Sumber : Istimewa
PERSOALAN penurunan jumlah kelas menengah masih menghantui Indonesia. Sebagai negara dengan ekonomi yang utamanya digerakkan oleh sektor konsumsi, penurunan jumlah kelas menengah menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Bank Dunia edisi Juni 2026 menunjukkan proporsi kelas menengah di Indonesia turun dari 14,5% di 2018 ke 7,1% di 2025. Artinya, jumlah kelas menengah di Indonesia berkurang separuh dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Salah satu faktor pemicunya ialah tren penurunan upah riil pekerja berpendapatan menengah hingga tinggi. Upah medium and high-skilled employment turun sekita
1% sampai 2% per tahun selama 2018-2025. Penurunan ini disebabkan oleh inflasi yang lebih tinggi ketimbang pendapatan nominal, sehingga menekan daya beli. Kapasitas lapangan kerja formal untuk menampung individu berpendidikan dengan higher skill juga makin terbatas. Proporsi pekerjaan dengan upah formal turun dari 74,1% di 2018 ke 67,8% di 2025, mendorong lebih banyak pekerja berpendidikan tinggi bekerja di sektor informal dengan upah lebih terbatas. SW
Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Bank Dunia edisi Juni 2026 menunjukkan proporsi kelas menengah di Indonesia turun dari 14,5% di 2018 ke 7,1% di 2025. Artinya, jumlah kelas menengah di Indonesia berkurang separuh dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.