Fenomena kemarau ekstrem yang disebabkan Super El Nino datang menghampiri industri BPR yang tengah dalam kondisi “kering” pula. Seperti apa strategi yang dipersiapkan pelaku industri untuk melewati tantangan ini?
KEMARAU tahun ini terasa sangat kering dan gersang. Maklum, sejak perte ngahan 2026, Indonesia dihadapkan pada fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang dikenal juga dengan sebutan “Super El Nino”. Berbeda dengan kemarau pada umumnya, Super El Nino membuat cuaca terasa lebih panas dan menyebabkan kekeringan yang lebih ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena Super El Nino akan berlangsung hingga awal 2027. Sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan berpotensi menjadi sektor pertama yang terdampak langsung oleh fenomena ini. Tak berhenti di sana, fenomena ini juga secara tak langsung akan memengaruhi sektor lain, seperti perdagangan, makanan dan minuman, hingga properti.
Dampak kerugian dari sektor sektor tersebut pada akhirnya akan bermuara ke sektor keuangan, termasuk perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah sejak lama menjadikan El Nino sebagai salah satu cakupan dalam risiko iklim, fokus pengaturan dan pengem bangan. Apalagi, fenomena ini bisa berimbas pada kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, dan tingkat permodalan bank.
Super El Nino menyebabkan gangguan terhadap produksi, aktivi tas usaha, serta meningkatkan biaya operasional pada sektorsektor terdampak. Akibatnya, pendapatan debitur berpotensi menurun sehing ga kemampuan mereka memenuhi kewajiban kredit turut melemah.
Kondisi itu pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko non performing loan (NPL). Pelaku perbankan yang memiliki konsentrasi kredit tinggi pada sektor ekonomi ataupun wilayah yang rentan terhadap dampak fenomena ini, berpotensi menghadapi risiko penurunan kualitas aset yang lebih besar. Pelaku industri bank perekonomian rakyat (BPR) masuk dalam kategori tersebut. Hal ini disampaikan Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
“Untuk industri BPR, dampak El Nino juga perlu menjadi perhatian karena sebagian BPR memiliki ekspo sur pembiayaan yang cukup dekat dengan sektor ekonomi masyarakat di daerah, termasuk sektor perta nian, perkebunan, perdagangan, dan UMKM yang berpotensi terdampak oleh gangguan produksi maupun penurunan aktivitas ekonomi masyarakat,” terang Dian melalui keterangan tertulis.
Di tengah kondisi rural banks (bank rural) yang kian menantang, fenomena Super El Nino menjadi rintangan tersendiri yang tak boleh dikesampingkan. Jika terlambat mencegah dan memitigasi risikonya, fenomena ini bisa memperberat laju pertumbuhan pelaku industri yang juga tengah berada dalam “kekeringan”.
Mengacu pada data OJK, sampai dengan Agustus 2026, kredit BPR hanya tumbuh 3,33% secara tahunan (year on year/yoy) ke posisi Rp158,67 triliun, dengan rasio NPL di kisaran 12,76%. Kondisi ini merupakan akumulasi dari sejumlah faktor, seperti menurunnya permintaan pinjaman, minimnya ruang ekspansi bagi BPR yang tengah kesulitan mencari dana, dan kekhawatiran meningkatnya NPL.
Sementara itu, jika diperinci lebih detail, kredit ke sektor per tanian, perburuan, dan perhutanan pada periode yang sama masih tumbuh di atas ratarata industri, yakni sebesar 4,11% menjadi Rp9,71 triliun. Meski begitu, NPL sektor tersebut juga berada di atas rerata industri, yakni mencapai 15,16%.
Dampak Super El Nino terhadap fungsi intermediasi bisa jadi tidak akan langsung dirasakan banker mikro. Namun, jika tidak berhati hati, perlahan kesenjangan antara kredit lancar dan kredit macet berpeluang melebar.
Oleh sebab itu, sejumlah pelaku industri BPR sudah bergerak sejak jauhjauh hari untuk melakukan penanganan dan mitigasi risiko dari fenomena ini. BPR Jatim atau Bank UMKM Jatim, misalnya. BPR ini telah menganalisis subsektor pertanian mana yang masih potensial untuk digarap pada periode ini.
Irwan Eka Wijaya Arsyad, Direktur Utama Bank UMKM Jatim, menegaskan bahwa banknya berko mitmen untuk tetap menyalurkan kredit ke sektor pertanian, perbu ruan, dan perhutanan. Tentunya, penyaluran kredit dilakukan dengan prinsip kehatihatian disertai pemantauan yang ketat dan terkon trol. Pemantauan setelah pencairan kredit juga penting dilakukan karena risiko debitur tidak selalu dapat dikenali saat kredit diberikan.
“Para tenaga AO kami punya KPI bukan hanya dalam menyalurkan kredit. Tetapi, pasca(penyaluran) kredit, mereka juga punya tugas untuk melakukan maintenance dan monitoring. Sehingga, kalau semisal ada kendala, fungsi intermediasi sebagai konsultan ini tetap berjalan. Jadi, insyaallah bisa termitigasi,” ujar Irwan kepada Infobank.
Bank UMKM Jatim menyadari bahwa tak semua komoditas terdam pak cuaca ekstrem. Ada beberapa komoditas yang tidak memerlukan banyak air sehingga mampu bertahan di musim kemarau. Pelaku bank rural juga perlu mencermati komoditas turunan dari sektor alam yang potensial. Dalam hal ini, kejelian pelaku industri dalam melihat peluang bisnis dan melakukan diversifikasi portofolio diuji.
Tak hanya itu, pendekatan kepada nasabah di tengah masa sulit juga dinilai mampu menekan potensi kerugian akibat fenomena Super El Nino. Seperti dilakukan BPR Pijer Podi Kekelengen, yang turun langsung untuk merangkul para nasabah dan memberi edukasi tentang ancaman Super El Nino, terutama kepada debitur yang bergerak di sektorsektor terdampak.
Menurut Bumaman Teodeki Ta rigan, Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen, mereka yang bergerak di sektor alam sudah “akrab” dengan siklus musiman seperti El Nino. Kemarau tahun ini boleh jadi lebih parah dibandingkan dengan sebelum nya. Namun, pihak bank dan debitur sudah memahami langkah yang harus ditempuh di tengah situasi seperti ini, sehingga pencegahan bisa dilakukan lebih dini.
“Nasabah kami sudah berkali kali, dan katakanlah terbiasa berha dapan dengan musim yang tidak menentu. Di situasi ini, harus diakui mereka pasti agak ‘babak belur’. Tapi, dengan adanya peringatan lebih dini, ‘babak belur’nya bisa diminimalisasi,” ungkap pria yang akrab disapa Eki ini kepada Infobank, beberapa waktu lalu.
Kemampuan pelaku industri BPR menghadapi gelombang Super El Nino akan sangat bergantung pada ketepatan membaca kondisi usaha debitur dan mengambil langkah mitigasi sejak dini. Di tengah ketidak pastian yang masih membayangi, industri BPR dituntut untuk menjaga kualitas kredit agar mampu bertahan sekaligus menjalankan fungsi intermediasinya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena Super El Nino akan berlangsung hingga awal 2027. Sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan berpotensi menjadi sektor pertama yang terdampak langsung oleh fenomena ini. Tak berhenti di sana, fenomena ini juga secara tak langsung akan memengaruhi sektor lain, seperti perdagangan, makanan dan minuman, hingga properti.