Belum ada produk di keranjang belanja kamu

KRISNA WIJAYA

Risiko AI bagi Perbankan

Penulis adalah honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (lPPI). artikel ini merupakan pendapat pribadi.

Oleh Krisna Wijaya
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

KEHADIRAN artificial intelligence (AI) bagi pelaku bisnis perbankan sudah menjadi suatu pilihan yang harus diambil. Bukan karena ikut ikutan, melainkan sudah menjadi kebutuhan para nasabah bank. Kenyataannya, sudah banyak nasabah bank yang menggunakan AI. Demikian juga para karyawan bank. Sering kali terjadi, justru nasabah dan karyawan bank sudah terbiasa menggunakan AI, sementara banknya sendiri belum.

Sekadar ilustrasi, kita lihat apa yang dilakukan JP Morgan Chase. Mereka awalnya menggunakan AI fokus pada pekerjaan yang berulang, seperti terkait laporan manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola. Selanjutnya mulai ditingkatkan penggunaannya, yaitu mendeteksi penipuan yang pada umumnya sering terjadi dengan modus yang sama.

JP Morgan Chase juga menggunakan AI untuk analisis dan pengambilan keputusan secara otomatis. Jamie Dimon sebagai CEO JP Morgan Chase menyatakan, menggunakan AI dapat mengurangi beban kerja karyawan untuk tugas dan pekerjaan rutin.

Bank of America (BOA) juga telah menggunakan AI dengan investasi mencapai lebih kurang US$3,8 miliar pada 2018. BOA memperkenalkan asisten virtual Erica yang digunakan secara signifikan oleh para nasabahnya. Selain Erica, BOA menawarkan fasilitas chatbot yaitu CashPro untuk klien komersial dan korporasi yang didukung AI.

Bank lainnya seperti Citigroup juga telah menggunakan AI untuk penilaian suatu permohonan kredit. Hasilnya, proses pengambilan keputusan kredit menjadi lebih cepat dan akurat. Citigroup pun telah menggunakan AI untuk kepatuhan terhadap regulasi yang lebih cepat dan akurat.

Saat ini tentunya sudah banyak bank, tak terkecuali di Indonesia, yang menggunakan AI untuk kegiatan operasionalnya. Mengutip hasil survey dari WifiTalents (2023), bahwa keuntungan dari penggunaan AI bersifat nyata. AI serbaguna. Misalnya terkait dengan pengurangan gagal bayar dan akurasi penilaian kredit. Pencucian uang juga dapat dikelola lebih baik dengan risiko yang lebih terukur.

Hasil survei juga menyatakan bahwa menggunakan AI memungkinkan memiliki ”kesamaan” manfaat bagi semua bank, yaitu terkait dengan otomatisasi proses, pengalaman pelanggan yang lebih personal, dan pengelolaan keamanan siber (Andrew Klesov, 2024).

Manfaat AI sudah banyak dirasakan ketika diimplementasikan di industri perbankan. Mungkin banyak yang berpendapat, bank tanpa AI akan menjadi bank yang ”zadul” sehingga akan ditinggalkan nasabahnya.

Meski demikian, bank tidak bisa semudah dan secepat lembaga nonkeuangan dalam penggunaan AI. Sebagai lembaga kepercayaan, bank sangat ketat pengaturannya. Tujuannya agar bank selalu dapat dipercaya, baik oleh nasabahnya maupun oleh masyarakat luas.

Selain memudahkan, penggunaan AI bukan berarti bebas risiko. Oleh karena itu, dalam penggunaan AI, pelaku perbankan harus mengkaji berbagai risikonya, antara lain sebagai berikut.

Pertama, terkait keamanan data. Data yang ada di bank, utamanya menyangkut kerahasiaan bank, harus dijaga sebaik mungkin. Secara praktik hal itu telah dilakukan bank bank. Keamanan data tentunya bukan hanya bagaimana data terlindungi dalam sistem, tapi juga keamanan penggunaan datanya.

