Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Sisi Lain Tragedi Nasional 1965

Oleh Komaruddin Hidayat
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

TRAGEDI nasional 1965 mencatat dua hal yang mengemuka. Satu, generasi milenial dan setelahnya hanya sedikit yang menaruh perhatian dan melakukan kajian historis terhadap lembaran hitam sejarah Indonesia yang berdarah-darah itu. Dua, sekarang kita dengan mudah mendapatkan informasi lain yang begitu banyak di luar versi penguasa Orde Baru.

Versi lain yang dimaksud salah satunya adalah buku The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020). Buku ini ditulis Vincent Bevins, seorang jurnalis Amerika Serikat (AS) yang melakukan investigasi peristiwa peristiwa politik di Asia Tenggara pada dekade 60-an.

Bevins berargumen bahwa pembantaian antikomunis di Indonesia pada 1965–1966 bukan hanya tragedi domestik, melainkan bagian dari Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. AS mendukung kekuatan antikomunis di berbagai negara, sedangkan keberhasilan penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia merupakan success story yang gemilang dengan ongkos paling murah.

Bevins menggambarkan ketegangan antara Presiden Soekarno, PKI, dan Angkatan Darat di tengah persaingan Perang Dingin antara AS dan Blok Timur (sekutu Tiongkok dan Uni Soviet). Setelah Gerakan 30 September (G30S) menculik dan membunuh sejumlah perwira Angkatan Darat pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeharto mengambil kendali militer dan menimpakan tanggung jawab tragedi kepada PKI.

Peristiwa pembunuhan terhadap para perwira itu diikuti kampanye luas untuk menghancurkan PKI dan organisasi yang dianggap berafiliasi dengannya. Angkatan Darat, bersama kelompok sipil, mendorong penangkapan dan pembunuhan terhadap jaringan PKI. Ratusan ribu orang terbunuh; banyak lainnya dipenjara, disiksa, serta kehilangan pekerjaan dan hak politik, tanpa proses pengadilan yang fair.

Dokumen diplomatik AS yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa pejabat AS mengetahui pembunuhan itu berlangsung, dan pemerintah AS memberi dukungan kepada Angkatan Darat dalam konteks konflik tersebut.

Peristiwa G30S dan pembunuhan massal sesudahnya adalah dua hal yang berkaitan, tetapi tidak boleh dilebur menjadi satu. Pada 1 Oktober 1965, pembunuhan terhadap enam jenderal dan seorang perwira lain masih menyisakan perdebatan: siapa yang merancang operasi itu dan apa tujuan akhirnya. Tidak ada satu penjelasan tunggal yang diterima semua sejarawan.

Artinya, siapa otak pembunuhan massal itu masih menyimpan misteri. Bukti dan penelitian menunjukkan bahwa kampanye antikomunis setelahnya berlangsung secara terorganisasi, dengan peran penting Angkatan Darat serta kelompok sipil yang dimobilisasi.

Selama puluhan tahun rakyat disuguhi kesimpulan tunggal bahwa PKI bertanggung jawab penuh atas tragedi itu. Dalam bukunya, Bevins berpandangan bahwa pembantaian 1965–1966 bukan semata konflik internal Indonesia, tetapi juga bagian dari politik global Perang Dingin. Dokumen AS yang telah dideklasifikasi mendukung klaim bahwa Washington mengikuti pembunuhan dengan terperinci dan memberi dukungan kepada Angkatan Darat.

Perlu dicatat bahwa buku Bevins adalah sintesis sejarah yang ditulis seorang jurnalis, bukan kajian lengkap tentang perdebatan historiografi. Kita belum punya bukti terbuka yang meyakinkan bahwa CIA merancang atau mengendalikan “G30S”. Namun, ada bukti kuat bahwa pemerintah AS mendukung upaya Angkatan Darat Indonesia menghancurkan PKI, tetapi setidaknya Kedutaan AS menyerahkan informasi tentang tokoh-tokoh PKI kepada aparat Indonesia.

Dokumen diplomatik yang telah dibuka menunjukkan adanya operasi rahasia AS untuk memperuncing konflik antara Angkatan Darat dan PKI. National Security Archive menyebut perluasan operasi terselubung AS yang bertujuan memicu bentrokan di antara keduanya. Itu menunjukkan kebijakan intervensi dan penghasutan konflik, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan CIA merancang penculikan dan pembunuhan para jenderal.

Sudah menjadi nasib bangsa ini, sejak zaman VOC hingga sekarang wilayah Nusantara selalu dijadikan objek eksploitasi oleh kekuatan asing.

 

 

Versi lain yang dimaksud salah satunya adalah buku The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (2020). Buku ini ditulis Vincent Bevins, seorang jurnalis Amerika Serikat (AS) yang melakukan investigasi peristiwa peristiwa politik di Asia Tenggara pada dekade 60-an.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2026

Rp 65.000

BELI