Ada mimpi yang ditulis, ada target yang dicentang, ada pula rencana yang harus dibawa ke tahun berikutnya. Di antara halaman-halaman itu, tersusun perjalanan panjang leader wanita satu ini yang mengajarkan arti konsistensi dan keberanian untuk terus bergerak.
Sumber : Infobank
ADA satu benda yang selalu menemani Afifa, CEO & Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), dalam menjalani hariharinya. Benda itu adalah buku jurnal yang penuh warna dan tulisan tangan.
Buku jurnal itu berisi banyak hal. Ada target atau goals pekerjaan, rencana bersama keluarga, soal kesehatan, hingga urusan spiritual. Ada yang sudah dicentang, ada yang masih tertunda, ada pula yang akhirnya tidak lagi relevan. Semuanya ia catat, lalu dievaluasi kembali. Buku jurnal itu rutin digantinya setiap pergantian tahun.
Kebiasaan itu rupanya sudah dijalani Afifa sejak kuliah. Jauh sebelum istilah resolusi tahunan populer seperti sekarang, ia sudah terbiasa menuliskan bullet journal berisi target yang ingin dicapai dalam hidup. Bahkan, beberapa target dibuat cukup spesifik, termasuk soal dirinya, keluarga, hingga karier.
“Waktu saya kuliah tuh saya sudah bikin. Misalnya, di umur 27 saya menikah, di umur 29 saya punya anak. Jurnal ini seperti introspeksi, apa yang sudah, apa yang belum dicapai. Bad habit apa yang mau dikurangi, good habit apa yang mau dicreate,” ujarnya ketika berbincang dengan Infobank di kantornya, beberapa waktu lalu.
Baginya, menulis jurnal bukan sekadar kebiasaan untuk mengingat pekerjaan. Ada kepuasan tersendiri ketika satu per satu target yang ditulisnya bisa diselesaikan. “Kalau ditulis, saya jadi bisa melihat lagi. Ini sudah dilakukan, ini belum, ini harus diteruskan. Jadi, lebih fokus,” imbuhnya.
Tapi, siapa sangka, salah satu langkah penting dalam kariernya justru bermula dari sesuatu yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya. Kala itu, Afifa masih menjadi mahasiswa Jurusan Manajemen di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.
Sebagai anak kos, wanita berdarah Palembang ini harus pandai mengatur uang. Suatu ketika, ia mendapat kesempatan menjaga booth Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) di Bandung Indah Plaza (BIP). Ada bayaran harian yang lumayan untuk menambah uang sakunya. “Anak kos itu ‘kan uangnya terbatas. Jadi, motif awalnya karena lumayan bayaran per hari, untuk nambah uang jajan. Tapi, dari situ saya jadi lihat, oh menarik ya industri ini,” kenangnya.
Dari booth sederhana itulah Afifa mulai mengenal pasar modal. Ia melihat ada sesuatu yang menarik dari dunia yang saat itu masih jauh lebih kecil ketimbang sekarang. Pergerakan pasar yang dinamis membuat rasa penasarannya tumbuh.
Dari sana, langkahnya mulai tersusun satu per satu. Rasa penasaran itu kemudian membawanya pada pilihan pekerjaan pertama. Dari tujuh tawaran setelah lulus, Afifa memilih pekerjaan yang memberinya kesempatan bersentuhan lebih dekat dengan pasar modal.
Ia bergabung dalam program management trainee di sebuah grup perusahaan yang memiliki bisnis sekuritas, manajemen aset, foreign exchange, hingga money market trading. Selama sekitar satu setengah tahun, ia belajar mengenal pasar modal dari berbagai sisi. “Di situ saya belajar banyak hal. Bukan cuma capital market, tapi juga service excellence, bagaimana melayani, bagaimana survive di bisnis,” kata peraih gelar Sarjana Ekonomi dari Unpad dan Magister Manajemen dari Universitas Bina Nusantara ini.
