Mengambil kredit kendaraan boleh-boleh saja, asal sesuai kemampuan finansial. Hitung cicilan dan biaya kepemilikan agar kendaraan impian tak jadi beban keuangan
MEMILIKI mobil atau sepeda motor impian kini makin gampang. Cukup membayar uang muka, kendaraan bisa langsung dibawa pulang, sementara sisanya dicicil setiap bulan. Tapi, sebelum mengajukan kredit kendaraan, ada beberapa hal yang harus diperhati kan. Salah satunya, memastikan kondisi keuangan.
Menurut Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, masyarakat hendaknya tidak terburu-buru mengambil pembiaya an hanya karena tergiur promosi atau ingin memiliki kendaraan tertentu. Calon debitur perlu memastikan terlebih dahulu kondisi keuangannya, ter masuk memeriksa riwayat kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). “Yang pertama, siapkan data diri, terutama cek SLIK. Kalau ada catatan kredit yang kurang baik, perbaiki dulu,” ujar pria yang akrab disapa Satyo ini kepada Infobank, bulan lalu.
Catatan kredit yang kurang baik bisa menjadi penghambat pengajuan kredit. Karena itu, pastikan tidak ada tunggakan kewajiban lama yang belum diselesaikan. Jika masih ada tunggakan, bereskan dulu dan pastikan status pembayarannya sudah diperbarui.
Hal berikutnya adalah meng hitung kemampuan membayar cicilan. Jangan cuma melihat besar nya penghasilan atau batas pem biaya an yang ditawarkan. Pengeluaran rutin, kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, dana darurat, dan kewajiban lainnya juga harus diperhitungkan.
Sebagai gambaran, Satyo menyarankan masyarakat untuk memperhatikan proporsi cicilan terhadap pendapatan. Angka sekitar 30% dari penghasilan bisa menjadi acuan awal untuk menilai kemampu an membayar. Meski begitu, angka itu bukan patokan mutlak karena kondisi keuangan dan kebutuhan hidup setiap orang berbeda.
Calon debitur juga perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kendaraan itu benar-benar dibutuhkan? Membeli mobil atau sepeda motor hanya demi gengsi, mengikuti tren, atau mengejar promosi bisa menambah beban keuangan yang sebenarnya tak perlu. Sebaliknya, jika kendaraan dibutuhkan untuk bekerja, menunjang aktivitas keluarga, atau mengembangkan usaha, pembiayaan bisa menjadi pilihan yang masuk akal selama perhitungannya realistis.
Selain kebutuhan, harga kendara an harus sesuai dengan kemampuan finansial. Bagi yang baru pertama kali mengambil kredit, tidak perlu memaksa kan diri membeli kendaraan mahal. Pilih kendaraan dengan cicil an yang masih nyaman dibayar setiap bulan.
Jangan lupa, biaya memiliki kendaraan tidak berhenti pada angsuran saja. Ada biaya bahan bakar, servis, pajak, asuransi, hingga parkir yang mesti disiapkan. Khusus mobil, ketersediaan tempat parkir atau garasi juga perlu dipikirkan sejak awal. Semua pengeluaran itu harus masuk dalam budget planning agar pemilik kendaraan tidak hanya sanggup membayar cicilan, tapi juga mampu menanggung biaya operasionalnya.
Terakhir, pahami perlindungan asuransi yang menyertai pembiayaan. Jangan langsung beranggapan bahwa seluruh risiko kehilangan kendaraan pasti ditanggung per usahaan asuransi. Pelajari isi polis. Jika ada bagian yang belum jelas, tanyakan kepada perusahaan pembiayaan atau asuransi sebelum menandatangani perjanjian.
Menurut Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, masyarakat hendaknya tidak terburu-buru mengambil pembiaya an hanya karena tergiur promosi atau ingin memiliki kendaraan tertentu. Calon debitur perlu memastikan terlebih dahulu kondisi keuangannya, ter masuk memeriksa riwayat kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). “Yang pertama, siapkan data diri, terutama cek SLIK. Kalau ada catatan kredit yang kurang baik, perbaiki dulu,” ujar pria yang akrab disapa Satyo ini kepada Infobank, bulan lalu.
Catatan kredit yang kurang baik bisa menjadi penghambat pengajuan kredit. Karena itu, pastikan tidak ada tunggakan kewajiban lama yang belum diselesaikan. Jika masih ada tunggakan, bereskan dulu dan pastikan status pembayarannya sudah diperbarui.