Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Nasihat Bijak dari Penyintas

Penulis adalah Ketua Dewan Pers Republik Indonesia.

Oleh Komaruddin Hidayat
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

SAYA berulang kali bertemu dan ngobrol ngobrol dengan para penyintas yang merasa selamat dari kematian akibat kanker yang akut dan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang mencengkeram. Mereka pernah merasakan, batas antara hidup dan mati sangatlah tipis, tak lagi jelas. Bahkan, sudah sampai pada keyakinan bahwa saatnya ajal tinggal sebatas tarikan napas.

Ketika akhirnya sembuh, mereka merasa bagaikan terlahir kembali atau memperoleh anugerah hidup yang kedua kali, lalu dengan kacamata baru memandang dan menjalani hidup. Sebuah kesadaran yang sangat intens, betapa rapuhnya kekuatan fisik manusia. Jatah umur ini sangatlah pendek. Ketika bayang-bayang kematian sudah di pelupuk mata, jabatan, kekayaan, dan ketenaran yang telah diraih serta dibanggakan nya akhirnya tercerabut lepas bagaikan debu diterpa angin.

Berbincang dengan para penyin tas isinya penuh dengan pesan kebajikan dan kebijakan hidup. Saya merasa bagaikan membaca naskah buku langka yang tidak terbit dan beredar di pasaran.

Ada lima nasihat yang sangat mengesankan. Satu, rayakan dan syukuri kesehatan, jangan pernah menyia-nyiakan umur untuk hal-hal yang tak berguna, terlebih lagi merusak diri dan keluarga.

Dua, saat bayang-bayang kematian sudah di depan mata, yang bernilai dari kekayaan yang diburu dan dikumpul kan bukan terletak pada seberapa banyak, melainkan bagaimana harta itu diraih dan seberapa besar memberi manfaat bagi orang lain.

Tiga, sungguh tertipu dan merugi orang yang disibukkan mengejar jabatan dan kekayaan hanya untuk memuaskan nafsu, bukan untuk melayani dan membantu meringankan beban orang lain.

Empat, fisik manusia sangat rapuh dan pasti mati, tapi jiwa akan meneruskan perjalanan lanjut, dan bekal yang paling berharga adalah iman serta rekaman amal saleh. Lima, (diakui penyintas), jalani hidup lebih damai dan ikhlas, peta jalan kehidupan di depan lebih jelas, dan jangan takut menghadapi berbagai tantangan hidup.

Para penyintas itu serasa memperoleh pencerahan hidup baru yang segar, yang tidak ditemukan di ruang kelas sewaktu kuliah. Terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa orientasi hidup manusia sekadar mengejar kesenangan dan menghindari rasa sakit yang keduanya bersifat fisikal-emosional.

Dunia manusia lebih luas daripada sekadar aktivitas fisikal dan emosional. Dalam diksi kitab suci, dalam diri manusia terdapat tiga macam entitas: jasmani, nafsani, rohani. Physical, psychological, spiritual. Ketiganya menjadi pilar dalam menjalani hidup dan membangun hidup yang bermakna (meaningful life).

Di balik tindakan fisik dan dorongan emosi terdapat entitas spiritual yang menjadi acuan nilai dari kehidupan ini. Orang yang hidupnya selalu memuja dan mengejar kemegahan fisik-material maka dunianya sangat sempit dan pendek. Betapa pendeknya usia sebuah jabatan. Betapa singkatnya pesta pora berlangsung.

Ada dua kata kunci emas yang saya dapatkan dari penyintas: syukur dan cinta. Alhamdulillah, atas anugerah Tuhan, kita masih bisa meneruskan kehidupan hingga hari ini. Jika syukur ibarat cawan, maka cinta adalah isinya.

Bersyukur kepada Tuhan, diterus kan berupa cinta pada alam seisinya dan cinta kepada sesama manusia. Rasa syukur dan cinta adalah motor penggerak pembangunan peradaban sepanjang sejarah manusia. Karena dorongan cinta, ego pribadi lebur masuk ke dalam ego kemanusiaan universal.

Perbedaan dan keragaman perilaku manusia lalu terlihat bagaikan pelangi yang menyajikan keindahan. Namun, hidup mesti tetap kritis dan peduli ketika melihat berbagai penyimpangan sosial yang terjadi. Bagaikan dokter yang peduli kliennya semata karena dorongan kasih, bukan karena benci atau dendam.

 

Ketika akhirnya sembuh, mereka merasa bagaikan terlahir kembali atau memperoleh anugerah hidup yang kedua kali, lalu dengan kacamata baru memandang dan menjalani hidup. Sebuah kesadaran yang sangat intens, betapa rapuhnya kekuatan fisik manusia. Jatah umur ini sangatlah pendek. Ketika bayang-bayang kematian sudah di pelupuk mata, jabatan, kekayaan, dan ketenaran yang telah diraih serta dibanggakan nya akhirnya tercerabut lepas bagaikan debu diterpa angin.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI