Penguatan tata kelola menjadi pelajaran penting bagi industri asuransi di tengah agenda konsolidasi BUMN. IFG Life menilai kepercayaan publik dan fondasi bisnis yang kuat menjadi kunci pertumbuhan industri ke depan.
Infobank
KASUS Jiwasraya menjadi pelajaran besar bagi industri asuransi. Bagi IFG Life, perusahaan asuransi jiwa pelat merah, pengalaman itu justru menjadi pijakan untuk memperkuat bisnis dan tata kelola di tengah agenda konsolidasi BUMN. Lalu, bagaimana kinerja perusahaan saat ini dan apa tantangan yang masih harus dihadapi. Berikut penjelasan Ryan Diastana Firman, Direktur Keuangan merangkap Plt Direktur Utama IFG Life, kepada Infobank, akhir Mei lalu. Petikannya:
Bagaimana kinerja IFG Life hingga kuartal satu 2026?
IFG Life terus mencatat tren kinerja yang positif. Hal ini tecermin dari pendapatan premi konsolidasian kuartal satu 2026 yang mencapai Rp1,92 triliun, didukung hasil investasi yang sehat serta tingkat solvabilitas yang jauh melampaui ketentuan minimum OJK. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penguatan tata kelola perusahaan, transformasi digital, pengelolaan aset yang prudent, penguatan lini bisnis korporasi dan bancassurance, serta ekspansi produk-produk proteksi yang makin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Bagaimana dampak pengelolaan polis eks Jiwasraya terhadap kinerja dan kondisi keuangan IFG Life?
Pengelolaan polis eks Jiwasraya merupakan amanat besar yang dijalankan dengan penuh kehatihatian. Kami menjaga keseimbangan antara kewajiban jangka panjang kepada pemegang polis dan kesehatan keuangan perusahaan melalui pengelolaan aset dan kewajiban yang disiplin serta strategi investasi yang terukur. Pendekatan liability driven investment (LDI) yang kami terapkan membantu menjaga kemampuan pembayaran klaim secara konsisten, sekaligus memperkuat permodalan, solvabilitas, dan keberlanjutan bisnis perusahaan.
Apa pelajaran terbesar yang dapat dipetik industri asuransi dari kasus Jiwasraya?
Kasus Jiwasraya memberikan pelajaran penting mengenai perlunya tata kelola yang kuat dan konsisten sejak awal. Tata kelola tidak boleh hanya menjadi formalitas regulasi, melainkan harus menjadi budaya perusahaan yang diwujudkan melalui transparansi pelaporan keuangan, disiplin dalam pengelolaan investasi, serta pengawasan internal yang efektif.
Bagaimana IFG Life memandang agenda konsolidasi asuransi BUMN?
Kami melihat konsolidasi bukan sekadar penggabungan entitas, melainkan momentum untuk membangun ekosistem asuransi BUMN yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan. Konsolidasi diharapkan menghasilkan struktur permodalan yang lebih kuat, tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel, serta spesialisasi peran masing-masing perusahaan sehingga tidak terjadi tumpang tindih produk maupun segmen pasar. Pada akhirnya, konsolidasi harus bermuara pada peningkatan kepercayaan publik terhadap industri asuransi BUMN.
Apakah konsolidasi saja cukup untuk meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia, dan tantangan apa yang perlu diantisipasi ke depan?
Konsolidasi merupakan langkah penting, namun belum cukup untuk mendorong penetrasi asuransi secara signifikan. Selain memperkuat struktur industri, diperlukan peningkatan literasi keuangan masyarakat dan inovasi produk yang lebih inklusif agar asuransi dapat menjangkau lebih banyak segmen. Di lain sisi, tantangan terbesar yang perlu diantisipasi adalah memastikan penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta pengelolaan investasi yang prudent berjalan secara konsisten agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan kasus seperti Jiwasraya tidak kembali terulang.
Bagaimana kinerja IFG Life hingga kuartal satu 2026?
IFG Life terus mencatat tren kinerja yang positif. Hal ini tecermin dari pendapatan premi konsolidasian kuartal satu 2026 yang mencapai Rp1,92 triliun, didukung hasil investasi yang sehat serta tingkat solvabilitas yang jauh melampaui ketentuan minimum OJK. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penguatan tata kelola perusahaan, transformasi digital, pengelolaan aset yang prudent, penguatan lini bisnis korporasi dan bancassurance, serta ekspansi produk-produk proteksi yang makin relevan dengan kebutuhan masyarakat.