Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Artajasa

Members Meeting Artajasa ATM Bersama 2025: Komitmen Memperkuat Kepercayaan Pelanggan & Publik dalam Mendukung Keamanan & Kenyamanan Transaksi Digital

Members Meeting Artajasa AtM bersama 2025 diselenggarakan Artajasa sebagai wadah kolaborasi antarbank dalam memperkuat ekosistem pembayaran digital yang aman dan inklusif. Forum ini juga menjadi momentum untuk mengukuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem pembayaran yang seamless, efisien, dan tepercaya.

Oleh Ari Nugroho
Members Meeting Artajasa AtM bersama 2025; memperkuat kolaborasi

Members Meeting Artajasa AtM bersama 2025; memperkuat kolaborasi

PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) kembali menegaskan peran strategisnya dalam sistem pembayaran nasional melalui penyelenggaraan kegiatan Members Meeting Artajasa ATM Bersama 2025 yang dihelat di Manado, Sulawesi Utara, pada 18-19 September 2025. Forum tahunan ini menjadi wadah kolaborasi antarbank dan lembaga keuangan dalam memperkuat konektivitas digital dan kepercayaan publik terhadap transaksi pembayaran modern. Dengan mengusung tema “Borderless Connectivity: Strengthening Trust in Digital Transaction”, acara ini memperlihatkan komitmen Artajasa dalam memperluas jaringan pembayaran yang inklusif, efisien, sekaligus aman.

Direktur Utama Artajasa, Armand Hermawan, menekankan pentingnya sinergi untuk menjawab tantangan era digital yang makin kompleks. “Kolaborasi antaranggota ATM Bersama menjadi kunci untuk mendukung tren konektivitas tanpa batas, inklusi keuangan, serta membangun ekosistem pembayaran yang aman, cepat, dan andal guna mendorong pertumbuhan ekonomi digital berkelanjutan,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa fraud masih jadi ancaman nyata sehingga perlindungan berlapis menjadi keharusan.

Sejumlah pembicara hadir memperkaya diskusi pada forum tersebut, termasuk Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan keamanan. Menurutnya, digitalisasi memang menjadi game changer bagi ekonomi nasional, tapi aspek trust tetap harus dijaga. “Untuk menciptakan sistem pembayaran digital yang aman, inklusif, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, diperlukan sinergi dari semua pihak,” kata Destry.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), juga memberikan pandangan strategis mengenai masa depan pembayaran digital. Ia menilai, potensi competitive advantage sektor perbankan bisa meningkat jika transformasi digital dilakukan secara terintegrasi dan inklusif.

“Digitalisasi melahirkan banyak peluang baru. Hanya saja, agar peluang peluang yang ada dapat dioptimalkan, diperlukan kolaborasi lintas sektor,” jelasnya. Hal ini selaras dengan upaya OJK mendorong perbankan untuk makin adaptif terhadap inovasi teknologi.

Sementara, pakar teknologi informasi (TI), R. Eko Indrajit, melalui sesi masterclass, menyoroti munculnya paradigma baru dalam digital banking yang mengedepankan keber lanjutan dan men dukung green economy. Ia menjelas kan bahwa tren perbankan digital tak hanya soal efisiensi layanan, tapi juga bagaimana teknologi bisa berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan. Konsep sustainable digital finance menjadi salah satu arah baru yang diyakini akan makin relevan di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan global.

Workshop interaktif yang dibagi menjadi dua sesi utama juga menarik perhatian peserta. Pada sesi pertama, bertajuk “How to Prepare Security and Trust in The Era of Next Gen Payment System”, Ryan Rizaldy, Direktur Kebijakan Sistem Pembayaran BI, mengingatkan bahwa isu utama dalam sistem pembayaran digital bukan hanya security, tapi juga resiliensi. Ia menekan kan perlunya membangun ketahanan sistem dari berbagai risiko yang muncul seiring dengan meningkat nya digitalisasi. “Isunya bukan sekadar security, tapi resiliensi. Resiliensi punya makna lebih luas, mencakup ketahanan sistem dari berbagai risiko,” tuturnya.

