Bankir satu ini membuktikan bahwa silaturahmi dan keterbukaan punya peran penting dalam sebuah keberhasilan. Ketulusan hubungan antarmanusia yang dirawatnya semenjak muda menjadi fondasi kepemimpinan yang tangguh dan penuh makna.
Sumber : Infobank
HIDUP kadang seperti perjalanan di padang sunyi. Tanpa pelita, tanpa peta, dan tak ada jaminan akan sampai. Tapi, suara langkah yang jujur, yang tidak menyeret-nyeret nama, bisa menggema lebih jauh daripada teriakan keberhasilan. Di jalan seperti inilah, Alfi Wijaya, Direktur Utama Grup BPRS Harta Insan Karimah (HIK), memilih menapaki.
Ia tidak memilih jalur populer atau meniti tangga karier lewat jalur pintas. Ia justru menempuh jalan yang dibangun atas dasar nilai-nilai yang jarang dikutip dalam laporan keuangan: silaturahmi dan hablum minannas, ikatan manusiawi yang tak kasatmata tapi kuat menahan badai.
Silaturahmi bagi pria yang merayakan ulang tahun setiap 5 Maret ini bukan sekadar tradisi kunjungan hari raya. Ia adalah fondasi yang menggerakkan kehidupan dan kariernya. Dalam sunyi dan keheningan relasi yang dijaga tulus, pintu-pintu terbuka, peluang datang, dan keberkahan mengalir. Keyakinan ini sudah tumbuh sejak Alfi duduk di bangku kuliah.
Tahun 1997, Alfi gagal masuk ITB, kampus impiannya. Tapi, dari kegagalan itu, ia memilih bangkit dan melangkah ke Jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus itu, dunia baru terbuka, ia bertemu dengan komunitas mahasiswa Islam, aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan belajar bagaimana hubungan antarmanusia bisa menjadi kekuatan yang sesungguhnya.
Dalam lingkungan HMI, Alfi tidak hanya belajar berdiskusi atau memimpin forum. Ia belajar membangun koneksi batin, heart-to-heart connection, dengan sesama. Di sinilah, ia pertama kali memahami makna mendalam dari hablum minannas, bagaimana komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan saling menjaga bisa menjadi bahan bakar kepemimpinan yang jangka panjang. Dari lingkaran kecil itu juga, jalan Alfi menuju industri ekonomi syariah mulai terbuka. Ia terlibat dalam kegiatan riset dan diskusi tentang Islamic economics, bahkan ikut mendirikan fokus studi ekonomi Islam di kampus.
Nama Alfi akhirnya sampai ke telinga Adiwarman Karim, salah satu pionir ekonomi syariah di Indonesia. Dari pertemuan itulah, Alfi direkrut untuk bekerja di Karim Consulting Indonesia sebagai konsultan. Pekerjaan ini bukan hanya soal angka, analisis, atau menyusun strategi institusi keuangan syariah. Ia belajar bagaimana membumikan ideologi ekonomi Islam di tengah dunia yang masih memuja kapitalisme. Tujuh tahun lamanya, ia berkarya sebagai konsultan, menjadi “kaki-tangan” yang dipercaya. Banyak unit usaha syariah (UUS) bank yang ingin merekrutnya, tapi ia terus menolak demi menjaga amanah sang mentor.
Namun, pada 2010, semesta seolah mengizinkan langkah barunya. Pria yang merupakan teman seangkatan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, saat bersekolah di SMA Taruna Nusantara ini mendapat tawaran menjadi direktur di BPRS Harta Insan Karimah (HIK). Tawaran itu datang bukan dari headhunter, bukan dari iklan lowongan kerja, melainkan lagi lagi dari silaturahmi yang dijaga baik.
