Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Krisna Wijaya

AI; Gunakan sebagai Alat Bantu

Penulis adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Oleh Krisna Wijaya
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

     ARTIFICIAL intelligence (AI) dan generative artificial intelligence (GAI) makin banyak penyedianya dan mudah diakses, baik yang berbayar maupun yang gratis. Sepanjang memiliki telepon seluler (ponsel), siapa saja bisa menggunakannya. Tanpa ada syarat dan restriksi untuk meng aksesnya. 

     AI dan atau GAI bukan lagi sarana yang eksklusif karena siapa saja dapat menggunakannya. Apakah sekadar untuk menanya kan sesuatu atau mencari referensi, baik digunakan dalam pergaulan, pendidikan, maupun tentunya pekerjaan. AI dan GAI terus berkembang dan makin canggih serta makin meningkat akurasinya. 

     Penggunaan AI tampaknya akan terus meningkat, baik untuk kebutuhan bisnis maupun nonbisnis. Orang kini menggunakan AI bukan lagi sekadar mencoba melainkan sudah men ja di suatu kebutuhan, baik dalam dunia bisnis maupun kehidupan keseharian. 

     Sama ketika pertama ponsel diperkenalkan. Penggunaannya awalnya sangat terbatas. Ketika awal muncul, harganya masih mahal dan terbilang langka. Kapasitas teknologi maupun infrastruktur pendukungnya juga masih terbatas. 

     Namun, seiring dengan berjalannya waktu, permintaan terhadap ponsel meningkat, dan harganya makin terjangkau. Mengutip data dari Digital Global Overview Report (2025), warga negara Indonesia dinobatkan sebagai pengguna ponsel untuk internetan nomor satu di dunia. Sekitar 98,7% masyarakat Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk mengakses internet. 

     Kembali ke soal AI. Dalam berbagai laporan, misalnya World Bank Blog (2025), dinyatakan bahwa perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, Apple, dan Microsoft telah berinvestasi dalam skala besar untuk penelitian dan pengembangan AI. Pada umumnya mereka menggabungkan AI ke dalam produk dan layanan nya dan mendorong inovasi di bidang seperti komputasi awan, pembelajaran mesin, dan pemrosesan bahasa alami. 

     Sementara, terkait GAI, sekadar ilustrasi, bahwa GAI telah digunakan hampir 3 miliar pada 2024. Penggunaan ChatGPT, misalnya, sangat menonjol, mencapai lebih kurang 2 miliar kunjungan global dan 500 juta pengguna setiap bulannya. 

     AI, suka tidak suka, juga digunakan untuk perang. Misalnya saja, perang antara Israel dan Iran sejati nya secara tidak langsung bagian dari perang AI yang tentunya tetap menggunakan algoritma. Jika saya diserang, maka perlu dilakukan penyerangan. Algoritma lainnya juga dibuat, jika melakukan penyerangan, maka akan ada serangan balik. 

     Algoritma yang dibuat tentunya beragam, tergantung kreativitas masing masing. Perang yang terjadi bukan dari kualitas misil saja yang secara teknologi cenderung memiliki kesamaan. Peperangan sudah dalam hal akurasi membuat algoritma dan akurasi target yang dituju. 

     Hal serupa juga berlaku dalam bisnis, yang tentunya juga sudah menggunakan AI. Persaingan bisnis tidak saja pada kualitas produk, layanan prima purnajual, dan kemudahan akses, tapi juga bagaimana menggunakan AI sebagai bagian dari alat bantu untuk memenangkan persaingan secara sehat. Mengapa persaingan secara sehat, karena orientasi pembeli pada akhirnya akan bermuara pada kejujuran penjualnya. Tidak melebihkan hal-hal yang terkait kualitas produk karena pembeli juga makin pintar untuk membandingkannya dengan menggunakan AI.