Pengalaman itu mengantarnya berkarier di sejumlah perusahaan sekuritas, di antaranya Bahana Securities dan DBS Vickers Indonesia. Kemudian, pada 2011, Afifa bergabung dengan MAMI. Di sana ia mendapat tantangan untuk membangun fungsi institusional, mulai dari mencari tim, menyusun standard operating procedure (SOP), hingga membangun service level dan solusi untuk nasabah.
Peran Afifa di MAMI pun terus berkembang, hingga ia dipercaya memimpin MAMI sejak 2021. Bagi Afifa, posisi itu bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk menjaga apa yang telah dibangun bersama tim. “Bagi saya, peran ini bukan sekadar posisi, tapi merupakan amanah. Apa yang sudah dibangun bersama tim yang kuat, untuk dapat terus menyesuaikan dan mempertahankan kepercayaan di tengah dinamika market yang ada sekarang,” ujarnya.
Hampir tiga dekade berkarier di industri pasar modal membuat Afifa percaya bahwa tidak ada hasil yang benar-benar instan. Menurutnya, kunci menjalani karier adalah bekerja dengan integritas, konsisten, dan mau terus belajar. Prinsip untuk menjalani sesuatu dengan sungguhsungguh itu pula yang ia bawa ke kehidupan pribadinya.
Afifa punya prinsip be present. Ketika bekerja, ia ingin hadir sepenuhnya untuk pekerjaan. Ketika berada di rumah, ia ingin menikmati perannya sebagai ibu dan istri. “Setiap orang punya 24 jam yang sama, tujuh hari yang sama. Yang membedakan satu orang dengan yang lain adalah bagaimana kamu mengisi hari-hari kamu menjadi lebih bermakna,” ujar ibu dua anak ini.
Buku-buku jurnal Afifa pun hingga saat ini terus bertambah. Isinya bukan lagi sekadar target, tapi juga catatan kecil dan memorabilia dari berbagai perjalanan. Ketika dibuka kembali, setiap halaman membawa Afifa pada cerita yang pernah dilewati.
Mungkin ini alasan jurnal menjadi begitu berarti baginya. Bukan untuk sekadar mengejar apa yang belum tercapai, tapi melihat lebih luas apa yang masih bisa diperbuat. “Ketika kita berpikir apa yang bisa kita perbuat, itu menjadi motivasi yang ibaratnya tidak berhenti di tempat, yang terusmenerus terbakar atau terus mengalir,” pungkasnya
STRATEGI TUMBUH DI TENGAH KETIDAKPASTIAN
MAMI sudah menjadi salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia. Menurut Anda, apa faktor yang paling berperan dalam pencapaian itu?
Kepercayaan investor. Karena, kami adalah perusahaan investasi, di mana kami mengelola dana investor. Bagaimana supaya dapat kepercayaan? Tentunya dibangun. Jadi, tidak setahun pertama langsung dapat. Dibangun dengan konsistensi kerja dan disiplin, komitmen untuk memberikan yang terbaik untuk nasabah dan partner. Dan, ini sejalan dengan value yang memang ada di Manulife, di mana kami punya value namanya ‘Obsessed with Our Customer’. Jadi, selalu memberikan yang terbaik, customer first.
Saat ini, berapa jumlah investor MAMI dan berapa total dana kelolaan?
Jumlah investor MAMI saat ini sekitar 2,6 juta. Sementara itu, dana kelolaan berdasarkan data Maret mencapai sekitar Rp124 triliun. Setelah Maret, dana kelolaan kembali bertambah seiring dengan adanya net sales. Dalam 10 tahun terakhir, dana kelolaan MAMI tumbuh sekitar 17% per tahun secara compound annual growth rate (CAGR), atau jauh di atas pertumbuhan industri.
Apa yang menjadi prinsip MAMI dalam menjaga pertumbuhan?
Kami tidak mengejar sukses jangka pendek. Makanya, kepercayaan itu dibangun dengan waktu. Jadi, kami tidak cuma berfokus pada return semata, tapi kami memosisikan antara return dan managing risk sama pentingnya.
