Emas kembali menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian global. Dengan tren harga yang terus naik, logam mulia ini dinilai efektif sebagai lindung nilai dan lebih ideal untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
HARGA emas yang terus mencetak rekor dalam beberapa waktu terakhir membuat logam mulia ini kembali menjadi sorotan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga dunia, emas makin dilirik sebagai instrumen investasi yang relatif aman untuk menjaga nilai kekayaan.
Menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, sejak lama emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai yang kuat terhadap inflasi. Menurutnya, tren harga emas dalam jangka panjang cenderung terus meningkat karena pergerakannya mengikuti kenaikan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
“Logam mulia sejak dulu menjadi instrumen lindung nilai yang ideal karena mengikuti inflasi, bahkan ketika inflasi tinggi harga emas biasanya bergerak di atas inflasi sehingga tren jangka panjangnya terus naik dari tahun ke tahun,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Jika menengok perkembangan dalam lima tahun terakhir, harga emas memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten. Lonjakan besar terjadi pada 2020 saat pandemi COVID-19 memicu ketidakpastian ekonomi global. Harga emas di Indonesia ketika itu untuk pertama kalinya menembus Rp1 juta per gram.
Tren kenaikan kian tajam pada 2024 ketika harga emas melonjak hingga menjadi sekitar Rp1,52 juta per gram. Kenaikan itu berlanjut pada 2025 yang menembus Rp2,5 juta per gram, bahkan sempat mencapai sekitar Rp3 juta per gram di awal Maret 2026.
Kenaikan itu didorong oleh berbagai faktor global, seperti perang geopolitik, ketegangan politik internasional, hingga kebijakan moneter dari bank sentral di berbagai negara. Kondisi ini membuat emas kembali dipandang sebagai aset aman ketika pasar keuangan mengalami volatilitas.
Di lain sisi, minat masyarakat terhadap emas juga kian meningkat. Kalangan peminatnya pun meluas, tidak hanya investor besar tapi juga investor ritel. Hal itu terlihat dari meningkatnya permintaan terhadap emas dengan ukuran kecil, seperti satu gram hingga lima gram, yang lebih terjangkau oleh masyarakat. Kini, pilihan investasi di emas kian beragam. Selain emas fisik, ada emas digital yang dapat dibeli secara bertahap melalui lembaga keuangan.
Namun, Ibrahim mengingatkan, logam mulia seperti emas tidak cocok atau ideal untuk investasi jangka pendek meski harga emas sedang berada di level tinggi. Fluktuasi harga tetap bisa terjadi dalam jangka pendek, terutama ketika harga emas naik tajam akibat sentimen geopolitik atau dinamika pasar global. Investasi emas, katanya, lebih tepat untuk jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga sampai dengan lima tahun, agar dapat merasakan manfaat kenaikan harga yang lebih stabil.
Masyarakat yang baru ingin memulai investasi emas disarankan melakukan pembelian secara bertahap. Membeli emas saat harga mengalami koreksi juga dapat membantu investor memperoleh harga yang lebih optimal. Selain itu, pemilihan jenis emas perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial. Emas fisik tetap menjadi pilihan populer, sementara emas digital menawarkan fleksibilitas karena dapat dibeli mulai dari nominal kecil, dan kemudian dikonversi menjadi gram emas.
Selain tujuan investasi dan jangka waktu penyimpanan, investor perlu memperhatikan tempat pembelian agar keaslian dan keamanannya terjamin. Untuk emas perhiasan, kadar emas juga menjadi faktor penting. Perhiasan dengan kadar tinggi, seperti 24 karat, biasanya lebih mengikuti pergerakan harga emas ketimbang perhiasan dengan kadar rendah yang memiliki biaya pembuatan lebih besar.
Dengan berbagai ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia, emas diperkirakan akan tetap menjadi instrumen investasi yang diminati masyarakat. Selain mudah dicairkan, emas memiliki nilai historis sebagai aset lindung nilai yang mampu bertahan dalam berbagai siklus ekonomi.