Krisis energi dan krisis nilai tukar membuat berat keuangan negara, korporasi, hingga rumah tangga. Mengapa pemerintah ngotot program Makan Bergizi Gratis yang dianggarkan Rp335 triliun jalan terus dan makin membuat pelaku UMKM kian merana? Bank-bank harus berhati-hati mengucurkan kredit atas dasar perintah dari “langit”. Bank-bank mana memiliki pelayanan terbaik menurut hasil survei BankCX Tracker 2026?
Sumber : Infobank
DUNIA dibayang-bayangi krisis energi. Krisis yang terjadi gara-gara Selat Hormuz, yang sampai dengan April lalu masih ditutup akibat perang Amerika Serikat (AS) Israel dan Iran sehingga mengganggu pasokan energi dunia. Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia sudah terbang di atas 30% dari sebelumnya US$60-US$70 per barel. Saat tulisan ini dibuat, 23 April 2026, harga minyak jenis Brent telah mencapai US$103 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$98 per barel. Meroketnya harga energi selalu menguji daya tahan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.
Ujian berat itu sudah secara nyata terasa. Mulai dari keuangan negara atau fiskal, neraca perusahaan, hingga kantong masyarakat atau rumah tangga. Bagi pemerintah, ruang fiskal yang sudah sangat terbatas akibat beban pembayaran utang pun bakal makin sempit. Dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026, pemerintah harus membayar utang jatuh tempo sebesar Rp833,9 triliun plus bunga utang hingga Rp599 triliun. Belum lagi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggarkan Rp335 triliun atau melonjak drastis dari Rp71 triliun tahun lalu. Ketiga alokasi anggaran tersebut menyedot 46% dari total belanja pemerintah yang sebesar Rp3.842,7 triliun tahun ini.