Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Financial & Banking Outlook 2027

Akselerasi Terbatas Eranya Main Lebih Cerdas

Perbankan memasuki 2027 dengan mesin bisnis yang kembali menguat. Hanya saja, kelihatannya ruang ekspansi tak lagi seluas sebelumnya. Tantangannya bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menjadi bagaimana menjaga kualitas pertumbuhan di tengah tekanan funding, margin, dan risiko aset.

Oleh Ari Nugroho
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

Perbankan nasional mulai memasuki fase baru. Setelah melewati periode penuh tekanan dan penyesuaian, mesin bisnis bank kini kembali bergerak lebih kencang, didorong oleh menguatnya penyaluran kredit dan membaiknya aktivitas ekonomi. Tapi, di balik ekspansi itu, tantangan baru mulai muncul, bagaimana menjaga pertumbuhan tetap sehat ketika biaya dana, likuiditas, kualitas aset, dan tekanan terhadap margin bergerak bersamaan.

Menurut data Biro Riset Infobank (birI), hingga Juni 2026, aset bank umum tercatat Rp14.360,39 triliun, tumbuh 11,99% secara tahunan. Sementara, kredit melaju 12,49% menjadi Rp9.187,98 triliun. Angka itu menunjukkan mesin intermediasi kembali bekerja lebih agresif setelah pertumbuhan aset sempat melambat pada 2023-2024.

Masalahnya, pertumbuhan bisnis yang kencang belum otomatis membuat cuan ikut berlari. Laba bersih bank umum per Juni 2026 memang naik 6,27% menjadi Rp139,62 triliun, tapi kecepatannya jauh di bawah pertumbuhan kredit dan aset. ROA pun turun dari 2,58% menjadi 2,47%, sedangkan NIM hanya bergerak tipis dari 4,48% menjadi 4,50%.

Di sinilah persoalan utama bank-bank mulai terlihat. Bank mampu memperbesar neraca, tapi tambahan skala bisnis belum sepenuhnya berubah menjadi tambahan profit dalam kecepatan yang sama. Artinya, tantangan perbankan bukan lagi sekadar bagaimana menggenjot kredit, melainkan bagaimana membuat pertumbuhan kredit tetap menghasilkan return yang sehat.

Sementara itu, dari sisi pendanaan, DPK tumbuh 10,23% menjadi Rp10.281,79 triliun. Tapi, deposito tumbuh 12,16%, lebih cepat dibandingkan dengan tabungan yang naik 8,25%, sehingga akselerasi funding masih cukup bergantung pada dana mahal. Kondisi ini memberi ruang pendanaan, tapi sekaligus membuat cost of fund menjadi isu yang makin penting.

Tekanan funding menjadi kian terasa karena kredit tumbuh lebih cepat daripada DPK. Gap itu membuat LDR naik dari 86,40% per Juni 2025 menjadi 88,32% pada Juni 2026. Secara sederhana, bank memang makin aktif menyalurkan dana, tapi ruang likuiditas juga ikut menyempit sehingga liquidity buffer dan strategi pendanaan harus dikelola lebih hati-hati.

Untungnya, di tengah kondisi itu, kualitas kredit justru masih memberikan napas lega. NPL gross turun dari 2,20% menjadi 2,07%, sementara LAR turun dari 9,73% menjadi 8,47% dalam setahun. Jadi, ekspansi kredit yang mencapai 12,49% tidak diikuti lonjakan risiko kredit secara agregat.

Lebih jauh, peta persaingan perbankan berdasarkan KBMI juga makin terkonsentrasi. Bank-bank raksasa yang ngumpul di KBMI 4 menjadi motor utama pertumbuhan dengan kredit naik 16,40%, DPK 12,83%, dan laba 7,65%.

Secara pangsa, bank-bank penghuni KBMI 4 sangat dominan. Di sisi laba saja, misalnya, kelompok ini menyumbang sekitar 68,32% laba bersih industri. Sebaliknya, bank-bank mini di KBMI 1 menghadapi tekanan di tiga sisi sekaligus, yakni kredit yang hanya tumbuh 0,22%, DPK turun 5,99%, dan laba merosot 11,97%.

Persaingan mendapatkan dana pun tak ringan. Menurut Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, kenaikan BI-Rate 100 bps pada April-Juli 2026 diikuti kenaikan rata-rata tertimbang bunga DPK rupiah 19 bps dan bunga kredit rupiah 15 bps. Menurutnya, bank perlu menjaga keseimbangan biaya pendanaan, kualitas aset, dan keberlanjutan kredit, termasuk dengan memperbesar porsi dana murah.

Special rate menjadi salah satu titik panas perebutan dana. OJK mencatat bunga deposito naik 39 bps secara bulanan hingga Juli 2026, dan persaingan memperoleh dana besar berpotensi meningkatkan cost of fund. “Persaingan penghimpunan dana yang terlalu agresif berpotensi meningkatkan cost of fund perbankan, dan pada akhirnya dapat menekan profitabilitas serta membatasi ruang penurunan suku bunga kredit,” kata Dian melalui keterangan tertulisnya, bulan lalu.

