Kenaikan harga BBM membuat kendaraan listrik makin dilirik. Tapi, minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik masih dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga kendaraan hingga ketersediaan infrastruktur. Industri multifinance melihat peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan pasar kendaraan listrik.
Sumber: Istimewa
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) yang bikin pusing masyarakat ini ternyata memunculkan harapan baru bagi percepatan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia. Di tengah biaya operasional kendaraan konvensional yang kian meningkat, kendaraan listrik dinilai menawarkan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Tapi, di balik optimisme itu, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keputusan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik tidak sesederhana menghitung selisih biaya pengisian energi dengan pembelian BBM.
Bagi sebagian besar konsumen, khususnya kelompok kelas menengah yang menjadi pasar terbesar kendaraan bermotor nasional, keputusan membeli kendaraan listrik masih dipengaruhi banyak faktor. Selain harga kendaraan yang relatif masih lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan konvensional, masyarakat mempertimbangkan ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), jaringan bengkel resmi, biaya perawatan, daya tahan baterai, hingga nilai jual kembali kendaraan di pasar sekunder. Faktor-faktor itu membuat prospek pertumbuhan kendaraan listrik masih sedikit mendung sehingga membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih kuat agar mampu menarik minat konsumen lebih luas.
Di tengah berbagai tantangan itu, industri pembiayaan justru melihat peluang yang makin besar. Kebutuhan masyarakat terhadap skema kredit yang lebih ringan dan terjangkau menjadi salah satu kunci untuk mempercepat penetrasi kendaraan listrik. Apalagi, pembelian kendaraan di Indonesia masih didominasi fasilitas pembiayaan sehingga peran perusahaan multifinance jadi makin strategis dalam mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional.
Sejalan dengan itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pembiayaan kendaraan listrik mulai membentuk pasar yang menjanjikan. Hingga Desember 2025, piutang pembiayaan kendaraan bermotor roda empat listrik baru mencapai Rp7,01 triliun, sementara kendaraan bermotor roda empat listrik bekas sebesar Rp275 miliar. Di segmen roda dua, piutang pembiayaan kendaraan listrik baru tercatat Rp202 miliar dan kendaraan listrik bekas Rp1 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik mulai tumbuh, sekaligus membuka ruang ekspansi yang luas bagi industri pembiayaan untuk menggarap segmen baru yang potensinya masih sangat besar.
Pengamat energi, Fahmy Radhi, menilai bahwa kenaikan harga BBM memang dapat menjadi salah satu pemicu masyarakat mempertimbangkan kendaraan listrik. Tapi, faktor itu bukan penentu utama dalam keputusan pembelian. Menurutnya, kemudahan akses pembiayaan justru menjadi salah satu aspek yang sangat penting bagi konsumen, terutama kelompok kelas menengah yang menjadi target utama pasar kendaraan listrik.
“Kemampuan (masyarakat) kelas menengah dalam membeli kendaraan listrik menjadi penting. Karena itu, pembiayaan untuk pembelian kendaraan listrik juga sangat dibutuhkan oleh konsumen,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Ket: dalam Rp miliar,
Sumber: OJK, diolah kembali oleh Biro Riset Infobank (birI).
Selain pembiayaan, Fahmy menekankan pentingnya pembangunan ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur, layanan purnajual, hingga kebijakan insentif yang berkelanjutan. Dengan dukungan itu, pertumbuhan kendaraan listrik tidak hanya akan menciptakan peluang bagi industri otomotif, tapi juga menjadi ladang bisnis baru bagi perusahaan pembiayaan yang tengah mencari sumber pertumbuhan di tengah perlambatan sejumlah segmen pembiayaan konvensional.
Optimisme itu juga tecermin dari kinerja CIMB Niaga Finance (CNAF). Hingga kuartal pertama 2026, CNAF membukukan penyaluran pembiayaan baru (booking) kendaraan ramah lingkungan, baik listrik maupun hybrid, sebesar Rp472 miliar atau meningkat signifikan dibanding-kan dengan Januari 2026 yang tercatat Rp149 miliar.
Segmen ini kini berkontribusi sekitar 14,5% terhadap total aset kelolaan CNAF yang mencapai Rp13,52 triliun.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, mengatakan bahwa kendaraan ramah lingkungan telah berkembang dari sekadar alternatif pembiayaan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi industri multifinance. Menurutnya, tren elektrifikasi yang makin kuat, didukung meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap mobilitas berkelanjutan, akan mendorong permintaan pembiayaan kendaraan listrik dalam beberapa tahun mendatang.
