IGNASIUS JONAN adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri ESDM 2016-2019.
Ignasius Jonan
MENJADI pemimpin sering menjadi tujuan banyak orang. Tetapi, banyak dari mereka yang mungkin tidak tahu pepatah Belanda ini: leiden is lijden. Artinya, memimpin itu menderita. Bagi yang menghayati papatah tersebut, tentunya tidak akan menjadikan posisi pemimpin itu sebagai tujuan. Apalagi, menjadikan posisi pemimpin sebagai sarana memperkaya diri. Senada dengan pepatah Belanda tersebut, salah satu pahlawan nasional, K.H. Agus Salim (1885 1954), pernah mengingatkan, “Memimpin adalah menderita, bukan menumpuk harta.”
Menurut saya, seseorang yang menjadi pemimpin adalah dia yang sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri dan ingin memberi kontribusi untuk kepentingan yang lebih luas. Maka, ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi orang yang ingin menjadi pemimpin yang bermanfaat.
Satu, kepemimpinan adalah seni melayani orang lain dan mendorong perubahan positif. Pemimpin sejati mengukur kesuksesan mereka berdasarkan manfaat nyata dan dampak positif yang mereka berikan kepada kehidupan orang lain, dengan fokus pada peningkatan kesejah teraan orang lain daripada sekadar menjalankan otoritas.
“Leadership is about making others better as a result of your presence and making sure that impact last is your absence,” begitu kata Sheryl Kara Sandberg, penulis dan eksekutif di bidang teknologi asal Amerika yang pernah menjadi Chief Operating Officer (COO) Facebook.
Dua, seni kepemimpinan adalah bagaimana mengatakan tidak. Seperti apa yang dikatakan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris 19972007, “The art of leadership is saying no, not saying yes. It is very easy to say yes.”
Makanya, kemampuan mengata kan “tidak” bisa menunjukkan perbe daan seorang leader dengan followers. Seorang pemimpin ditunjuk karena dipercaya. Dipercaya karena kemampuan, integritas, dan pengala mannya. Kompetensi sangat dibutuh kan seorang pemimpin karena dia adalah orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit.
Sehingga, kalau saya ditanya, apa pekerjaan yang paling sulit bagi seorang pemimpin? Maka, jawaban saya adalah pekerjaan yang tidak bisa didelegasikan kepada bawahan. Karena mengatakan “iya” itu jauh lebih mudah, maka itu adalah jawaban yang biasanya dikatakan oleh para followers.
Karena esensi kepemimpinan adalah menyiapkan generasi pemim pin yang lebih baik dari dirinya, maka seorang pemimpin yang melaksana kan esensi tersebut juga akan mendidik bawahan untuk berani mengatakan “tidak”. Hal itu sangat penting bukan hanya dalam konteks pendidikan karakter, tapi juga dalam konteks pekerjaan.
Jika seorang chief executive officer (CEO) di sebuah bank menerima proposal kredit dan melimpahkannya kepada bawahan, para analis kredit dan risk manager tentu harus mengatakan “tidak” jika proposal tersebut tidak layak. Maka, memimpin dengan contoh (lead by example) sangat efektif untuk menciptakan budaya kerja yang sesuai dengan keinginan seorang pemimpin.
Perjalanan kepemimpinan sese orang dalam mengambil keputusan pastinya biasa menghadapi dilema antara menjawab “iya” atau “tidak”, dan lebih sulit ketika itu berhadapan dengan pihak yang memiliki otoritas lebih besar. Dalam keraguan antara mengatakan “iya” atau “tidak”, seorang pemimpin harus fokus pada tujuan yang memberi manfaat kepada orang banyak. Terlebih lagi di lembaga publik, di mana keputusan yang diambil akan sangat menentu kan nasib banyak orang.
Tulisan ini saya akhiri dengan kalimat dari Warren Buffett, investor kondang asal Amerika Serikat. Dia mengatakan, “The difference between successful people and really successful people is that really successful people say no to almost everything.” Orang yang benarbenar sukses adalah orang yang benar benar sukses mengatakan tidak kepada hampir semua hal.
Orang yang selalu mengatakan “tidak”, tentu dalam konteks membe la terwujudnya tujuan besar, itu pasti memiliki keberanian. Demikian juga seorang pemimpin. Dia harus memiliki keberanian mengambil keputusan, termasuk tidak takut kehilangan jabatan. Janganlah menjadikan posisi pemimpin sebagai citacita. Jadikanlah posisi pemimpin sebagai sebuah amanah untuk mewujudkan citacita mulia yang bermanfaat bagi orang banyak.
Menurut saya, seseorang yang menjadi pemimpin adalah dia yang sudah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri dan ingin memberi kontribusi untuk kepentingan yang lebih luas. Maka, ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi orang yang ingin menjadi pemimpin yang bermanfaat.