Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat, para orang tua di Indonesia makin cermat menyiapkan masa depan anak, mulai dari menabung di bank hingga berinvestasi emas. Riset ini mengungkap tren, pola perilaku, dan strategi nasabah dalam mengelola dana pendidikan, sekaligus membuka peluang bagi industri keuangan untuk menghadirkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Sumber : Istimewa
DATA Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan siklus inflasi pendidikan secara konsisten memuncak setiap tahun ajaran baru (Juli Agustus). Rekor inflasi tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada Agustus 2022 (1,85%) dan Agustus 2021 (1,20%).
Pada rilis terbaru Juli 2026, kelompok pendidikan menyumbang 0,03% terhadap inflasi umum nasional. Kenaikan ini didorong oleh dua tingkat pendidikan: taman kanak-kanak (TK) dengan inflasi naik ke angka 1,73% (lebih tinggi dari Juli 2025: 1,59%) dan sekolah dasar (SD) yang mencatatkan inflasi 1,17% (lebih rendah dari Juli 2025: 1,65%). Kondisi ini mendorong nasabah dari segmen keluarga muda untuk lebih cerdas dalam mengelola dana pendidikan.
Berdasarkan riset digital Marketing Research Indonesia (MRI) yang dilakukan terhadap 321 interaksi para nasabah di media sosial pada periode Juni 2026, 62% memilih investasi emas sebagai instrumen utama. Rekening tabungan bank reguler berada di posisi kedua dengan persentase 40%, disusul reksa dana sebesar 25%.
Berkaca pada inflasi biaya pendidikan tersebut, orang tua sadar bahwa bunga tabungan bank biasa tidak mampu mengejar kenaikan uang pangkal sekolah dan biaya kuliah. Selain itu, ada motif psiko logis, di mana menyimpan uang tunai di rekening dinilai “terlalu likuid” dan rawan terpakai untuk kebutuhan sehari hari. Emas, di lain sisi, menciptakan hambatan psiko logis untuk dijual kembali sehingga dana pendidikan benar-benar terkunci aman.
MRI membagi dua model pengelolaan dana simpanan pendidikan berdasarkan instrumen atau sumber dana yang digunakan:
· Single-Model merupakan model yang diadopsi 54% nasabah, di mana mereka mengandalkan satu instrumen secara konsisten. Mayoritas fokus menabung emas setiap bulan atau membuka satu rekening tabungan tanpa kartu ATM.
· Stacked-Model, di mana 46% nasabah membagi portofolio berdasarkan jenjang sekolah anak (time horizon bucket). Uang pangkal tidak hanya dipersiapkan di reksa dana pasar uang (RDPU), tetapi juga melalui tabungan bank digital, investasi emas, maupun saham. Model ini juga berlaku bagi nasabah yang mempersiapkan biaya kuliah anak mereka.
Empat Behavioral Archetypes Nasabah Dana Pendidikan
Sebanyak 40% nasabah secara eksplisit menguraikan perilaku mengelola dana untuk rentang usia dan jenjang pendidikan yang berbeda, di mana 58% perencanaan dana pendidikan anak didominasi oleh mereka yang baru memiliki anak hingga usia 1 tahun dan di tahap pre parenthood. Dari 207 nasabah, 77% dari mereka menggunakan gaji bulanan sebagai sumber dana pendidikan anak, diikuti uang THR atau hadiah sebesar 18%, dan sisanya dari hasil usaha.
Sementara itu, peran ibu (54%) mendominasi keputusan teknis, termasuk dalam memilih platform investasi, memisahkan pos belanja harian, hingga membeli emas. Diikuti keputusan bersama kedua orang tua (38%), umumnya terjadi pada penentuan target jangka panjang seperti dana kuliah. Sementara, peran ayah sebagai pengambil keputusan tunggal hanya sebesar 8%.
Oleh sebab itu, pengelompokan profil nasabah dikembangkan berdasarkan kesamaan pola perilaku psikologis, kebiasaan finansial, toleransi risiko, serta gaya pengambilan keputusan mereka dalam mengumpulkan dan mengelola dana untuk masa depan pendidikan anak.