Di sisi penyaluran, akselerasi kredit juga memperlihatkan perubahan sumber permintaan. Jika dilihat berdasarkan kelompok debitur, pertumbuhan kredit bank-bank Himbara pada Juli 2026 mencapai 16,95% secara tahunan, meningkat signifikan dari 7,63% pada Juli 2025. Kredit kepada BUMN/BUMD tumbuh 57,79%, sementara kredit kepada swasta nonlembaga keuangan tumbuh 23,87%, menunjukkan bahwa akselerasi tidak hanya bertumpu pada perusahaan pelat merah.

Tapi, jika dikaitkan dengan pertumbuhan kredit Juni 2026 yang mencapai 12,49%, pola itu membantu menjelaskan mengapa ekspansi pembiayaan bisa melaju lebih cepat daripada DPK. Sebagian dorongan kredit datang dari kebutuhan pembiayaan program prioritas pemerintah yang banyak melibatkan Himbara. Tapi, permintaan organik tetap berjalan karena sektor-sektor usaha lain juga tumbuh.

Irman Faiz, Lead Economist Bank Danamon, melihat fenomena tersebut sebagai salah satu karakter penting pertumbuhan kredit tahun ini. “Jadi, ini lebih kepada nonorganic demand. Permintaan organik tetap ada karena kredit di sektor lain juga tumbuh, tapi Himbara tumbuh lebih tinggi karena adanya mandat,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.

Kondisi itu membuat pertumbuhan kredit 2026 perlu dibaca secara lebih utuh. Di satu sisi, ekspansi pembiayaan menunjukkan perbankan memiliki ruang intermediasi yang besar dan ikut menopang agenda pembangunan. Di lain sisi, ketika sebagian akselerasi berasal dari program prioritas, keberlanjutan pertumbuhan ke depan akan sangat bergantung pada seberapa kuat permintaan kredit swasta dan sektor riil berkembang setelah dorongan program itu diperhitungkan.

Hal ini terlihat dari besarnya fasilitas kredit yang belum ditarik. Undisbursed loan mencapai Rp2.548 triliun pada Juli 2026, naik 7,80% dari setahun sebelumnya, menunjukkan bahwa ruang pembiayaan sebenarnya masih tersedia. Debitur masih menahan penarikan karena siklus bisnis, progres proyek, arus kas, kenaikan biaya pendanaan, hingga perlambatan permintaan.

Tapi, memang, pada kenyataannya kredit korporasi tetap menopang pertumbuhan kredit perbankan. Kredit ke segmen ini tumbuh jauh lebih cepat ketimbang ke sektor UMKM. Pada Juli 2026, kredit korporasi tumbuh 22,10%, sementara kredit UMKM hanya naik 1,62%. Ini menunjukkan bahwa mesin kredit saat ini masih sangat kuat di korporasi, sementara transmisi pertumbuhan ke UMKM dan sektor ekonomi yang lebih luas belum sepenuhnya maksimal.

Ke depan, Infobank Institute melihat kondisi funding sebagai tantangan penting bagi perbankan ketika era suku bunga tinggi bertahan. Bank tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan bunga untuk menjaga margin. Di tengah suku bunga tinggi, non interest income atau fee based income (FBI) harus didorong. Jangan hanya mengandalkan kenaikan bunga. Strateginya bergeser dari sekadar memperbesar kredit menjadi memperdalam hubungan dengan nasabah melalui pelbagai layanan.

Tantangan lain datang dari kondisi geopolitik dan nilai tukar. Fragmentasi rantai pasok, proteksionisme, volatilitas mata uang, serta pergeseran modal ke aset safe haven dapat menekan biaya impor dan perusahaan yang memiliki kewajiban valuta asing. Jalurnya cukup jelas. Rupiah melemah, biaya impor naik, margin debitur tertekan, arus kas terganggu, lalu kemampuan membayar kredit ikut melemah.

Karena itu, bank membutuhkan asset liability management (ALM) yang lebih tajam. ALM bukan sekadar mengatur likuiditas, tapi juga mengantisipasi mismatch tenor, perubahan suku bunga, struktur DPK, pricing kredit, LDR, dan sensitivitas NIM. Ketika dana menjadi lebih mahal, pertumbuhan kredit yang terlalu agresif justru bisa menjadi bumerang jika tidak ditopang funding yang murah dan stabil.

Wajah perbankan 2027 kemungkinan akan berbeda dari 2026. Infobank memprediksi pertumbuhan DPK dan kredit pada 2027 cenderung moderat dan tidak sekuat 2026. Makanya, bank tak bisa lagi hanya mengandalkan jurus lama: menghimpun DPK, menggenjot kredit, lalu mengejar laba dari bunga. Pertumbuhan akan makin ditentukan oleh kemampuan menjaga funding tetap efisien, memperkuat fee income, memperluas sumber permintaan kredit, mempertahankan kualitas aset, dan mengelola risiko secara lebih presisi. 

Menurut data Biro Riset Infobank (birI), hingga Juni 2026, aset bank umum tercatat Rp14.360,39 triliun, tumbuh 11,99% secara tahunan. Sementara, kredit melaju 12,49% menjadi Rp9.187,98 triliun. Angka itu menunjukkan mesin intermediasi kembali bekerja lebih agresif setelah pertumbuhan aset sempat melambat pada 2023-2024.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI