayaan baru, sementara langkah preventif dilakukan bahkan sebelum libur panjang dimulai. Termasuk mengimbau pembayaran angsuran lebih awal melalui kanal digital dan teknologi telepon otomatis.
Data industri juga memperlihatkan dinamika yang sejalan dengan pola musiman itu. Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), pada periode Ramadan, yang tecermin dalam data Maret 2025, total piutang pembiayaan industri, yang mencakup seluruh segmen termasuk otomotif, multiguna, dan lainnya, mencapai Rp510,96 triliun. Tumbuh 4,60% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp488,51 triliun. Kenaikan itu menunjukkan bahwa secara agregat, aktivitas pembiayaan memang meningkat menjelang Idulfitri, meskipun tidak seluruhnya berasal dari dana tunai.
Sementara itu, periode Mei 2025 yang merefleksikan kondisi pascaLebaran menunjukkan dinamika pada kualitas pembiayaan industri secara umum. Rasio NPF pada Maret 2025 tercatat 2,71%, naik dari 2,45% pada Maret 2024. Namun, pada Mei 2025, NPF berada di level 2,57%, lebih rendah dibandingkan dengan Mei 2024 sebesar 2,77%. Artinya, meskipun terdapat tekanan risiko setelah periode Lebaran, kualitas pembiayaan industri secara keseluruhan masih relatif terjaga.
Dapat disimpulkan, dana tunai memang menguat menjelang Lebaran dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri pembiayaan. Tapi, tantangan sesungguhnya justru muncul setelah hari raya, ketika kemampuan bayar debitur kembali diuji. Bagi multifinance, pertumbuhan bukan hanya soal seberapa besar pembiayaan disalurkan, tapi juga seberapa baik kualitasnya dijaga. Dana tunai boleh meningkat, tapi kewaspadaan terhadap risiko pascahari raya tetap harus menjadi prioritas.
Di tengah perlambatan pembiayaan otomotif dan dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, segmen multiguna, khususnya dana tunai, tetap dapat menjadi opsi strategis bagi perusahaan pembiayaan untuk menjaga pertumbuhan. Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, seleksi nasabah yang tepat, serta dukungan teknologi dalam proses underwriting dan penagihan, pembiayaan dana tunai tidak hanya menjadi solusi jangka pendek saat momentum musiman, tapi juga dapat menjadi pilar pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Satu hingga dua bulan menjelang hari raya, penawaran dana tunai dengan jaminan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) atau aset lainnya makin agresif. Proses persetujuan yang lebih ringkas dan pencairan cepat menjadi daya tarik utama, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dana instan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan konsumsi.