· The Multi-Tier Allocator
Nasabah di kelompok ini adalah mereka yang melek finansial, memanfaatkan aplikasi investasi digital, dan membagi pos tabungan anak sesuai jenjang pendidikan. Mereka me manfaatkan RDPU untuk kebutuhan 1–3 tahun ke depan (TK/SD), SBN untuk biaya bulanan/SPP SMP-SMA, dan emas fisik atau saham blue chip untuk dana masuk perguruan tinggi.
· The Gold Centric
Kelompok ini mengonversi dana simpanan langsung ke emas fisik begitu menerima uang. Sangat menghindari menyimpan saldo tunai mengendap di bank. Nasabah di kelompok ini memiliki kebiasaan mengelola dana simpanan dengan rutin membeli emas 1 gram per bulan setiap gajian atau mengumpulkan uang saku/THR anak hingga cukup membeli 1 keping logam mulia.
· The Bank Accumulator
Mereka adalah nasabah yang lebih konservatif dan mengutamakan kepraktisan serta memiliki kekhawatiran uang terpakai jika tidak dipotong otomatis dari rekening gaji. Oleh sebab itu, mereka mengaktifkan fitur autodebit tabungan rencana/ berjangka dengan tenor 1–5 tahun dan cenderung belum tertarik dengan instrumen pasar modal karena faktor risiko fluktuasi nilai.
· The Seasonal & Micro Saver
Mengingat pendapatan bulanan habis untuk kebutuhan operasional rumah tangga, nasabah di segmen ini memiliki tabungan pendidikan anak tetapi sangat bergantung pada penerimaan dana musiman. Nasabah di kelompok ini mengumpulkan uang THR Lebaran, hadiah ulang tahun, atau uang saku dari kakek-nenek, lalu disetor ke rekening simpanan reguler atau simpanan pelajar, bahkan ada yang disimpan dalam celengan fisik.
Sekilas Mengenai Pemetaan Mentioned Brand dan Share of Voice
Dari 82 kali penyebutan nama institusi/brand dalam riset ini, perbankan masih memimpin secara agregat, tetapi platform investasi digital dan ekosistem emas telah mengambil porsi yang sangat signifikan. Bibit menjadi brand di kategori fintech dan platform investasi dengan nama yang paling banyak disebut, melampaui brand perbankan individual.
Bagaimana Nasabah Mengukur Kemampuan Menabung Mereka?
Untuk nasabah yang hanya mengandalkan produk simpanan dana pendidikan, sebagian besar menyisihkan uang di rentang Rp1 juta–Rp5 juta per bulan (43%), berbeda dengan 30% kelompok penghasilan terbatas, dengan setoran mikro kurang dari Rp1 juta. Kepingan emas 1–3 gram adalah ukuran paling populer (55%), di mana nasabah menganggap skala tersebut adalah target yang realistis dan terjangkau setiap menerima gaji. Terdapat perbedaan target antara nasabah yang berorientasi uang tunai dengan yang berorientasi tabungan emas. Orang tua yang menghitung secara nominal rupiah, rata-rata hanya menyiapkan Rp30 juta – Rp90 juta (mengacu pada uang pangkal saat ini). Sebaliknya, sebagian orang tua yang menabung berbasis gramasi mematok target terkumpul 100 gram hingga 200 gram emas.
Melihat perubahan perilaku tersebut, penyedia jasa layanan keuangan perlu lebih fokus pada perilaku nasabah yang meng inginkan proteksi nilai uang, fleksibilitas alokasi, dan kemudahan kontrol. Jasa layanan keuangan ritel dapat menjawab beberapa pertanyaan bisnis untuk bisa segera melakukan inovasi. Hasil riset ini dapat memberikan konteks awal sejauh mana jasa layanan keuangan mengelola simpanan dana pendidikan dengan model perilaku pendanaan yang berbeda-beda. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai riset ini, Anda dapat menghubungi mri@mri research-ind.com. l
Pada rilis terbaru Juli 2026, kelompok pendidikan menyumbang 0,03% terhadap inflasi umum nasional. Kenaikan ini didorong oleh dua tingkat pendidikan: taman kanak-kanak (TK) dengan inflasi naik ke angka 1,73% (lebih tinggi dari Juli 2025: 1,59%) dan sekolah dasar (SD) yang mencatatkan inflasi 1,17% (lebih rendah dari Juli 2025: 1,65%). Kondisi ini mendorong nasabah dari segmen keluarga muda untuk lebih cerdas dalam mengelola dana pendidikan.