 

Dibuat oleh Manusia 

     Merujuk pada asal muasal AI, kita perlu memberikan penghargaan kepada ilmuwan Alan Turing yang menerbitkan karyanya dengan judul Computer Machinery and Intelligence yang akhirnya lebih dikenal sebagai the turing test. Ide ini digunakan para ahli untuk mengukur kecerdasan komputer yang dianalogikan sebagai “kecerdasan buatan”. 

     Ide Alan Turing kemudian dikembangkan oleh John McCarthy bersama dengan ilmuwan lainnya yaitu Alan Turing sendiri, Marvin Minsky, Allen Newell, dan Herbert A. Simon. Dalam perkem bang an selanjut nya, John McCarthy dinya ta kan sebagai salah satu pendiri disiplin keilmuan terkait dengan AI. AI atau kecerdasan buatan pertama kali dicetuskan oleh John McCarthy pada 1956. Meskipun banyak tokoh lain yang berkontribusi dalam perkembangan AI, John McCarthy dianggap sebagai “bapak AI” karena peran pentingnya dalam memperkenalkan konsep AI dan memimpin penelitian di bidang ini. 

     AI terus berkembang. Tapi, harus dipahami bahwa AI tetap dibuat oleh manusia. Karena kreativitas manusia, AI dan GAI pun penggunaannya makin luas, termasuk tentunya di dunia bisnis. Apalagi ketika AI dan GAI terus dikembangkan sehingga makin kekinian, makin canggih, serta makin cepat dan pintar. 

     Penggunaan AI dan GAI bagi kalangan bisnis dari sisi internal utamanya terkait dengan aktivitas yang berulang, seperti laporan, analisis, dan tentu nya berbagai rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti. Sementara, penggunaan AI dari sisi eksternal, utama nya layanan nasabah, misalnya berupa aplikasi, baik yang dibuat khusus nasabahnya maupun yang memungkinkan berinterak si dengan layanan chatbot. Saat ini, sudah banyak kolaborasi antara industri perbankan dan/atau lembaga keuangan bukan bank dengan pihak ketiga yang menyediakan aplikasi jasa dan transaksi keuangan menggunakan AI. 

     Mungkin ada yang berpendapat, kalau AI makin canggih berarti bisa juga dibuat AI yang memiliki perasaan layaknya manusia. Apakah setelah bisa memiliki perasaan, lantas kehadirannya bisa menggantikan manusia? Ketika semua kesulitan dapat diatasi oleh AI, lalu untuk apa peran manusia. Toh, kita bisa bertanya pada AI. Menimbulkan pertanyaan tentunya. 

     Untuk apa kita hadir dalam seminar ketika bahan presentasi dan percakapan diskusi sudah diunggah di Google. Semuanya dapat diperoleh tanpa harus hadir. Saya pernah diceritakan teman bahwa membuat disertasi kini bisa dilakukan secara cepat dan akurat, dengan AI ber ba yar. Teman saya lainnya menginformasikan bahwa anaknya pernah mengatakan, untuk apa sekolah kalau semua pengetahuan bisa diperoleh melalui AI. 

     Dengan kecanggihan nya, wajar jika AI dan GAI memberikan dampak pada kehidupan manusia. Selain dimudahkan, kita/pengguna juga akan makin dimanjakan. Semua ketidaktahuan yang sifatnya universial bisa diatasi. Cukup klik Google. 

     Saat ini, semua pengendara maupun pejalan kaki tidak perlu gelisah ketika akan bepergian, ke mana pun. Serahkan semuanya kepada Google Maps, meskipun terkadang algoritmanya belum tentu cocok. Kita sering mendengar ada yang mengeluh dengan Google Maps karena disasarkan dari tempat yang seharusnya dituju. Diarahkan ke makam, misalnya. 

     Namun, melalui penyempurnaan algoritma dan penginian data, lambat laun ketidaksempurnaan teknologi tersebut (Google Maps) dapat segera diperbaiki dan cenderung menjadi lebih baik dan akurat. Bisa saja penyempurnaan itu menggunakan AI. 

