Gestur positif yang ditunjukkan Donald Trump dan Xi Jinping saat bertemu di Washington, September lalu, sejenak memberikan angin segar bagi geopolitik dunia. Tapi, apakah pertemuan itu sungguh memberikan kepastian untuk ekonomi global?
Sumber : Istimewa
PERTEMUAN bilateral yang tampak mesra antara Donald Trump dengan Xi Jinping di Washington, 23-25 September lalu, sungguh menyejukkan hati dan mata masyarakat dunia. Bagaimana tidak, kedua pemimpin negara adidaya pemegang kartu truf politik dan ekonomi global ini akhirnya bisa saling meredam ego masing-masing, untuk mencari kesepakatan bersama terkait dengan sederet sengketa strategis.
Dalam pertemuan bilateral pertama pada Mei 2026, Tiongkok sepakat untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat (AS) senilai US$17 miliar (Rp305 triliun) per tahun pada 2026, 2027, dan 2028, serta memborong 200 lebih pesawat Boeing. Tapi, kenyataannya, Beijing baru memenuhi komitmennya untuk membeli 25 juta ton kedelai dan masih belum memenuhi janjinya untuk memborong produk pertanian lain senilai US$17 miliar. Pesanan ratusan pesawat Boeing pun masih menunggu pengumuman resmi.
Pertemuan kedua pada akhir September lalu menghasilkan tambahan kesepakatan dagang. Kedua negara sepakat untuk memperpanjang gencatan perang dagang, dari 10 November 2026 ke 10 Januari 2027. Tak hanya itu, kedua negara juga sepakat untuk menerapkan tarif yang lebih menguntungkan terhadap barang-barang nonsensitif senilai US$30 miliar (Rp538,3 triliun). Selain itu, Tiongkok sepakat untuk mengimpor 10 juta metrik ton batu bara AS per tahun pada 2027-2028.
Di luar deal-deal dagang itu, ada dua aspek fundamental yang akan berpengaruh besar terhadap negosiasi kedua negara adidaya, yakni isu Taiwan dan logam tanah jarang (rare earth). Di tengah tekanan Tiongkok, AS tentu tak akan melepaskan Taiwan begitu saja. Sebagai wilayah yang disengketakan sejak lama, Taiwan yang merupakan pusat produsen chip dunia, menjadi aset strategis bagi kedua negara adidaya.
Di lain sisi, Tiongkok memiliki nilai tawar besar lewat penguasaan rare earth dan mineral kritis lainnya, yang menjadi komponen strategis bagi pengembangan artificial intelligence (AI), pusat data, hingga manufaktur seperti EV dan alutsista canggih.
Tiongkok menguasai 70% penambangan rare earth dunia, mendominasi 85% kapasitas pemurnian serta 90% produksi paduan logam dan magnet rare earth.
Tiongkok mendesak AS untuk melonggarkan regulasi pelarangan ribuan perusahaan Negeri Panda untuk menerima teknologi canggih AS. Tapi, di lain sisi, AS mendesak Tiongkok untuk melonggarkan ekspor rare earth dan mineral kritis. Dua sisi yang saling menyandera, menciptakan kebuntuan yang terus dikelola hingga sekarang.
“Pertemuan Trump-Xi menciptakan suasana politik yang positif, tetapi tidak mempersempit perbedaan atau mengurangi kecurigaan di antara kedua negara,” tegas Drew Thompson, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, sebagaimana dikutip Reuters, baru baru ini.
Sekalipun terdengar seperti fatamorgana, semoga saja kedua negara bisa menemukan solusi yang lebih baik. Karena, jika tidak, dampaknya akan terus terasa, termasuk bagi Indonesia yang memilih prinsip nonblok. Ancaman tarif dagang yang terus mengalir memaksa Indonesia dan negara lainnya untuk mencari mitra dagang alternatif. l
Dalam pertemuan bilateral pertama pada Mei 2026, Tiongkok sepakat untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat (AS) senilai US$17 miliar (Rp305 triliun) per tahun pada 2026, 2027, dan 2028, serta memborong 200 lebih pesawat Boeing. Tapi, kenyataannya, Beijing baru memenuhi komitmennya untuk membeli 25 juta ton kedelai dan masih belum memenuhi janjinya untuk memborong produk pertanian lain senilai US$17 miliar. Pesanan ratusan pesawat Boeing pun masih menunggu pengumuman resmi.
Pertemuan kedua pada akhir September lalu menghasilkan tambahan kesepakatan dagang. Kedua negara sepakat untuk memperpanjang gencatan perang dagang, dari 10 November 2026 ke 10 Januari 2027. Tak hanya itu, kedua negara juga sepakat untuk menerapkan tarif yang lebih menguntungkan terhadap barang-barang nonsensitif senilai US$30 miliar (Rp538,3 triliun). Selain itu, Tiongkok sepakat untuk mengimpor 10 juta metrik ton batu bara AS per tahun pada 2027-2028.