Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Mahendra Koesumawardhana, Kepala UUS OCBC Memperkuat Fondasi demi Pertumbuhan

Di tengah tekanan ekonomi dan dinamika industri, UUS OCBC menempatkan kepercayaan nasabah sebagai fondasi utama pertumbuhan. Melalui penguatan layanan terintegrasi dan fokus pada segmen affluent, strategi ini diarahkan untuk menjaga kinerja tetap berkelanjutan.

Oleh Ayu Utami Saraswati
Infobank

Infobank

TAHUN 2025 bukan tahun yang mudah bagi industri perbankan. Tekanan daya beli ditambah dinamika ekonomi global membuat kinerja perbankan kian menantang. Meskipun demikian, Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) tetap mampu menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang tahun lalu.

Harus diakui, pertumbuhan itu belum tentu merefleksikan industri secara umum. Industri perbankan syariah, termasuk UUS OCBC, masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari tekanan profitabilitas, kualitas pembiayaan, hingga dinamika pasar yang terus berubah.

Kepada Infobank, medio April lalu, Mahendra Koesumawardhana, Kepala UUS OCBC, menjelaskan berbagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan tahun ini, mulai dari penguatan segmen affluent, optimalisasi pembiayaan, hingga pengembangan produk digital, guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya di industri. Petikannya:

Pada 2025, DPK UUS OCBC tumbuh 27% menjadi Rp10,9 triliun dengan aset naik 20% menjadi Rp13,2 triliun. Apa faktor utama yang menjadi motor pertumbuhan tersebut di tengah tekanan daya beli?

Jika berbicara tentang pertumbuhan aset, pada 2025 sebagian besar ditopang dari sisi pendanaan. Hal ini juga didukung oleh fokus kami pada pasar affluent, melalui berbagai inisiatif dan diferensiasi program, khususnya di segmen premier banking.

Selain itu, kami memanfaatkan kekuatan layanan OCBC yang tidak hanya terbatas di Indonesia, tetapi juga didukung oleh konektivitas regional, sehingga menjadi daya tarik bagi nasabah. Dalam kondisi ketidakpastian saat ini, salah satu hal yang dicari nasabah adalah ketenangan dan kepercayaan (trust). Oleh karena itu, brand OCBC menjadi salah satu modal penting bagi kami untuk mendapatkan kepercayaan dari nasabah.

Di lain sisi, laba bersih mengalami penurunan. Faktor apa yang menekan profitabilitas, dan bagaimana strategi memperbaiki margin di 2026?

Penurunan profitabilitas ini juga menjadi tantangan di industri secara umum, terutama terkait dengan kualitas nasabah pembiayaan yang perlu dijaga. Fenomena ini tidak hanya terjadi di industri syariah, tetapi juga di bank konvensional dan sektor lain seperti multifinance.

Untuk itu, kami harus lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan dan melihat sumber pertumbuhan yang masih potensial. Kami juga akan meningkatkan pendanaan dari CASA atau dana murah sehingga likuiditas lebih fleksibel dan dapat membantu memperbaiki margin.

Dengan 52% pembiayaan masih didominasi KPR iB, apakah UUS OCBC akan mengurangi eksposur di sektor mortgage, mengingat daya beli salaried worker tertekan?

Kebutuhan terhadap mortgage akan tetap ada karena sektor perumahan masih menjadi faktor fundamental dalam pengembangan ekonomi, seiring dengan pertumbuhan penduduk, khususnya usia produktif. Namun, tantangan utama adalah memastikan pembiayaan disalurkan kepada target market yang tepat. Untuk itu, kami juga berkolaborasi dengan rekanrekan di (bank) konvensional serta tim risk untuk membangun proses underwriting yang tepat agar tidak terjadi kesalahan dalam penentuan target market.

Untuk pembiayaan produktif yang porsinya 48%, sektor mana yang paling potensial untuk didorong? UMKM, komersial, atau korporasi berbasis halal value chain?

Sebetulnya, target market dan risk acceptance yang dimiliki OCBC sudah cukup variatif. Kami tidak akan meninggalkan sektor tertentu. Justru yang menjadi fokus ketika masuk ke market produktif adalah kualitas nasabah itu sendiri.

Jika kita melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, ada industri industri yang memang tumbuh, misalnya sektor healthcare. Namun, kami juga harus memastikan tidak memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha yang belum memiliki pengalaman atau kapabilitas yang memadai di sektor tersebut. Ada berbagai faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam pemberian pembiayaan, seperti prinsip character, capacity, capability, dan lainnya. Hal inilah yang menjadi fokus OCBC dan OCBC Syariah dalam mengembangkan sektor pembiayaan produktif ke depan.

