Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Awaldi

Revolusi Benefit “in This Economy”

PENULIS ADALAH PEMERHATI SDM BANK DAN CONSULTING DIRECTOR PADA MARSH/MERCER INDONESIA.

Oleh Awaldi
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

PAGI itu, Senin 19 Oktober 2026, Nurdin sedang naik MRT Kajang Lines dari Semantan, Kuala Lumpur (KL), menuju ke Mandarin Oriental Hotel di KLCC (KL City Center) tempat meeting regional HR selama dua hari akan berlangsung.

Nurdin adalah direktur HR salah satu bank di Jakarta. Nurdin sengaja tidak tinggal di Mandarin Oriental. Dia memilih lokasi hotel sekitar Mont Kiara. Kawasan sub-urban KL. Dia punya kenangan khusus tinggal di kompleks perumahan mewah ini. Dulu waktu ditugaskan di KL pada 2007-2008, dia pernah tinggal di apartemen persis sebelah hotel tempat dia menginap sekarang, Hyatt House. Tentu waktu itu hotel ini belum dibangun.

Dari Mont Kiara, Nurdin memesan Grab menuju stasiun MRT di Semantan yang jaraknya cuma 10 menit. Dulu waktu dia bekerja di kantor di Semantan itu, dia ingat belum ada stasiun MRT. Stasiun MRT ini memang baru dibangun tepat sebelum COVID-19.

Dalam kereta MRT itu, Nurdin merenungkan kembali apa saja yang terjadi di Jakarta sejak Jumat pagi 16 Oktober. Bursa saham Indonesia (BEI) diusulkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) di-downgrade ke status standalone market. Artinya kalau itu terjadi, banyak investor institusi besar akan meninggalkan gelanggang BEI.

Ini saja sudah terasa. Tanggal 19 Oktober pagi ketika Nurdin naik kereta menuju KLCC, IHSG sudah turun 15%, sementara saham blue chip seperti BCA dan BRI turun hampir 20%. Dan, harga dolar AS (US$) terhadap rupiah sudah naik ke level lebih dari Rp18.000. Nurdin ingat waktu dulu dia di KL zamannya SBY harga dolar AS hanya Rp9.000-an. Sekarang naik dua kali lipat!

Sebagai direktur HR, Nurdin merasa bertanggung jawab terhadap kualitas hidup karyawannya di era “in this economy”. Apa yang bisa dia lakukan untuk membuat karyawan tetap termotivasi? Nurdin tahu bahwa situasi perusahaan juga sedang struggling. Tidak mungkin serta-merta dia minta ke CEO untuk menaikkan pendapatan karyawan. Itulah yang dipikirkan Nurdin dalam perjalanan MRT dari Stasiun Kajang Semantan disambung LRT Kelana Jaya menuju KLCC.

Nurdin ingat lagi seminar yang akhir September lalu dia ikuti. Seminar diselenggarakan oleh Mercer/Marsh. Dalam seminar “Indonesia HR Conference 2026” itu banyak dibahas tentang tren HR 2026. Ada satu curiosity yang selalu singgah di benaknya sejak mengikuti acara itu; bagaimana membuat benefit tidak hanya dipandang sebagai biaya tapi sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas?

Nurdin sudah malang melintang dalam dunia HR dan bekerja di beberapa bank. Selama ini yang dia tahu dan dia pelajari adalah bahwa benefit itu foundational rewards yang oleh Herzberg, pakar psikologi organisasi, disebut sebagai hygiene factors.

Menurut Herzberg, benefit yang tidak sesuai dengan keinginan karyawan akan membuat karyawan tidak puas.

Akan tetapi, benefit yang berbiaya tinggi tidak akan membuat karyawan lebih termotivasi dan produktif. Benefit bukan motivation factors. Secara teoretis, sebaik apa pun benefitnya tidak akan mempunyai business impact. Sebagus apa pun fasilitas yang diberikan tidak akan menjadi investasi untuk produktivitas perusahaan. Akan tetapi, dari HR conference itu, Nurdin tahu bahwa mestinya manfaat benefit itu masih bisa direkayasa. Bayangkan, sekitar 30% 40% dari total biaya pegawai dihabiskan untuk benefit, seperti kesehatan, asuransi, kepemilikan mobil, dan pinjaman perumahan. Sayang sekali kalau semua itu tidak bisa dikaitkan dengan produktivitas!

Nurdin mikir terus dalam perut MRT itu. Mikir tak berkesudahan. Keluar dari MRT menuju LRT Kelana Jaya dengan jalan kaki lima menit, tiba-tiba tebersit sesuatu. “Yes!” Nurdin hampir setengah berteriak.

Melintas dalam benaknya, benefit jangan diberikan across the board tapi berikan sesuai dengan kebutuhan karyawan saja! Kalau diberikan sesuai kebutuhan karyawan, tentu akan bisa membantu karyawan menyelesaikan persoalan dan mencapai keinginannya, bahkan “in this economy” sekalipun.

Nurdin tahu, tanpa tambahan biaya, dia bisa melakukan transformasi. Nurdin mikir harusnya kasih benefit umum yang standar minimal saja, kalau bisa sangat minimal. Sehabis itu baru top-up dengan minta masing-masing karyawan memilih sendiri jenis benefit apa yang sesuai dengan keinginannya.

Nurdin keluar dengan formula biaya: 30% berupa benefit standar, 30% lagi benefit yang sesuai dengan segmen karyawan baik dari segi generasi maupun bisnis, dan sisanya sesuai dengan keinginan masing masing.

Sesampainya di Mandarin Oriental, Nurdin tidak langsung menuju ruang meeting. Dia berhenti di lobi hotel. Dia membuka laptopnya cepat-cepat seperti tidak mau kehilangan momentum, lalu langsung menuliskan email ditujukan ke CEO nya yang selama ini sudah menjadi teman diskusinya yang punya pemikiran lebih kurang sama. Judul email-nya itu “Revolusi Benefit”. l

Nurdin adalah direktur HR salah satu bank di Jakarta. Nurdin sengaja tidak tinggal di Mandarin Oriental. Dia memilih lokasi hotel sekitar Mont Kiara. Kawasan sub-urban KL. Dia punya kenangan khusus tinggal di kompleks perumahan mewah ini. Dulu waktu ditugaskan di KL pada 2007-2008, dia pernah tinggal di apartemen persis sebelah hotel tempat dia menginap sekarang, Hyatt House. Tentu waktu itu hotel ini belum dibangun.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2026

Rp 65.000

BELI