(Terkait) managing risk, kami selalu mengedepankan kualitas produk daripada underlying yang baik. Karena, beberapa underlying itu memberikan return yang tinggi, tapi belum tentu kualitasnya baik. Yang kedua, memastikan bahwasanya underlying-nya likuid. Karena, beberapa di market underlying-nya tidak likuid. Jadi, untuk memberikan yang disebut dengan optimal. Jadi, return-nya baik, tapi juga dari sisi risiko, apakah risiko underlying maupun risiko likuiditas, itu kami duaduanya penting.
Itu yang akhirnya membangun yang namanya sustain, dan budaya prudent itu memang sudah menjadi akar dari cara kami mengelola portofolio. Jadi, tidak hanya return yang dikejar, tidak terlalu mengedepankan pentingnya kualitas underlying.
Maret lalu, MAMI melakukan akuisisi terhadap Schroders Indonesia. Apa yang melatarbelakangi langkah strategis itu dan bagaimana Anda melihat potensi sinerginya ke depan?
Banyak yang bertanya mengapa MAMI mengakuisisi Schroders Indonesia. Apakah untuk memperbesar AUM? Jawabannya tidak, karena MAMI sudah menjadi nomor satu. Akuisisi ini lebih ditujukan untuk extend capability dan memperluas talenta yang dimiliki. Langkah itu didasari adanya kesamaan filosofi, risk management, dan disiplin dalam pengelolaan investasi.
Dengan menggabungkan capability dan talenta terbaik di industri, yang pada akhirnya akan mendapatkan manfaat adalah nasabah dan partner. Karena itu, Manulife siap berinvestasi di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian dan gejolak geopolitik. Kami tidak melihatnya dalam jangka pendek, tetapi dalam perspektif jangka panjang, dengan fokus memberikan yang terbaik bagi nasabah dan partner.
Di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, ke depan, peluang pertumbuhan terbesar yang dilihat MAMI berasal dari segmen dan produk investasi seperti apa?
Saat ini, mayoritas dana kelolaan MAMI masih berada di instrumen pendapatan tetap, dan dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan terkuat juga berasal dari investasi di pasar obligasi. Namun, ke depan MAMI tidak terlalu mengedepankan asset class, melainkan fokus pada kebutuhan nasabah dan bagaimana memberikan solusi yang lebih baik. Salah satunya melalui strategi yang dapat menyesuaikan dengan kondisi pasar dan meredam volatility.
MAMI juga terus mendorong inovasi dan diversifikasi, baik dari sisi asset class, currency, maupun negara. Salah satu produk yang dikembangkan adalah dynamic multi asset, yang memiliki portofolio terdiversifikasi sehingga diharapkan dapat meredam volatility sekaligus menjaga potensi return.
Bagaimana pandangan Anda mengenai kondisi industri pasar modal Indonesia saat ini? Dan, apa yang perlu ditingkatkan pelaku industri, termasuk MAMI?
Pertumbuhan investor reksa dana sangat pesat, terutama sejak pandemi COVID-19 yang mendorong digitalisasi. Namun, tantangannya adalah literasi yang masih perlu ditingkatkan. Karena itu, MAMI aktif melakukan edukasi agar masyarakat tidak berinvestasi sekadar ikut-ikutan atau FOMO, tetapi berdasarkan pengetahuan dan kebutuhan.
Edukasi menjadi tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri agar pertumbuhan akses investasi juga diimbangi dengan literasi. Dengan begitu, pasar modal dapat makin berperan sebagai salah satu pilar utama dalam perencanaan keuangan masyarakat. AUS
Buku jurnal itu berisi banyak hal. Ada target atau goals pekerjaan, rencana bersama keluarga, soal kesehatan, hingga urusan spiritual. Ada yang sudah dicentang, ada yang masih tertunda, ada pula yang akhirnya tidak lagi relevan. Semuanya ia catat, lalu dievaluasi kembali. Buku jurnal itu rutin digantinya setiap pergantian tahun.