Manuver sekutu AS yang ramai-ramai mendekat ke Tiongkok menunjukkan bahwa kesetiaan kini mudah goyah saat kepentingan ekonomi dipertaruhkan. Negara-negara Barat terlihat makin pragmatis, memilih fleksibilitas dan keuntungan nyata ketimbang bergantung penuh pada satu kekuatan global.
Sumber: Istimewa
SEJAK akhir tahun lalu, negara negara yang selama ini dikenal setia sebagai sekutu Amerika Serikat (AS) tiba-tiba terlihat lebih akrab dengan Tiongkok. Tanpa banyak ragu, para pemimpin dunia itu satu per satu sowan ke Beijing, menemui Presiden Xi Jinping. Ada yang mulai pindah ke lain hati, atau setidaknya sedang mencoba membuka opsi baru di tengah ketidakpastian global.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, Taoiseach Irlandia Michael Martin, Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney, PM Finlandia Petteri Orpo, hingga PM Inggris Keir Starmer sudah lebih dulu bertemu Xi Jinping. Bahkan, Kanselir Jerman Friedrich Merz dijadwalkan menyusul pada akhir Februari lalu. Deretan kunjungan ini jelas bukan kunjungan basa-basi, tapi bagian dari manuver strategis yang serius.
Pertemuan itu sarat agenda ekonomi, perdagangan, dan kerja sama lintas sektor. Inilah yang membuat Donald Trump, Presiden AS, merasa gerah. Bagi Trump, langkah para sekutunya itu dianggap berbahaya dan berpotensi merusak stabilitas aliansi Barat. Ancaman tarif kembali diangkat sebagai senjata utama, termasuk rencana tarif 100% untuk Kanada jika tetap mengeksekusi kesepakatan dagang dengan Tiongkok.