Di tengah berbagai tantangan tahun ini, para pemain utama di industri multifinance dituntut untuk lebih cermat dalam menjaga kualitas aset dan meningkatkan efisiensi. Strategi bisnis yang dijalankan akan menjadi penentu apakah mereka mampu tetap kokoh atau justru tergeser oleh dinamika pasar.
Sumber: Istimewa
TAHUN 2025 menjadi ujian nyata bagi para raksasa di industri pembiayaan (multifinance). Di tengah perlambatan ekonomi nasional dan tekanan daya beli masyarakat, perusahaan pembiayaan beraset jumbo yang selama ini mendominasi peta industri multifinance nasional dituntut untuk membuktikan ketahanan model bisnis mereka. Ketahanan ini bukan lagi semata mata ditentukan oleh skala besar, melainkan juga efisiensi operasional, kualitas pembiayaan, serta kemampuan adaptasi terhadap dinamika kebijakan dan kondisi pasar yang terus berubah.
Biro Riset Infobank (birI) mencatat, di 2024, 15 perusahaan pembiayaan beraset di atas Rp10 triliun masih menunjukkan dominasi luar biasa. Kelompok ini menguasai 62,06% dari total piutang pembiayaan industri, atau senilai Rp312,5 triliun dari Rp503,43 triliun. Dari sisi aset, kelompok ini membukukan total aset Rp350,45 triliun atau 59,5% dari total aset industri yang tercatat Rp588,94 triliun. Sementara, laba bersih yang dibukukan kelompok ini mencapai Rp15,79 triliun atau 70,2% dari total laba industri yang tercatat Rp22,52 triliun.
Namun, di balik dominasi itu, bayang-bayang tantangan mulai menyelimuti. Pertumbuhan aset industri pembiayaan pada 2024 tercatat hanya 6,52%, sedangkan pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 6,92% secara tahunan. Lebih mengkhawatirkan lagi, laba industri justru terkontraksi 2,12%. Penurunan ini menjadi indikasi awal bahwa pertumbuhan volume pembiayaan tidak diikuti dengan perbaikan profitabilitas, mengingat beban operasional dan risiko pembiayaan yang makin kompleks.
Salah satu tekanan terbesar datang dari meningkatnya rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF), dari 2,44% menjadi 2,70% di 2024. Kenaikan NPF ini menjadi sinyal bahwa kualitas portofolio pembiayaan mulai tertekan, terutama di tengah tren pelambatan konsumsi masyarakat. Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan pembiayaan yang selama ini sangat bergantung pada segmen pembiayaan konsumtif, seperti kendaraan bermotor.
Memasuki paruh kedua 2025, tantangan jadi makin kompleks. Inflasi yang tetap tinggi dan suku bunga kredit yang belum menurun signifikan kian menekan daya beli masyarakat. Sehingga, permintaan pembiayaan konsumtif, terutama di sektor otomotif, cenderung tetap lemah.
Di tengah kondisi tersebut, pendekatan bisnis perusahaan multi finance mulai menunjukkan perbedaan yang mencolok. Sebagian perusahaan memilih langkah konservatif, menahan ekspansi untuk menjaga kualitas portofolio. Namun, ada pula yang justru tampil agresif, mencoba menangkap peluang dengan strategi yang terukur.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah langkah ekspansif yang dilakukan Federal International Finance (FIFGROUP). Hingga kuartal pertama 2025, FIFGROUP sukses menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp12 triliun, tumbuh 11,82% secara tahunan. Di saat banyak perusahaan lain menahan laju penyaluran kredit, capaian FIF ini menunjukkan keberanian FIF untuk tetap bertumbuh di tengah tekanan ekonomi. Strategi ini menempatkan FIF tetap kompetitif di jajaran raksasa multifinance nasional.
Menariknya, strategi pembiayaan FIF masih sangat terfokus pada segmen otomotif roda dua. Dari total pembiayaan FIF selama tiga bulan pertama 2025, lebih dari 90%-nya berasal dari kredit sepeda motor. Pendekatan ini konsisten dengan strategi lama FIF yang telah terbukti sukses selama bertahun-tahun. Namun, ketergantungan yang tinggi pada segmen ini juga membuat perusahaan menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi daya beli masyarakat kelas menengah bawah.