 

Bias Algoritma 

      Kualitas dan akurasi AI dan GAI sangat tergantung pada algoritma. Pada umum nya pengguna tidak pernah mengetahui apakah algoritma yang digunakan itu valid, akurat, dan relevan. Atas dasar itu, ada istilah bias algoritma. Secara harfiah, bias algoritma akan menghasilkan opini, prediksi, dan pengambilan keputusan yang tidak “adil” atau tidak objektif. Apabila ini terjadi, tentu akan merugikan. 

     Namun, harus juga dipahami, bias yang terjadi juga bisa disebabkan atau mencerminkan adanya bias yang juga terjadi pada masyarakat. Jadi, AI dan GAI masih mungkin belum bisa menghilangkan bias tersebut dan upaya maksimal nya hanya meminimalkan bias. Wajar saja sebenar nya, sebab AI dan GAI hanyalah alat bantu yang diciptakan oleh manusia. 

     Seyogianya kita sebagai pengguna bersikap bijak. Bahwa AI dan GAI memang banyak memberikan kemudahan, tapi sesekali jangan diartikan bahwa keduanya tidak bisa disalahgunakan. Bagaimanapun, AI dan GAI sangat tergantung pada kualitas dan akurasi data yang digunakan. Bisa saja perancang AI dan GAI belum dapat atau tidak bisa memberikan data yang representatif yang menyebabkan hasilnya bias dan tidak adil. Harus juga dipahami, bahwa AI dan GAI masih belum bisa menjamin hasil yang pasti karena model tersebut dilatih berdasarkan data historis dan memprediksi perilaku masa depan berdasarkan pola. 

     Menurut hemat saya, kehadiran AI adalah sekadar alat bantu bagi manusia. Bisa menjadi alat bantu untuk kebaikan, bisa juga sebaliknya. Tergantung pada algoritma yang digunakan dan penginian algoritmanya. Misalnya, ketika saya mulai kuliah pada 1974 untuk menjelaskan algoritma, yang paling mudah diingat adalah jika mendung maka akan hujan. Karena saya bermukim di kota hujan faktanya memang demikian. Dalam kenyataannya, saat ini bisa berbeda; ketika mendung ternyata tidak selalu menjadi hujan. 

     Mungkin bukan algoritmanya yang salah melainkan probabilitasnya yang berubah. Probabilitas jika mendung maka hujan makin rendah. Analogi di atas menimbulkan pertanyaan, apakah ketika kita menggunakan AI atau GAI selalu dilakukan penginian algoritmanya? Saya yakin dilakukan dan peran manusia tetap menjadi faktor utamanya. 

     Apakah dengan makin akuratnya AI, peran manusia makin tidak diperlukan? Saya rasa tidak. AI hadir karena ide manusia, dan AI tidak bisa mencipta kan manusia. Menarik untuk menyimak pernyataan yang disampaikan oleh Barack Obama (2024), presiden termuda Amerika Serikat (AS) setelah Theodore Roosevelt, yang menyatakan bahwa AI dapat membentuk masa depan, tapi manusia akan selalu menentukan tujuannya. 

     Pendapat bijak lainnya terkait AI juga disampaikan oleh Ellon Musk (2024) yang menyatakan bahwa teknologi mengubah apa yang kita lakukan, tapi bukan mengubah siapa kita. John McCarthy sang pencipta AI juga secara tegas menyatakan bahwa masa depan adalah milik mereka yang dapat berko la borasi dengan AI, bukan bersaing dengannya. Saya mengartikannya, kita menggunakan AI sebagai alat bantu manusia dalam melakukan berbagai aktivitas. Tapi, sampai kapan pun, dalam pengembangan AI dan GAI, peran manusia tetap lebih dominan.

 

     AI dan atau GAI bukan lagi sarana yang eksklusif karena siapa saja dapat menggunakannya. Apakah sekadar untuk menanya kan sesuatu atau mencari referensi, baik digunakan dalam pergaulan, pendidikan, maupun tentunya pekerjaan. AI dan GAI terus berkembang dan makin canggih serta makin meningkat akurasinya. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2025

Rp 65.000

BELI