Awalnya ia menolak saat ditawari memimpin WOM Finance, perusahaan multifinance yang menurutnya “paling pusing” ketika itu. Namun takdir punya cara sendiri: saat liburan, ia malah “dijebak manis” untuk menerima jabatan itu. Layaknya pelari jarak jauh yang gigih dan konsisten, pria ini kemudian menakhodai WOM Finance dengan gaya kepemimpinan tegas dan tanpa abu-abu, sehingga kini perusahaan itu menjelma jadi salah satu pemain bisnis pembiayaan terbaik di negeri ini.
Djaja Suryanto Sutandar, Presiden Direktur WOM Finance
DI balik jabatan tinggi sebagai Presiden Direktur Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance), Djaja Suryanto Sutandar adalah pribadi yang sederhana, konsisten, dan disiplin, termasuk dalam menjaga kesehatan. Sudah lebih dari 13 tahun kebiasaan lari dan olahraga angkat beban menjadi rutinitasnya. Nyaris tanpa putus.
Setiap hari, sekitar pukul 06.00 sebelum bekerja, Djaja, panggilan akrabnya, rutin mengunjungi clubhouse dekat rumahnya di daerah Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, untuk berlari di atas treadmill dan mengolah tubuh dengan alat-alat olahraga. “Kalau nggak olahraga, badan malah sakit rasanya. Sudah seperti kebutuhan,” ujar pria kelahiran Jakarta, 14 Maret 1964, ini kepada Infobank, medio Juni lalu.
Usut punya usut, rupanya rutinitas itu dimulai sejak ia mendapat peringatan dari dokter soal kesehatannya. Ia pun memutuskan mengubah gaya hidup, dan tekun menjalani pola latihan bergantian antara jalan cepat dan lari ringan. Dari yang awalnya hanya mampu berlari lima menit, kini ia mampu berlari nonstop hingga dua jam.
Keseriusannya dalam olahraga tak sekadar demi kebugaran semata. Bagi Djaja, olahraga melatih konsistensi, pengendalian diri, dan komitmen. Prinsip yang juga ia terapkan dalam memimpin perusahaan. “Kalau di gym atau lari, kita berhenti di tengah jalan, hasilnya nggak maksimal. Di bisnis juga sama,” kata pria yang juga hobi olahraga golf ini.
Dari olahraga golf, ia belajar soal pengendalian emosi. “Semakin kita ingin bermain bagus, kadang malah hasilnya tidak baik. Jadi, harus tenang, sabar, terukur,” tuturnya. Nilai-nilai itu pula yang ia terapkan di ruang kerja sehari-hari sebagai pimpinan WOM Finance.
Sejatinya, background Djaja adalah seorang banker. Lulusan program management trainee (MT) Bank Internasional Indonesia/BII (kini Bank Maybank Indonesia) ini sempat menghabiskan lebih dari dua dekade karier di industri perbankan. Mulai dari cabang di kota-kota besar, seperti Bandung, Medan, Surabaya, hingga Jakarta, ia kerap dipercaya menangani cabang-cabang yang sedang “bermasalah” untuk diperbaiki.
Berpengalaman di segmen regional, Djaja lalu ditarik ke kantor pusat, memegang berbagai portofolio, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kartu kredit, hingga otomotif. Dari sinilah awal keterlibatannya dengan industri multifinance, khususnya WOM Finance, yang kala itu menjadi bagian dari portofolio pembiayaan otomotif Maybank.
“Kalau dihitung, saya di bank dari 1987 sampai 2011. Sekitar 12 tahunan muter-muter luar kota, pegang cabang yang kinerjanya tidak baik. Di Surabaya, area tanggung jawab saya sampai Kalimantan, Sulawesi, Papua. Di Medan sampai Aceh,” kenangnya.
