Sejak kecil, ia sudah ditempa oleh kerasnya kehidupan. Tapi, dari perjalanan hidup yang tak mudah, ia tumbuh menjadi sosok yang tekun, berani mengambil peluang, dan memegang prinsip kepemimpinan yang membentuknya menjadi bankir andal.
Sumber: Istimewa
PERJALANAN hidup setiap orang memang berbeda-beda. Sebagian ada yang menempuhnya dengan mulus sesuai dengan yang diinginkan atau diimpikan. Sebagian yang lain harus menempuhnya dengan tak mudah. Tak seperti apa yang dambakan. Hal itulah yang dialami Ketut Sugiata, Direktur Utama BPR Hasamitra Jawa Barat, ketika masih muda. Tapi, siapa sangka, perjalanan hidup yang dilaluinya justru membuatnya berhasil membesarkan sebuah bank perekonomian rakyat (BPR). Bayangkan, dari nol.
Lahir di Buleleng, Bali, pada 14 Agustus 1967, Ketut merupakan anak kedelapan dari 13 bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani dan hidup dalam kesederhanaan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan. Bahkan, ia tak punya banyak pilihan untuk menentukan masa depan seperti apa yang ingin dijalani.
Usai lulus SMA, saat teman-teman seusianya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Ketut justru harus bekerja demi membantu kebutuhan keluarga. Tapi, alih-alih bertani di kampung halaman, ia memilih merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan, dengan harapan dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
“Tahun 1986, waktu usia saya 19 tahun, itu saya baru tamat SMA. Dan, saya kebetulan juga dulu ada keluarga di Makassar. Jadi, saya memutuskan pergi menuju Makassar di tahun itu. Dan, tahun ‘86 itu, kita tahulah, tamatan SMA itu bukan apa-apa. Jadi, yang penting saya kerja bisa dapat uang, dan yang penting menghasilkan supaya bisa makan,” kenang Ketut kepada Infobank, bulan lalu.
Di Makassar, Ketut mencoba berbagai pekerjaan demi menyambung hidup. Ia pernah berdagang di toko alat tulis, bekerja sebagai staf di Bank Perniagaan Umum (BPU), hingga berkarier di perusahaan distribusi obat-obatan hewan. Tapi, dari berbagai pekerjaan itu, belum ada yang benar-benar menjadi tempatnya berlabuh.
Meskipun berkali-kali diterpa kesulitan, Ketut tidak serta-merta menyerah begitu saja. Hampir dua dekade mencoba peruntungan di Makassar, takdir membawanya bertemu dengan para pendiri BPR Hasamitra di Makassar. Siapa sangka, perkenalan dengan para pendiri BPR, yang kini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia, membuka pintu baru bagi masa depannya.
Ketut masih ingat, Yonggris dan I Nyoman Supartha, yang sekarang merupakan Komisaris Utama dan Direktur Utama BPR Hasamitra, tengah mencari staf untuk operasional bank yang baru akan dibentuk itu. Mereka mendorongnya untuk mengikuti tes masuk perusahaan. Meskipun hanya memiliki ijazah SMA, pengalaman Ketut di BPU dinilai menjadi modal penting untuk menjadi bankir mikro.
“Waktu itu saya sedikit dibantu oleh Pak Nyoman dan Pak Yonggris. Lalu, karena ada latar belakang perbankan dan beliau juga sudah kenal saya, jadi beliau mungkin memandang ‘nggak mungkin salah pilih’. Jadi, saya akhirnya diterima di sana tahun 2005 awal, di saat BPR Hasamitra juga baru berdiri,” bebernya.
Ketut akhirnya menemukan rumah baru di BPR Hasamitra. Ayah satu anak ini merasa nyaman meniti karier di bank rural itu. Bahkan, ia mendapat dorongan dari petinggi perusahaan untuk melanjutkan pendidikan sarjana demi meningkatkan kapabilitasnya sebagai bankir. Atas dasar ini, Ketut mantap mengambil program studi manajemen di STIEM Bongaya, Makassar.
Kariernya pun berkembang pesat. Ia sempat dipercaya menjadi kepala divisi staf serta memimpin sejumlah kantor cabang di berbagai wilayah. Hingga akhirnya, kinerjanya menarik perhatian pemegang saham. Pada 2017, Ketut mendapat tawaran untuk menjadi Direktur Utama BPR Hasamitra Jawa Barat yang akan berlokasi di Depok.
Awalnya ada keraguan di hati Ketut. Ia merasa masih ada sosok lain yang lebih pantas untuk memimpin BPR Hasamitra Jawa Barat. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan masak-masak sebelum mengemban posisi penting itu. Ia sempat meminta saran dari sejumlah petinggi bank. Tapi, pada akhirnya, yang memantapkan pilihannya untuk menjabat posisi itu adalah dorongan sang anak.
