Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Fintech Lending

Bisnis Kencang, Vonis Menggantung

Meskipun dihadapkan pada permasalahan yang kompleks, industri pindar tetap mampu adaptif dan tumbuh positif di bawah tekanan.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

TAHUN 2026 boleh jadi merupakan periode yang paling menantang bagi industri financial technology peer to peer lending (fintech lending) atau pinjaman daring (pindar). Sejak 2025 lalu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melayangkan tuduhan kartel dan menganggap industri mengatur manfaat ekonomi atau suku bunga acuan untuk konsumen. Peristiwa ini menjadi batu sandungan terbesar bagi sektor yang tengah dalam masa pertumbuhan ini.

Menghadapi kondisi menantang tersebut, pelaku pindar tidak lantas berkecil hati. Para pemain di industri ini mampu menunjukkan resiliensi dan kemampuan beradaptasi di tengah situasi sulit. Disampaikan Entjik S. Djafar, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), pemain di industri berkomitmen untuk tetap menjalankan bisnis seperti biasa di tengah bayang-bayang peristiwa tidak mengenakkan itu.

“Untuk saat ini, kami menjalankan strategi business as usual. Kegiatan operasional tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun ada gejolak dari sisi investor, kondisinya masih dapat dikendalikan,” ujar Entjik kepada Infobank.

Buktinya terlihat jelas dari pertumbuhan kinerja industri, yang sampai dengan Juni 2026 masih menyentuh double digit dari berbagai aspek. Aset industri berada di posisi Rp11,52 triliun, naik 16,72% secara year on year (yoy). Sementara, outstanding pinjaman melonjak 25,89% menjadi Rp105,14 triliun. Profitabilitas juga terjaga dengan baik, tecermin dari laba bersih yang tumbuh 15,44% ke angka Rp1,21 triliun.

Meski demikian, kinerja pelaku pindar bukan tanpa cela. Tingkat wanprestasi (TWP90) yang sudah menyentuh 4,26% menjadi alarm bagi industri untuk lebih prudent dalam menjalankan bisnis. Di tengah perkembangan ekosistem pindar yang pesat, para pemain di dalamnya juga perlu memperhatikan aspek sustainability. Artinya, jangan sampai pertumbuhan pesat di masa sekarang malah membawa dampak negatif terhadap para pemain pada periode mendatang.

Hal itu disampaikan Kuseryansyah, CEO KrediOne. Melihat dinamika industri yang makin tinggi, perusahaan pindar wajib lebih selektif dan inovatif dalam mengelola pertumbuhan serta adaptasi teknologi. Pertumbuhan berkelanjutan bukan hanya soal mengejar target penyaluran pembiayaan.

“Dibutuhkan disiplin dalam menentukan prioritas, efisiensi dalam mengelola sumber daya, inovasi dalam teknologi, dan konsistensi dalam menjaga kualitas. Bagi kami, efisiensi bukan berarti berhenti untuk tumbuh, tetapi memastikan setiap langkah pertumbuhan memiliki fundamental kuat,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Namun, pada akhirnya, pemain pindar juga harus mengakui bahwa momentum pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi oleh putusan hakim terkait kasus dugaan kartel. Sebab, jika kasus ini nantinya diputus secara final dan memberatkan, para investor dikhawatirkan akan menarik diri secara penuh. Tentu tidak ada investor yang bersedia menanggung denda ratusan miliar ketika keuntungan jauh lebih kecil daripada nilai denda.

Jika kondisi lebih stabil dan kondusif, peluang pindar untuk mempertahankan momentum pertumbuhan terbuka lebar. Infobank memproyeksi pertumbuhan fintech lending berkisar di 20%-30% pada akhir 2026 dan 2027 mendatang.

 

Menghadapi kondisi menantang tersebut, pelaku pindar tidak lantas berkecil hati. Para pemain di industri ini mampu menunjukkan resiliensi dan kemampuan beradaptasi di tengah situasi sulit. Disampaikan Entjik S. Djafar, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), pemain di industri berkomitmen untuk tetap menjalankan bisnis seperti biasa di tengah bayang-bayang peristiwa tidak mengenakkan itu.

“Untuk saat ini, kami menjalankan strategi business as usual. Kegiatan operasional tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun ada gejolak dari sisi investor, kondisinya masih dapat dikendalikan,” ujar Entjik kepada Infobank.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI