Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Quantum Computing Makin Dekat, Namun Terasa Jauh

Sepertinya tak lama lagi quantum computing benar-benar hadir dan diterapkan di perbankan dalam negeri. Tapi, apakah para pelaku industri sudah benar-benar siap mengimplementasikan teknologi kuantum ini?

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) tampaknya sudah menerawang jauh ke depan. Di tengah masifnya transformasi digital di sektor keuangan dan perbankan Tanah Air, di antaranya dengan adopsi teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan open API, regulator mulai mencermati implikasi sekaligus peluang pemanfaatan quantum computing atau teknologi kuantum untuk mendorong kedua sektor itu ke arah yang lebih modern. 

Dengan memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk menyelesaikan persoalan yang terlalu rumit bagi komputer konvensional, teknologi ini dirancang untuk mengolah sejumlah besar probabilitas secara bersamaan. Dengan begitu, quantum computing mampu mengerjakan jenis perhitungan tertentu jauh lebih cepat dan efisien.

Banyak kalangan menilai quantum computing akan menjadi lompatan besar berikutnya di dunia komputasi, termasuk di industri perbankan. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengakui bahwa saat ini teknologi itu masih berada dalam tahap pengem bang an. Sejauh ini, pemanfaatannya di industri perbankan pun belum luas dan kebanyakan baru sebatas proof of concept (POC).

Meskipun demikian, apabila implementasinya sudah makin masif, bukan tidak mungkin teknologi ini akan mendorong perbankan naik ke level yang lebih tinggi. Salah satu manfaat yang dilihat OJK adalah kemampuannya memperkuat keamanan siber sekaligus meminimalkan potensi terjadinya fraud

“Meskipun belum tersedia secara luas, beberapa bank global telah mulai menjajaki penggunaan quantum computing dalam mendukung operasional bisnis mereka. Mempertim bang kan manfaat yang diberikan, qquantum computing berpotensi menjadi tren teknologi di masa depan, seperti kecerdasan artifisial,” terang Dian dalam keterangan resmi. 

Implementasinya pun tidak berhenti pada aspek keamanan. Hasil riset McKinsey Technology menunjukkan bahwa quantum computing berpotensi dimanfaatkan di hampir seluruh lini bisnis perbankan, mulai dari corporate banking, retail banking, sistem pembayaran, investment banking, hingga wealth management. Bahkan, nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari berbagai use case itu diproyeksikan mencapai US$400 miliar hingga US$600 miliar pada 2035.

 

Namun, kendati potensi ekonomi nya besar, jalan menuju adopsi teknologi kuantum tidaklah instan. Aspek biaya menjadi salah satu ganjalan utama, lantaran investasi yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah, sehingga return on investment (ROI) yang dihasilkan tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat. Kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga perlu mendapat perhatian, mengingat talenta yang menguasai teknologi ini masih terbilang langka karena statusnya yang masih dalam tahap pengembangan.

Selain itu, pihak perbankan wajib mewaspadai potensi ancaman keamanan siber yang justru dapat muncul dari perkembangan quantum computing ini. Rico Usthavia Frans, Operations, Technology, Analytics and AI Director Bank CIMB Niaga, mewanti wanti bahwa meskipun bank-bank di Indonesia belum banyak memanfaatkan perangkat tersebut, teknologi kuantum memiliki kemampuan untuk mematahkan metode enkripsi klasik yang saat ini melindungi data perbankan.

“Sepengetahuan saya, bank-bank di Indonesia belum meng-explore mengenai quantum computing. Meskipun demikian, teknologi ini perlu diwaspadai dalam kaitannya sebagai enabler bagi fraudster untuk menembus sistem keamanan dan enkripsi,” kata Rico melalui pesan singkat kepada Infobank, bulan lalu. 

Kekhawatiran itu bukanlah isapan jempol belaka. Dalam beberapa waktu terakhir, peretas makin lihai memanfaatkan teknologi seperti AI untuk melancarkan serangan siber ke berbagai sektor, termasuk perbankan. Kemampuan quantum computing dalam memecahkan persoalan dengan kecepatan yang jauh melampaui komputer konvensional membuatnya berpotensi dimanfaatkan untuk membobol sistem keamanan siber yang paling canggih sekalipun.

Karena itu, meskipun implementasinya belum begitu luas, perbankan perlu mulai menerapkan Post-Quantum Cryptography (PQC). Istilah ini mengacu pada standar algoritma enkripsi baru yang dirancang untuk melindungi data dari ancaman komputer kuantum. PQC diharapkan dapat menggantikan sistem enkripsi klasik yang rentan, sekaligus mempersiapkan infrastruktur digital menghadapi potensi serangan siber sebelum komputer kuantum benar-benar beroperasi secara penuh.

Dengan mempertimbangkan berbagai variabel itu, pakar teknologi Richardus Eko Indrajit menilai bahwa perbankan Indonesia saat ini masih berada pada era Noisy Intermediate Scale quantum (NISQ). Kehadiran komputer kuantum dinilai masih belum cukup stabil untuk menggantikan komputasi klasik dalam operasional inti perbankan. Namun, justru fase inilah yang sebaiknya dimanfaatkan industri untuk mulai memahami dan mengeksplorasi potensi teknologi tersebut. 

Secara realistis, pelaku perbankan dalam negeri dapat memulai PQC untuk kasus penggunaan tertentu, seperti optimasi portofolio, simulasi risiko, deteksi fraud, dan credit scoring. Dengan pendekatan seperti itu, industri dapat lebih dahulu “mencicipi” quantum computing melalui akses cloud dari penyedia layanan kuantum, alih-alih berinvestasi langsung pada perangkat sendiri. Jika hasilnya dinilai menjanjikan, barulah pengembangan dapat dilakukan secara lebih mendalam.

“Peluang (quantum computing) itu nyata, tapi perlu diterapkan secara bertahap. Sementara, ancaman kriptografinya justru perlu diantisi pasi sekarang. Bank yang bijak akan mulai dari kesiapan keamanan pasca kuantum dahulu, sambil bereksperimen kecil-kecilan pada kasus penggunaan komputasi,” terang Eko kepada Infobank.

Cepat atau lambat, quantum computing akan ikut membentuk lanskap industri keuangan global, termasuk di Indonesia. Dan, ketika era komputasi kuantum benar-benar tiba, bankbank yang telah memba ngun kesiapan sejak sekarang akan berada dalam posisi yang lebih unggul untuk memanfaatkan peluang, sekaligus meredam risiko yang menyertainya.

Dengan memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk menyelesaikan persoalan yang terlalu rumit bagi komputer konvensional, teknologi ini dirancang untuk mengolah sejumlah besar probabilitas secara bersamaan. Dengan begitu, quantum computing mampu mengerjakan jenis perhitungan tertentu jauh lebih cepat dan efisien.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2026

Rp 65.000

BELI