Banyak yang menyarankan agar algoritma yang dibuat memenuhi tata kelola yang baik dan terpenuhinya unsur kepatuhan. Dengan demikian, pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan AI harus memiliki integritas yang tinggi.

Pihak-pihak tersebut meliputi vendor atau mitra kerja yang akan ditugaskan membuat AI. Demikian juga apabila akan dibuat secara internal, para karyawan dan pejabat yang ditugaskan dalam pembuatan AI harus memiliki integritas yang tinggi. Kedua, hal lain yang penting untuk diperhatikan adalah terkait kualitas data.

Ada istilah garbage in garbage out. Jika data yang digunakan tidak valid dan akurat tentunya akan menghasilkan kesimpulan yang tidak valid dan akurat juga. Apabila sudah diyakini datanya valid dan akurat, maka hal lain yang harus diperhatikan adalah penggunaannya. Karena rutinitas yang tinggi, sering kali data yang tersedia tidak pernah dilakukan pembaruan. Pada umumnya penginian data masih dianggap tidak prioritas.

Selain penginian data, hal lain yang juga penting, apakah algoritma yang digunakan sudah sesuai. Dalam hal tertentu sangat dimungkinkan algoritma yang digunakan sudah tidak valid lagi. Ketiga, ketika bank menggunakan AI, harus dipastikan transparansinya. Bagaimanapun, AI tetap dibuat oleh manusia. Pengambilan keputusan menggunakan AI tetap ada biasnya.

Secara praktis, bias terjadi karena unsur manusia sehingga hasilnya rentan terhadap kesalahan yang sama. Maka dari itu, diperlukan pengujian yang benar agar penilaian yang dilakukan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, bukan hanya diperlukan data yang berintegritas tapi disertai juga integritas para pekerja dan jajaran pemimpin.

Keempat, tentunya harus memperhitungkan juga biaya implementasinya. Hal ini penting karena teknologi yang serba-inovatif memerlukan biaya yang besar. Biaya bukan saja dalam hal pembuatan AI, tapi juga biaya akibat implementasi AI, yang sering kali meningkat dan bahkan melebihi anggaran yang tersedia. Harus ada cadangan biaya terkait integrasi algoritma dan pelatihan.

Belum lagi adanya kebaruan teknologi yang terus berkembang sehingga memerlukan beberapa penyesuaian yang tentunya membutuhkan biaya.

Secara umum banyak yang sependapat bahwa menggunakan AI akan memberikan banyak manfaat. Meski begitu, bagaimana cara mengukur manfaatnya sering kali mengalami bias. Misalnya, terkait privasi data.

Sering kali mudah untuk mengatakan bahwa privasi data terjaga dan dikelola dengan baik, walau dalam praktiknya masih sering terjadi sebaliknya. Hal yang sama juga sering terjadi dalam hal penginian dan keamanan data. Ketika AI digunakan, harus dapat dipastikan bahwa penginian data selalu dilakukan.

Predikat bank sebagai lembaga kepercayaan tentunya secara konsisten harus dijaga. Dengan perkataan lain, pertanggungjawaban bank dalam penggunaan AI harus dapat dibuktikan bahwa bank tetap dipercaya nasabahnya.

Pembuktian tersebut sebenarnya tidak sulit apabila prinsip perlindungan dan edukasi kepada nasabah secara konsisten dilakukan. Wajib untuk dihindari terjadinya kekecewaan nasabah ketika bank menggunakan AI. L

Sekadar ilustrasi, kita lihat apa yang dilakukan JP Morgan Chase. Mereka awalnya menggunakan AI fokus pada pekerjaan yang berulang, seperti terkait laporan manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola. Selanjutnya mulai ditingkatkan penggunaannya, yaitu mendeteksi penipuan yang pada umumnya sering terjadi dengan modus yang sama.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2026

Rp 65.000

BELI