Pasar modal Indonesia memasuki 2027 dengan peluang pemulihan yang terbuka, tapi juga membawa pekerjaan rumah besar setelah gejolak di 2026. Tantangannya bukan sekadar mengangkat IHSG, melainkan membangun pasar yang lebih dalam, likuid, transparan, dan dipercaya ketika tekanan global serta arus modal asing masih sulit ditebak.
Sumber : Istimewa
TAHUN 2026 adalah tahun yang berat bagi pasar saham Indonesia. Sampai penutupan Jumat, 11 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.541,37. Dibandingkan dengan penutupan akhir 2025 di 8.646,94, indeks sudah terkoreksi sekitar 24%. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tinggal Rp11.446 triliun.
Angka itu hanya separuh cerita. Separuh lainnya jauh lebih menarik. Titik terendah tahun ini terjadi pada 8 Juni 2026, saat IHSG ditutup di 5.342. Itu level terendah sejak akhir 2020. Dari titik itu, indeks sudah naik sekitar 22% dalam tiga bulan. Agustus saja memberi kenaikan 4,6% ke level 6.525,48.
Pada minggu kedua September pasar memang mendingin. IHSG turun 1,43% sepanjang 7 sampai 11 September. Kapitalisasi pasar menyusut Rp153 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian turun 14,88% menjadi Rp16,36 triliun. Investor asing kembali jual bersih Rp3,36 triliun setelah sepekan sebelumnya beli bersih Rp2,31 triliun. Tekanan datang dari saham berbobot besar. BBCA turun 5,60% dan memangkas indeks 33 poin. BYAN turun 10,51% dan BBRI turun 3,54%.
Secara sektor, barang konsumsi siklikal turun 3,17%, teknologi 3,14%, dan properti 2,62%. Hanya industri dan kesehatan yang bertahan di zona hijau. Koreksi seperti ini wajar setelah kenaikan 22%. Yang lebih penting adalah melihat apa yang berubah di bawah permukaannya.
Premi Risiko Sedang Turun
Pemulihan sejak Juni bukan kebetulan. Premi risiko Indonesia sedang turun, dan itu ditopang tiga hal. Pertama, arah kebijakan fiskal. RAPBN 2027 mematok defisit 2,4% dari PDB. Itu yang tersempit sejak 2024 dan lebih rendah daripada target tahun ini. Pemerintah juga memasang target pertumbuhan ekonomi 6% untuk 2027. Jika tercapai, itu yang tertinggi sejak 2012.
Kedua, kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Bank Indonesia (BI) menahan BI-Rate di 5,75% pada Agustus. Tapi, BI memangkas penerbitan SRBI dari Rp116 triliun pada Juli menjadi Rp49 triliun pada Agustus, dan membiarkan imbal hasilnya turun ke bawah 7,1% dari 7,5%. Likuiditas kembali mengalir ke perbankan domestik. Imbal hasil SBN 10 tahun ikut turun 31 basis poin ke level 7%.
Ketiga, perbaikan sisi eksternal. Rupiah menguat 1,7% sepanjang Agustus. Defisit neraca pembayaran kuartal II 2026 menyempit tajam menjadi US$0,9 miliar dari US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Asing Kembali, tapi Lewat Obligasi
Ini bagian yang paling sering salah dibaca. Modal asing memang sudah kembali, tapi belum ke saham. Sepanjang Agustus lalu, investor asing membukukan beli bersih US$840 juta di Surat Berharga Negara (SBN). Itu bulan ketiga berturut-turut. Kepemilikan asing di SBN naik ke 14,1%. Di SRBI, arus masuk sejak awal tahun mencapai US$9,9 miliar.
Di pasar saham, ceritanya berbeda. Asing masih jual bersih US$200 juta pada Agustus. Akumulasi keluar sejak awal tahun sampai dengan akhir Agustus mencapai US$5,6 miliar. Kepemilikan asing di saham turun ke 31%. Sebaliknya, kepemilikan ritel domestik naik ke 51%. Pasar saham kita hari ini ditopang uang lokal.
Kabar baiknya, penjualan asing mulai selektif. Sektor keuangan mencatat arus masuk asing pertama pada 2026, senilai US$146 juta. Pola ini penting. Asing biasanya masuk ke obligasi lebih dulu, lalu bergeser ke saham setelah arah suku bunga dan kurs terlihat jelas. Kami menilai saham ada di antrean berikutnya.
Indeks Sudah di Target
Kami mempertahankan target IHSG di 6.600 untuk akhir tahun ini. Target itu setara P/E 10,9 kali dengan asumsi pertumbuhan laba 2%. Dengan IHSG di 6.541, artinya indeks praktis sudah berada di target kami. Ini yang perlu dipahami investor. Bagian termudah dari pemulihan ini sudah lewat. Kenaikan 22% dari dasar Juni sebagian besar adalah koreksi atas kepanikan, bukan perbaikan laba.
Asumsi laba kami memang konservatif, hanya 2%. Kami tidak melihat siklus laba emiten berbalik cepat tahun ini. Jadi, sumber imbal hasil ke depan bukan lagi kenaikan indeks, melainkan pilihan saham dan dividen. Rata-rata P/E IHSG saat ini masih di sekitar sembilan kali, jauh di bawah rata-rata lima tahunnya. Ruang itu ada, tapi tidak merata di semua sektor.
Rotasi ke Bank Murah dan Emiten Dolar
Strategi sektor kami sederhana. Rotasi ke bank yang sehat dan masih murah, serta ke emiten berpendapatan dolar, yaitu logam dan batu bara. Pilar dari tesis dasar ini adalah arah kebijakan pertambangan yang lebih ramah bisnis. Risiko kebijakan yang menekan saham komoditas beberapa waktu terakhir kini sudah sebagian terurai. Kuota RKAB untuk semester II 2026 dinaikkan. Ini memberi kepastian volume, dan kepastian volume adalah hal yang paling dihargai pasar.