“Waktu itu, saya juga menangani sejumlah perusahaan multifinance yang dibiayai lewat skema joint financing dari Maybank, termasuk WOM Finance. Nah, memang waktu itu WOM ini yang paling ‘pusing’. Sebenarnya, saya sudah ditawari untuk memimpin WOM, tapi saya tolak,” kisahnya.
Namun, takdir berkata lain. Suatu hari, saat Djaja tengah berlibur di Hong Kong, secara kebetulan Ridha D.M. Wirakusumah (Direktur Utama Bank Maybank Indonesia kala itu) juga berada di sana. Ia dihubungi oleh Stephen Listyo, Direktur Konsumer Bank Maybank Indonesia. “Pak Stephen telepon saya. Bilang begini: ‘Pokoknya, kamu nggak bisa nolak. Pulang dari sini langsung pegang WOM.’ Malam itu juga saya bertemu Pak Ridha di sana. Akhirnya, saya terima,” ujar Djaja yang mulai menjabat Presiden Direktur WOM Finance pada 2011.
Bukan tanpa alasan kegigihan pimpinan Bank Maybank Indonesia saat itu memercayakan pada Djaja untuk menakhodai WOM Finance. Djaja dikenal berpengalaman dalam menata kembali perusahaan yang tengah menghadapi masalah dengan kebiasaannya turun langsung dan memperhatikan proses secara detail. Saat pertama bergabung di WOM Finance, ia sempat terkejut dengan budaya kerja yang berbeda jauh dari dunia perbankan yang sudah lama ia kenal. “Jam 7 pagi, saya sudah di kantor, sementara para direksi lain baru datang lewat jam 11. Saya pikir, kalau begini caranya, perusahaan ini tidak akan bisa berkembang. Budaya kerja, culture, dan people harus dibenahi,” ujarnya.
Dua hingga tiga tahun pertama menjadi masa yang berat baginya. Hampir setiap hari ia harus lembur, berupaya mengubah pola pikir dan budaya organisasi dari dalam. Perlahan, upaya itu mulai membuahkan hasil. WOM Finance kini memiliki citra yang lebih positif di industri, didukung tim telemarketing yang andal, data pelanggan yang lebih bersih dan terkelola, proses bisnis yang efisien, serta budaya kerja yang jauh lebih disiplin.
Prinsip kepemimpinan yang dipegang Djaja sederhana: transparan, terbuka, dan tegas tanpa ruang abu-abu. “Kalau hitam, ya hitam. Kalau putih, ya putih. Saya tidak suka yang abu-abu. Kalau bisa, bilang bisa. Kalau tidak bisa, katakan saja tidak bisa. Jangan muter-muter. Buang waktu,” tegasnya.
Djaja mendorong seluruh lapisan karyawan untuk aktif memberi ide dan berani berubah. Sebagai pemimpin di tengah industri multifinance yang makin kompetitif, Djaja tak ingin terjebak cara lama. Ia membuka diri pada ide baru, bahkan yang terdengar aneh sekalipun. “Justru ide baru saya dengerin. Kalau masuk akal, kenapa nggak dipakai? Dunia berubah terus. Kita harus adaptif,” tegas peraih gelar B.Sc. finance dari California State University of Sacramento, Amerika Serikat (AS), ini.
Di bawah komandonya, WOM Finance terus bertransformasi dengan fondasi SDM yang kuat, budaya kerja baru, dan semangat inovasi yang menyala. Seperti rutinitas lari Djaja tiap pagi, perubahan ini bukan hasil sprint sesaat, melainkan maraton panjang yang butuh konsistensi.
Setiap hari, sekitar pukul 06.00 sebelum bekerja, Djaja, panggilan akrabnya, rutin mengunjungi clubhouse dekat rumahnya di daerah Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, untuk berlari di atas treadmill dan mengolah tubuh dengan alat-alat olahraga. “Kalau nggak olahraga, badan malah sakit rasanya. Sudah seperti kebutuhan,” ujar pria kelahiran Jakarta, 14 Maret 1964, ini kepada Infobank, medio Juni lalu.