“Kendaraan ramah lingkungan bukan hanya menjadi alternatif produk pembiayaan, tapi dapat menjadi salah satu motor penggerak (growth engine) pertumbuhan bisnis multifinance,” kata Ristiawan.
Untuk menangkap peluang itu, CNAF menargetkan pembiayaan kendaraan ramah lingkungan tumbuh 7% sepanjang 2026. Perusahaan pembiayaan ini juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra bisnis guna memastikan ketersediaan unit kendaraan sesuai kebutuhan pasar, sekaligus menghadirkan skema pembiayaan yang kompetitif dan proses yang lebih sederhana agar adopsi kendaraan listrik makin mudah dijangkau masyarakat.
Pelaku industri multifinance lainnya juga melihat arah yang serupa, bahwa kendaraan listrik mulai memasuki fase transisi dari tahap awal adopsi menuju pertumbuhan yang lebih struktural dalam portofolio pembiayaan. Namun, meski optimisme terus meningkat, Bussan Auto Finance (BAF) tetap menempatkan segmen ini sebagai peluang jangka menengah hingga panjang, mengingat berbagai faktor pendukung seperti infrastruktur, harga kendaraan, dan kesiapan ekosistem masih terus berkembang.
Menurut Presiden Direktur BAF, Koji Kato, kendaraan listrik merupakan salah satu tren penting yang berpotensi mendorong transformasi tak hanya pada industri otomotif, tapi juga pada model bisnis pembiayaan secara lebih luas. Menurutnya, pergeseran menuju kendaraan rendah emisi akan menciptakan dinamika baru dalam struktur portofolio multifinance di masa mendatang.
“Kami melihat prospek yang positif pada pembiayaan kendaraan listrik, walaupun pertumbuhannya masih bertahap. Kami tetap mengedepankan pendekatan yang prudent, dengan memperhatikan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat,” terang Koji.
Meski demikian, kontribusi pembiayaan kendaraan listrik di BAF saat ini masih berada pada tahap awal perkembangan. Hal ini terutama disebabkan oleh karakteristik pasar yang masih dalam fase pembentukan, baik dari sisi permintaan konsumen maupun kesiapan infrastruktur pendukung. Tapi, arah pertumbuhannya dinilai sudah makin jelas dan positif.
Peningkatan penetrasi kendaraan listrik tak hanya dipengaruhi faktor harga BBM atau insentif pemerintah, tapi juga perubahan preferensi konsumen yang mulai mempertimbangkan efisiensi jangka panjang, kemudahan operasional, dan nilai keberlanjutan. Kombinasi faktorfaktor itu pada akhirnya menjadi katalis penting bagi pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik di industri multifinance.
Baik CNAF, BAF, maupun pelaku industri lainnya sama-sama memandang bahwa kendaraan listrik akan menjadi salah satu pilar pertumbuhan baru yang melengkapi portofolio pembiayaan konvensional. Namun, pengembangannya tetap membutuhkan pendekatan yang hati-hati, terutama dalam hal pengelolaan risiko, penilaian nilai residu, serta pemahaman terhadap perilaku konsumen yang masih terus terbentuk.
Dengan arah transformasi yang makin jelas, kendaraan listrik kini tak lagi hanya menjadi bagian dari narasi transisi energi nasional, tapi juga mulai menempatkan diri sebagai salah satu penggerak baru di industri pembiayaan otomotif Indonesia. Prospeknya pun kian cerah seiring dengan berkembangnya ekosistem dan dukungan pembiayaan yang makin luas.
Bagi sebagian besar konsumen, khususnya kelompok kelas menengah yang menjadi pasar terbesar kendaraan bermotor nasional, keputusan membeli kendaraan listrik masih dipengaruhi banyak faktor. Selain harga kendaraan yang relatif masih lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan konvensional, masyarakat mempertimbangkan ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), jaringan bengkel resmi, biaya perawatan, daya tahan baterai, hingga nilai jual kembali kendaraan di pasar sekunder. Faktor-faktor itu membuat prospek pertumbuhan kendaraan listrik masih sedikit mendung sehingga membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih kuat agar mampu menarik minat konsumen lebih luas.