Dalam sesi yang sama, Nancy Adistyasari, Sekretaris Jenderal Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), menguraikan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan mitigasi risiko. Ia menekankan peran ASPI dalam menggerakkan transformasi digital sistem pembayaran bersama regulator dan industri.

“ASPI juga mengambil peran untuk mendorong daya saing industri dan menjaga keseimbangan antara inovasi dan mitigasi risiko,” ujar Nancy. Menurutnya, inovasi seperti QRIS dan GPN merupakan contoh nyata kolaborasi lintas pihak yang mampu memperkuat fondasi ekosistem pembayaran nasional.

Adapun YB. Hariantono, perwakilan Perbanas, menekankan kesiapan infrastruktur teknologi perbankan. Menurutnya, investasi teknologi menjadi hal mutlak bagi perbankan agar mampu mengantisipasi ancaman cybercrime. Sementara itu, Heru Perwito, Direktur Bisnis Artajasa, menambahkan bahwa pihaknya telah mengembangkan solusi secure connection dan fraud detection system yang dapat membantu perbankan meningkatkan perlindungan dalam setiap transaksi. “Sudah banyak regulasi terkait ini, tapi kenapa masih banyak saja serangan siber. Maka itu, perlu keamanan berlapis di jantung tiap transaksi,” tegas Heru.

Sementara, sesi kedua workshop bertema “Strengthening The Future of Payment Ecosystems” menyoroti langkah konkret dalam membangun masa depan sistem pembayaran digital. Fathan Juniadi, Vice President Product Management Artajasa, memaparkan pentingnya interoperabilitas agar transaksi lintas platform bisa berjalan seamless dan efisien. Ia menjelaskan, interoperabilitas bukan sekadar soal konektivitas teknis, tapi juga menyangkut kepercayaan publik dalam menggunakan berbagai kanal pembayaran.

Taufik Kurniawan, Vice President Enterprise Business Solution Artajasa, menambahkan bahwa solusi digital terbaru yang dikembangkan Artajasa diarahkan untuk mendukung inklusi keuangan, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia menyebut pengembangan QRIS dan Kartu Kredit Indonesia (KKI) sebagai contoh nyata bagaimana teknologi pembayaran bisa memperluas akses keuangan. Dengan dukungan regulasi yang kuat dari BI dan OJK, solusi ini diyakini dapat memperkuat daya saing industri keuangan nasional di era globalisasi digital.

Selain materi dari narasumber utama, forum ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman praktis antarbank anggota ATM Bersama. Beberapa peserta menekankan pentingnya data analytics dalam mendeteksi pola transaksi mencurigakan yang berpotensi menjadi fraud. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kolaborasi berbasis data akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pembayaran yang tangguh.

Dengan lebih dari 90 anggota bank dan nonbank yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama, Artajasa menegas kan posisinya sebagai salah satu tulang punggung sistem pembayaran nasional. Members Meeting Artajasa ATM Bersama 2025 menjadi momentum untuk mengukuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem pemba yaran yang seamless, efisien, dan tepercaya. Dalam ekosistem digital yang kian terintegrasi, keberhasilan menjaga keper cayaan publik akan menjadi faktor penentu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Direktur Utama Artajasa, Armand Hermawan, menekankan pentingnya sinergi untuk menjawab tantangan era digital yang makin kompleks. “Kolaborasi antaranggota ATM Bersama menjadi kunci untuk mendukung tren konektivitas tanpa batas, inklusi keuangan, serta membangun ekosistem pembayaran yang aman, cepat, dan andal guna mendorong pertumbuhan ekonomi digital berkelanjutan,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa fraud masih jadi ancaman nyata sehingga perlindungan berlapis menjadi keharusan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI