Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ancaman AI, Pertahanan Siber Perbankan Diuji

Ancaman serangan siber berbasis AI tengah mengintai industri perbankan. Dengan frekuensi serangan yang terus meningkat, bank-bank wajib meningkatkan kewaspadaan dan protokol keamanan guna meminimalisasi bobolnya pertahanan siber.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) ibarat pisau bermata dua. Kehadirannya banyak membantu aktivitas sehari-hari, tapi di lain sisi bisa dimanfaatkan untuk menginisiasi serangan siber. Laporan perusahaan keamanan siber Crowd Strike menyebutkan bahwa aktivitas peretasan dengan menggunakan AI meningkat 89% dari tahun sebelum nya.

Para peretas tidak hanya menyerang menggunakan AI, tetapi juga secara aktif mengeksploitasi perangkat lunak dan prompt pada sistem AI. Kehadiran AI juga mempermudah penjahat siber membobol pertahanan lawan, dari yang awalnya membutuh kan waktu 29 menit menjadi hanya 29 detik.

Menurut laporan yang sama, sektor keuangan, termasuk perbank an, menjadi sektor keempat yang menjadi sasaran empuk serangan siber, dengan pangsa mencapai 11%. Chris Hockings, APAC Cyber Chief Technology Officer (CTO) IBM, mengungkapkan bahwa ancaman siber ber basis AI terhadap sektor keuangan mulai terjadi secara nyata di Indonesia.

“Seiring sektor perbankan Indonesia yang makin terkoneksi secara digital, AI memungkinkan pelaku ancaman (siber) untuk terus mencari dan menguji celah keamanan pada permukaan serangan yang makin luas dalam skala yang sulit dilakukan secara berkelanjutan oleh manusia,” katanya melalui keterangan tertulis kepada Infobank. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang ditelaah IBM, pemantauan dan pengelolaan akses di sektor keuangan masih bervariasi.

Bank yang belum menggunakan AI dan otomatisasi dalam operasi keamanan membutuhkan waktu 65 hari lebih lama untuk menangani kebocoran data. Hal ini menunjukkan kesenjangan kesiapan keamanan. Bank yang belum berinvestasi dalam deteksi berbasis AI dinilai masih tertinggal dalam menghadapi ancaman siber. Kapasitas sumber daya manusia (SDM) juga perlu diperkuat karena bisa menjadi celah dalam pertahanan siber. Dengan meningkatnya potensi serangan, perbankan harus terus meningkatkan kesiapan menjaga keamanan siber.

Terkait dengan hal itu, Bank Central Asia (BCA) menekankan pentingnya memperkuat pilar-pilar utama pertahanan siber serta konsis ten memantau potensi serangan. Hal ini disampaikan Wani Sabu, Senior Advisor Fraud Banking BCA.

“Untuk memitigasi serangan siber berbasis AI, BCA terus memperkuat aspek people, process, dan technology. Selain itu, BCA secara rutin menguji sistem keamanan melalui penetration test dan melaksanakan latihan cyber drill sehingga dampak serangan dapat diminimalkan,” jelas Wani melalui pesan singkat kepada Infobank.

Pada aspek people, BCA mengedukasi karyawan, nasabah, dan mitra untuk menjaga kerahasiaan data pribadi. Dari sisi process, keamanan dipantau 24 jam sehari oleh tim security operation center (SOC), disertai kolaborasi dengan regulator dan sesama bank untuk berbagi threat intelligence serta memblokir rekening penampung. Terakhir, aspek technology diperkuat melalui perlindungan berlapis, pemanfaatan machine learning dan analitik perilaku untuk mendeteksi transaksi mencurigakan, serta penguatan autentikasi.

Pada akhirnya, menghadapi ancaman siber berbasis AI tak cukup hanya dengan memperkuat teknologi. Kesiapan SDM, proses pengamanan, dan kemampuan merespons ancaman juga perlu berjalan beriringan agar transformasi digital perbankan tetap aman. l

 

Para peretas tidak hanya menyerang menggunakan AI, tetapi juga secara aktif mengeksploitasi perangkat lunak dan prompt pada sistem AI. Kehadiran AI juga mempermudah penjahat siber membobol pertahanan lawan, dari yang awalnya membutuh kan waktu 29 menit menjadi hanya 29 detik.

Menurut laporan yang sama, sektor keuangan, termasuk perbank an, menjadi sektor keempat yang menjadi sasaran empuk serangan siber, dengan pangsa mencapai 11%. Chris Hockings, APAC Cyber Chief Technology Officer (CTO) IBM, mengungkapkan bahwa ancaman siber ber basis AI terhadap sektor keuangan mulai terjadi secara nyata di Indonesia.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2026

Rp 65.000

BELI