UUS OCBC berencana masuk lebih dalam ke segmen affluent melalui layanan Premier Banking. Apa diferensiasi layanan syariah yang ditawarkan dibandingkan dengan wealth management konvensional?

Kami menyasar segmen affluent dengan memanfaatkan kekuatan brand dan layanan OCBC, termasuk produk investasi dan konektivitas regional, yang juga dihadirkan dalam versi syariah. Diferensiasinya, nasabah affluent syariah tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga ketenangan batin. Oleh karena itu, kami menghadirkan layanan yang tidak hanya fokus pada aspek finan sial, tetapi juga nilainilai syariah.

Salah satu contohnya adalah solusi wakaf yang kami luncurkan, di mana nasabah dapat berkontribusi tanpa harus menyisihkan dana secara khusus. Ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menghadirkan layanan yang lebih holistik. Tidak hanya untuk kebutuhan finansial, tetapi juga aspek spiritual dan keberlanjutan bagi nasabah dan keluarganya.

Tabungan emas UUS OCBC tumbuh signifikan dengan kenaikan nasabah 223%. Apa yang mendorong lonjakan ini? Faktor harga emas global atau strategi pemasaran tertentu?

Lonjakan ini merupakan kombinasi antara strategi internal dan faktor eksternal. Dari sisi internal, kami mempermudah akses melalui One Mobile Digital, dengan entry point yang sangat terjangkau mulai dari Rp10.000. Di lain sisi, hal ini juga didukung oleh kenaikan harga emas global yang signifikan sehingga meningkatkan minat masyarakat terhadap instrumen ini. Selain itu, emas merupakan instrumen yang sudah familiar bagi masyarakat. Sehingga, ketika aksesnya dipermu dah, adopsinya menjadi lebih cepat.

Apakah UUS OCBC akan mengembangkan produk berbasis emas lainnya, misalnya pembiayaan emas atau integrasi dengan fitur investasi digital?

Kami terus mengembangkan fitur berbasis emas, seperti layanan cetak emas yang kini bisa dilakukan langsung melalui One Mobile Digital. Selain itu, kami menghadirkan fitur push notification untuk membantu nasabah mengetahui waktu yang tepat membeli emas serta fitur autodebit agar investasi dapat dilakukan secara rutin.

Terkait dengan regulasi spin off UUS, bagaimana kesiapan UUS OCBC? Apakah sudah ada time line atau skema pemisahan yang dipertimbangkan?

Spin off merupakan keniscayaan sesuai dengan POJK 2023. Namun, fokus kami saat ini adalah menyiap kan model bisnis yang matang. Kami ingin saat spin off dilakukan, sudah didukung basis nasabah yang kuat dan memang membutuhkan layanan syariah. Karena itu, kami masih membangun fondasi, mulai dari penguatan layanan, aksesibilitas, hingga customer base yang loyal. Kami tidak ingin spin off dilakukan secara prematur sehingga seluruh persiapan dilakukan secara bertahap agar bisnis benarbenar siap dan berkelanjutan.

Apa strategi utama UUS OCBC dalam memperkuat bisnis ke depan?

Kami ingin memperkuat posisi di pasar dengan menghadirkan solusi layanan syariah yang terintegrasi. Itu menjadi fondasi utama yang ingin kami capai terlebih dahulu. Untuk mewujudkan solusi layanan syariah yang terintegrasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, kami harus melengkapi seluruh aspek, mulai dari solusi, layanan, aksesibili tas, hingga infrastruktur. Kedua, kami perlu membangun sumber daya manusia syariah yang berkualitas. Saat ini, kami sedang menuju ke arah tersebut. Ketiga, kami harus memperkuat brand dan awareness.

Kami menyadari bahwa belum seluruh masyarakat mengetahui bahwa OCBC memiliki layanan syariah. Penguatan pada tiga aspek tersebut menjadi fokus dan landasan utama dalam rencana bisnis OCBC Syariah, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Harus diakui, pertumbuhan itu belum tentu merefleksikan industri secara umum. Industri perbankan syariah, termasuk UUS OCBC, masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari tekanan profitabilitas, kualitas pembiayaan, hingga dinamika pasar yang terus berubah.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2026

Rp 65.000

BELI