Karena itu, preferensi kami melebar dari emas ke logam dasar dan batu bara. Pilihan utama kami adalah ANTM, AMMN, BUMI, dan TINS. Keempatnya diuntungkan dua hal sekaligus. Harga komoditas yang bertahan dan pendapatan dalam dolar yang berfungsi sebagai lindung nilai alami bila rupiah kembali tertekan.
Data Agustus mendukung arah ini. Sektor barang baku naik 13,1% dalam sebulan dan menjadi pemimpin bursa, dipimpin saham berbasis emas. Energi menyusul dengan 8,7%. Saham batu bara mengalami re-rating 12% dalam sebulan, tertinggi di antara seluruh sektor.
Di perbankan, kami memilih satu nama sebagai top pick, yaitu BMRI. Alasannya dua. Kualitas aset yang tinggi, dan imbal hasil dividen sekitar 9%. Koreksi saham bank pekan lalu justru membuat titik masuknya lebih baik. Di tengah suku bunga yang mulai turun, dividen sebesar itu memberi bantalan sekaligus alasan untuk sabar menunggu.
Risiko yang Harus Diawasi
Pandangan ini bukan tanpa risiko. Ada empat hal yang kami awasi. Pertama, ketegangan geopolitik. Eskalasi baru bisa mengangkat harga minyak dan menekan neraca impor Indonesia. Kedua, pelebaran defisit anggaran. Target fiskal yang ambisius masih perlu dibuktikan realisasinya.
Ketiga, pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada kuartal II 2026 angkanya melebar menjadi US$12,5 miliar. Perbaikan neraca pembayaran kemarin ditopang arus modal, bukan perdagangan. Fondasi seperti ini rapuh dan mudah berbalik. Keempat, ketidakpastian kebijakan pemerintah. Ini yang paling sulit dimodelkan dan paling cepat mengubah harga.
Yang Perlu Dilakukan Investor
Gambarannya cukup jelas. Tahun ini berat, tapi titik terburuknya sudah lewat pada Juni. Premi risiko sedang turun. Dana asing sudah mulai pulang, meski baru lewat pintu obligasi.
Yang berubah adalah cara mencari untungnya. Membeli indeks tidak lagi cukup. Investor perlu memilih. Bank dengan kualitas aset baik dan dividen tinggi, serta emiten komoditas dengan pendapatan dolar, adalah dua tempat yang menurut kami paling masuk akal untuk ditunggu sepanjang sisa tahun ini.
Bukan Soal ke Mana IHSG Bergerak
Pasar modal Indonesia menghadapi tahun yang tidak ringan. Gejolak ekonomi global, perang dagang, arah suku bunga negara maju, pergerakan dolar AS, dan tensi geopolitik membuat investor harus lebih lincah membaca risiko. Di dalam negeri, ekonomi masih punya daya tahan, tapi pasar membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi untuk kembali membangun kepercayaan.
Peluangnya tetap terbuka lebar. Ekonomi Indonesia yang masih tumbuh dapat mendorong kebutuhan pembiayaan korporasi, baik melalui saham maupun surat utang. Basis investor domestik yang terus membesar juga menjadi bantalan penting ketika arus dana asing bergerak lebih volatil. Tantangannya, investor lokal tak cukup hanya bertambah jumlahnya. Mereka perlu menjadi sumber likuiditas yang lebih dalam dan berjangka panjang.
Di lain sisi, global market masih akan menjadi sumber tekanan. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed, kekuatan dolar AS, harga komoditas, hingga konflik geopolitik dapat memicu perpindahan dana dengan cepat. Pasar saham Indonesia pun berpotensi tetap menghadapi volatilitas tinggi. Dalam kondisi seperti ini, fundamental ekonomi domestik yang solid menjadi modal penting, tapi belum tentu cukup jika investor masih mempertanyakan kualitas dan integritas pasar.
Di sinilah agenda reformasi pasar modal menjadi penting. Demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan free float, transparansi kepemilikan, peningkatan enforcement, serta pengembangan instrumen investasi dapat menjadi game changer jika dijalankan konsisten. Perubahan itu memang bisa menimbulkan adjustment dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang berpeluang memperbaiki governance, likuiditas, price discovery, dan kepercayaan investor. Pasar modal tak cukup hanya ramai. Pasar juga harus dipercaya.
Karena itu, Infobank Institute melihat, cerita pasar modal Indonesia pada 2027 bukan semata soal ke mana IHSG bergerak. Pertarungan yang lebih besar adalah bagaimana Indonesia mengubah pertumbuhan ekonomi menjadi pendalaman pasar, mengubah basis investor yang besar menjadi likuiditas yang kuat, serta mengubah reformasi regulasi menjadi trust. Jika peluang domestik bisa dimanfaatkan dan tantangan global dikelola dengan baik, 2027 dapat menjadi fase penting menuju pasar modal yang lebih dalam, transparan, dan kredibel, bukan hanya lebih besar, tapi juga lebih berkualitas. Ar
Angka itu hanya separuh cerita. Separuh lainnya jauh lebih menarik. Titik terendah tahun ini terjadi pada 8 Juni 2026, saat IHSG ditutup di 5.342. Itu level terendah sejak akhir 2020. Dari titik itu, indeks sudah naik sekitar 22% dalam tiga bulan. Agustus saja memberi kenaikan 4,6% ke level 6.525,48.