“Saya diskusi dengan anak saya, yang waktu itu masih kuliah. Saya khawatir kalau saya tinggalkan, dia masih butuh pengawasan saya. Tapi, ternyata dia justru bilang, ‘ambil Pak, kesempatan tidak akan datang dua kali. Tidak usah pikirkan saya. Tidak apa-apa saya kuliah di sini’,” ungkap Ketut dengan penuh haru.
Tahun 2018 menjadi kali pertama Ketut menginjakkan kaki di Depok. Bagi pria yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade di Sulawesi Selatan, kota ini terasa asing. Kultur dan suasana di Kota Belimbing ini berbeda jauh dibanding Makassar, Gowa, atau Bone yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Belum lagi, Ketut juga hanya “dibekali” tim kecil untuk membangun BPR Hasamitra Jawa Barat dari nol.
“Tahun 1986, waktu usia saya 19 tahun, itu saya baru tamat SMA. Dan, saya kebetulan juga dulu ada keluarga di Makassar. Jadi, saya memutuskan pergi menuju Makassar di tahun itu. Dan, tahun ‘86 itu, kita tahulah, tamatan SMA itu bukan apa-apa. Jadi, yang penting saya kerja bisa dapat uang, dan yang penting menghasilkan supaya bisa makan.”
Mulanya, Ketut dan tim mencoba mereplikasi model bisnis BPR Hasamitra di Makassar ke Depok. Namun, mereka segera menyadari bahwa lanskap perbankan rural di kota penyangga Jakarta itu jauh lebih kompetitif. Kondisi itu memaksa Ketut dan tim memutar otak agar mampu bertahan dan berkembang.
Pengalaman Ketut, ditambah arahan dari kantor pusat, menjadi fondasi penting dalam menemukan pijakan bisnis. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memindahkan kantor pusat bank dari Bojongsari ke kawasan Margonda yang merupakan pusat aktivitas ekonomi Depok, agar keberadaan bank lebih mudah dikenal masyarakat.
Selain itu, BPR Hasamitra Jawa Barat mulai menggarap segmen yang belum banyak disentuh bank rural lain, seperti kredit pensiunan dan kredit pegawai swasta, yang kala itu masih relatif minim persaingan. Hasilnya mulai terlihat. Dalam delapan tahun, BPR Hasamitra Jawa Barat tumbuh menjadi salah satu bank rural dengan perkembangan yang pesat. Per Maret 2026, aset bank ini telah mencapai Rp234,43 miliar.
Capaian itu merupakan buah dari proses panjang yang Ketut dan tim bangun sejak awal berdiri. Keberhasilan itu juga tidak lepas dari pola kepemimpinan yang diterapkan Ketut. Dalam memimpin BPR Hasamitra Jawa Barat, ia selalu menanamkan empat prinsip utama sebagai bankir, yakni trust, integrity, prudence, dan professionalism. Keempat nilai itu terangkum dalam pedoman dasar perusahaan bernama “Catur Prasetya”.
“Catur Prasetya itu berasal dari bahasa Sansekerta. Catur itu artinya ‘empat’, prasetya itu semacam ‘janji’ atau ‘ikrar’. Catur Prasetya di sini merupakan empat janji sebagai seorang bankir BPR Hasamitra, yang kami sebut ‘Mitrawira’ atau pejuang-pejuang di Hasamitra. Dan, ini selalu kami kumandangkan tiap pagi di rapat atau briefing,” terang Ketut.
Lebih dari sekadar jabatan, posisi yang diemban Ketut hari ini merupakan akumulasi dan hasil dari perjalanan hidup yang panjang. Ia pernah merasakan kerasnya merantau sejak usia muda, berganti pekerjaan, hingga meninggalkan zona nyaman demi kesempatan baru. Seluruh proses itu membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan tidak mudah menyerah menghadapi keadaan.
Perjalanan hidup Ketut menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemewahan atau pendidikan tinggi. Kesuksesan juga bisa datang dari keberanian untuk terus melangkah ketika keadaan sedang tidak berpihak. Prinsip itulah yang hingga kini terus Ketut pegang dalam membesarkan BPR Hasamitra Jawa Barat. Tumbuh secara perlahan, tetap berpijak pada kehati-hatian, dan tidak melupakan akar perjuangan.
Lahir di Buleleng, Bali, pada 14 Agustus 1967, Ketut merupakan anak kedelapan dari 13 bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani dan hidup dalam kesederhanaan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan. Bahkan, ia tak punya banyak pilihan untuk menentukan masa depan seperti apa yang ingin dijalani.