Saat menyampaikan hal ini kepada Adiwarman, Alfi terkejut oleh respons yang begitu dalam. “Direksi itu sudah masuk ke garis tangan. Kirim CV-nya. Direksi itu garis tangan, Fi. Nggak bisa dikejar-kejar. Terserah pemegang saham dan Gusti Allah,” ujar Alfi kepada Infobank, Mei lalu, menirukan ucapan sang mentor kala itu. Kalimat itu menggugah keyakinan Alfi untuk menerima amanah baru.
Langkahnya di BPRS HIK mulus pada awalnya. Ia dipercaya menjadi direktur operasional, lalu dipromosikan sebagai direktur bisnis. Hanya empat tahun sejak bergabung, pada usia 35 tahun, ia diangkat menjadi direktur utama. Banyak yang memujinya, menyebutnya rising star, tapi Alfi tahu bahwa jalan menuju puncak tak pernah lepas dari ujian. Dan, benar, dua tahun setelah menjabat, badai datang menghantam. Non performing financing (NPF) menanjak tajam, perusahaan mencatatkan kerugian, dan OJK mulai mencium sinyal bahaya.
Mungkin, bagi sebagian orang, ini adalah titik untuk menyelamatkan diri, meninggalkan kapal yang nyaris karam. Tapi, Alfi justru memilih berdiri di geladak, menghadap badai bersama timnya. Ia tidak menyembunyikan masalah, tidak membungkusnya dengan retorika. Ia jujur kepada seluruh stakeholder, menyampaikan bahwa perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Tapi, ia juga memastikan bahwa komunikasi ini dilakukan dengan empati, bukan dengan ketakutan.
“Jadi, memang, pada situasi krisis atau situasi turbulensi itu, kalau kita terbuka, menyampaikan nya dengan baik kepada audiens yang kita hadapi ini, dan memang sudah kita tingkatkan levelnya, semuanya insyaallah bisa dilalui,” ucap Alfi.
Dan, keajaiban itu nyata. Karyawan tidak pergi, malah makin merapatkan barisan. Mereka tahu sang pemimpin tidak meninggalkan mereka, dan mereka pun memilih tetap tinggal. Bersama, mereka memperbaiki sistem, menata ulang pem biaya an, dan memperkuat tata ke lola. Kepercayaan yang dibangun Alfi selama bertahun-tahun menjadi penopang saat struktur keuangan goyah.
Hasilnya tidak instan, tapi perlahan terlihat. Di kuartal pertama 2025, aset BPRS HIK telah menyentuh Rp744,23 miliar. Sebuah lonjakan yang membanggakan, bukan hanya karena angkanya, tapi juga karena cerita di baliknya; tentang ketulusan, tentang kejujuran, dan tentang keberanian untuk bertahan.
Kini, 11 tahun sudah Alfi memimpin BPRS HIK. Ia tetap membumi. Di tengah ketatnya likuiditas dan tekanan industri, ia justru makin selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Prinsip risk acceptance criteria diperketat, sistem diperbaiki, dan proses penyaluran diperkuat agar tetap prudent. Namun, di balik strategi-strategi itu, ada satu hal yang tak berubah, bahwa ia memimpin dengan hati.
Ketika dunia terus bergerak cepat, dan bisnis terus menuntut efisiensi serta pertumbuhan, Alfi justru mengajarkan bahwa keberlanjutan hanya bisa lahir dari kepemimpinan yang punya nurani. Bahwa silaturahmi bukan warisan budaya semata, melainkan jalan menuju keberhasilan yang berakar. Dan, hablum minannas, yang selama ini dianggap klise, justru menjadi jembatan antara manusia dan masa depan yang lebih manusiawi.
Langkah Alfi mungkin sunyi, tapi nilainya terus bergema. Mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang sering melupakan, kejujuran dan hubungan antarmanusia tetap punya tempat untuk menang.
Ia tidak memilih jalur populer atau meniti tangga karier lewat jalur pintas. Ia justru menempuh jalan yang dibangun atas dasar nilai-nilai yang jarang dikutip dalam laporan keuangan: silaturahmi dan hablum minannas, ikatan manusiawi yang tak kasatmata tapi kuat menahan badai.