Meningkatnya NPF di industri menjadi tantangan tersendiri. Meski FIF mengklaim rasio NPF-nya masih di bawah rata-rata industri, sinyal tekanan tetap terlihat. Menanggapi hal ini, perusahaan mulai menyesuaikan parameter akuisisi, memperketat proses penagihan, dan melakukan penguatan internal untuk manajemen risiko.
“Penurunan daya beli cukup menekan permintaan dan kualitas pembiayaan konsumen. Hal ini kami sikapi dengan penyesuaian parameter akuisisi dan intensifikasi di proses repayment tanpa mengabaikan regulasi,” ujar Daniel Hartono, Direktur FIFGROUP, kepada Infobank, bulan lalu.
Untuk menjaga profitabilitas, FIF juga melakukan efisiensi operasional. Salah satunya melalui digitalisasi dan otomatisasi proses bisnis. Kanal digital kini menjadi tulang punggung akuisisi nasabah baru, mempercepat proses persetujuan kredit, serta menurunkan biaya penagihan. Transformasi ini dinilai efektif menjaga margin keuntungan di tengah tekanan suku bunga dan tingginya biaya dana.
Hasil strategi ini mulai terlihat. Laba bersih FIF pada kuartal pertama 2025 tercatat naik 2,92% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba yang sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola ekspansi dengan pendekatan efisiensi dan mitigasi risiko yang solid.
Berkebalikan dengan pendekatan agresif FIF, Adira Dinamika Multifinance (Adira Finance) memilih langkah yang lebih hati-hati. Hingga kuartal pertama 2025, Adira Finance mencatatkan pembiayaan baru sebesar Rp7,8 triliun, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pemilihan langkah ini bukan tanpa alasan. Adira Finance menilai, pasar otomotif belum kembali bergairah, suku bunga masih tinggi, dan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
“Penurunan daya beli masyarakat memberikan tantangan tersendiri terhadap pertumbuhan permintaan pembiayaan, seiring konsumen yang menjadi lebih selektif dalam pengeluaran dan memprioritaskan keb u tuhan esensial,” ujar I Dewa Made Susila, Direktur Utama Adira Finance.
Meski lebih konservatif dalam ekspansi, Adira Finance berhasil menjaga kualitas portofolio pembiayaan. Rasio NPF-nya tercatat di angka 2,3%, masih di bawah rata rata industri. Struktur portofolio Adira Finance juga masih cukup dominan di sektor otomotif, mencapai 71%.
Namun, perusahaan ini menunjukkan keseriusan untuk melakukan diversifikasi melalui produk pembiayaan multiguna. Segmen ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan produktif masyarakat, serta menjadi tumpuan baru saat pembiayaan kendaraan lesu. Di luar itu, Adira Finance mulai merambah pembiayaan sektor non otomotif, seperti alat berat, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan keseimbangan portofolio.
Tak hanya dari sisi produk, efisiensi juga menjadi fokus utama Adira Finance. Perusahaan multifinance ini mendorong transformasi digital melalui platform Adiraku, Momotor, dan Momobil. Ketiga kanal digital ini tak hanya memudahkan proses pengajuan dan persetujuan pembiayaan, tapi juga menekan biaya operasional. Meski kontribusi pembiayaan dari kanal digital belum dominan, pertumbuhan nya menjanjikan dan memperkuat fondasi bisnis berbasis teknologi.
Langkah efisiensi itu berdampak positif pada profitabilitas. Lihat saja, laba bersih Adira Finance pada kuartal pertama 2025 tercatat Rp279 miliar. Meski pembiayaan terkoreksi, efisiensi yang dilakukannya berhasil menjaga margin keuntungan tetap stabil.
Perbandingan antara strategi FIF dan Adira Finance mencerminkan dua pendekatan yang kontras, agresif, dan prudent. Masing-masing memiliki risiko dan peluang. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, hanya perusahaan dengan ketahanan model bisnis, inovasi berkelanjutan, dan manajemen risiko disiplin yang akan mampu menjaga eksistensinya.