Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ada Ruang Tumbuh 6,5% tapi Perbaiki Sistem Ekonomi

Ekonomi Indonesia punya potensi untuk tumbuh 6%-6,5% jika sistemnya diperbaiki. Bagaimana bank-bank Himbara mengucurkan kredit dari limpahan dana Rp200 triliun di tengah rendahnya permintaan kredit?

Oleh Karnoto Mohamad
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

PURBAYA Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru, yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati, berupaya mengoreksi kebijakan fiskal dan mone ter yang ada sebelumnya. Menurutnya, lambatnya pergerakan ekonomi yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh dua otoritas, yaitu Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI), yang mengeringkan likuiditas di sistem finansial. “Akibat nya ekonomi melambat, banyak pemecatan pegawai, rakyat hidupnya makin susah, dan kita tidak terlalu peduli, akhirnya turunlah masyarakat kita ke jalan,” ujar Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2020-2025 ini.

Kondisi tersebut bisa membuat jebakan ekonomi jika tidak segera diperbaiki. Tapi, kalau diperbaiki, ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih kencang.

Langkah awal yang dilakukan Purbaya adalah dengan menempatkan dana pemerintah di rekening BI ke sis tem perbankan. Pemerintah memiliki dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp425 triliun yang tersimpan di rekening khusus BI dan sebesar Rp200 triliun dimasukkan ke bankbank Him punan Bank Milik Negara (Himbara). Dana tersebut menganggur karena penyerapan anggaran yang rendah, lambat, dan justru menciptakan pemborosan karena sebagian dana tersebut berasal dari utang.

Lalu, harus bagaimana bank Himbara menyalurkan dananya ke sektor riil di tengah rendahnya permintaan kredit dan besarnya undisbursed loan yang ada di perbankan? Berikut kutipan dari dialog Purbaya Yudhi Sadewa dengan Infobank, pada 16 September 2025 lalu. Petikannya:

Anda sangat optimistis dengan kebijakan mengalihkan kas peme rintah di BI sebesar Rp200 triliun ke bank Himbara, sementara pertumbuhan kredit lambat karena rendahnya permintaan?

Ya, orang bilang kredit akan naik kalau ekonominya bagus. Nggak harus begitu. Kalau ekonomi susah, gimana? Ya kita hajar sistemnya. Supaya kreditnya tumbuh, ‘kan bank juga harus berpikir bagaimana memutar uang. Kalau ditaruh di brankas rugi, karena harus bayar 4%. Jadi, mereka harus kasih pinjaman.

Dia akan nyari proyek-proyek yang bagus, companycompany yang sudah jelas, atau dia pinjamkan ke sektor-sektor tertentu yang prospek nya bagus. Di situ ada kompetisi juga, maka bunganya turun ‘kan. Nah, ditambah cost of money turun, maka bunga turun. Orang yang megang uang tidak sayang lagi (pada uang nya) untuk dibelanjakan. Perusahaan yang mau pinjem tadinya ragu-ragu karena bunganya tinggi, setelah bu nga rendah jadi mau ambil kredit. Di situ ada penciptaan demand di pasar.

Bagaimana dengan undisbursed loan yang besar?

Itu karena ada opsi bank bisa naruh di BI. Kalau nggak ada opsi, akan mikir-mikir tuh. Pengalaman 2021, waktu itu kredit tumbuhnya rendah. Negatif malah. Orang bilang, bahkan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) bilang, kredit nggak akan bisa tumbuh kalau perekonomiannya belum membaik. Lalu kita balik. Kita ubah sistemnya. Jadi, ini bukan teori baru, tapi teori yang sudah kita uji. Kalau ada yang nggak ngerti, harus baca buku.

Bagaimana dengan paradigma banks follow the trade?

Nggak harus begitu. Kalau bank cari cara-cara yang bagus gimana? Kalau saya kasih pinjam kemarin 7% nggak mau, kalau sekarang 6% mau nggak? Kenapa bisa begitu, karena cost of fund-nya rendah, bank masih untung 2%, dibanding bayar biaya uang 4% ke saya. Jadi, itu ‘kan otomatis jalan.

Itu kita uji. Orang bilang, cetak uang pasti inflasi. Nggak selalu. In the short time, teorinya juga nggak seper ti itu. Kalau nggak, market-nya buat apa. Uang berlebih akan mencipta kan demand pull inflation, karena laju pertumbuhannya sudah di atas laju pertumbuhan ekonomi potensial. Kita masih di bawah itu, jadi ruang kita untuk tumbuh lebih cepat terbuka lebar.

Saya yakin lima sampai enam tahun ke depan tidak akan terjadi walaupun ekonomi kita tumbuh 6% 7%. Karena, inflasi yang terjadi di Indonesia sebagian besar karena cost push inflation, misalnya disebabkan harga BBM, karena di dunia naik. Itu ‘kan cost push. Jadi, kalaupun kita kurangi uang dan perlambat ekonominya, tapi penyebab harga naik itu karena masalah global.

Kondisi tersebut bisa membuat jebakan ekonomi jika tidak segera diperbaiki. Tapi, kalau diperbaiki, ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih kencang.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI