Ignasius Jonan adalah bankir senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.
Sumber : Infobank
Pada 12 Agustus 2026 lalu, bangsa Cina atau Tiongkok kehilangan Zhu Rongji (1928- 2026), perdana menteri kelima Republik Rakyat Cina (RRC). Zhu dikenal sebagai penjagal para koruptor, dengan semboyannya yang terkenal, “Sediakan 100 peti mati, 99 untuk koruptor dan satu untuk saya, bila saya korupsi.”
Dunia juga mengenal Deng Xiaoping (1904-1997), pemimpin tertinggi RRC yang dikenal sebagai “bapak Cina modern”, yang membalikkan paradigma lama Mao Zedong (1893-1976), pendiri RRC yang ideologis-utopis. Deng berpikir empiris-pragmatik dengan merangkul pasar bebas untuk menggerakkan ekonomi. Kata-katanya yang terkenal adalah, “Tidak penting apakah warna kucing putih atau hitam. Yang jelas, dia harus bisa menangkap tikus.”
Jika Deng merancang arah baru Tiongkok, Zhu menerjemahkan visi tersebut menjadi institusi, kebijakan, dan tata kelola pemerintahan. Sejak 1998, Zhu mereformasi institusi pemerintahan, perusahaan milik negara, dan sektor keuangan. Dunia usaha berkembang pesat dan ekonomi Tiongkok tumbuh mengesankan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 1979-2025 mencapai 8,8% per tahun.
Setelah reformasi dilakukan dan membuahkan hasil secara berkelanjutan, Xi Jinping yang memimpin Tiongkok sejak 2012 mempercepat modernisasi besar-besaran. Termasuk modernisasi kekuatan militernya. Xi memperkenalkan kebijakan One Belt One Road yang memperkuat pengaruh Tiongkok di berbagai belahan dunia.
Kesuksesan Tiongkok di bidang ekonomi telah mengantarkannya menjadi negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di dunia sejak awal dekade 2010-an. Sejarah pun membuktikan ada korelasi antara kemakmuran ekonomi dan kekuatan militer, seperti dikatakan oleh Osman Ghazi, pendiri Imperium Ottoman, yang berjaya dari 1299 hingga 1923, “tidak ada tentara yang kuat tanpa uang, tidak ada uang tanpa kemakmuran, tidak ada kemakmuran tanpa rakyat yang bahagia dan sejahtera, tidak ada rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa pemerintahan yang bersih dan adil”.
Rakyat Tiongkok pernah merasakan pedihnya dijajah secara brutal oleh negara lain, mulai dari Mongol, Machu, Eropa, hingga Jepang. Kemajuan Tiongkok bukanlah buah dari balas dendam terhadap masa lalu, melainkan buah dari transformasi. Bicara transformasi adalah bicara kepemimpinan. Menurut saya, keberhasilan Tiongkok adalah berkat berbagai kombinasi berikut.
Satu, pemimpin yang visioner dan berpikir pragmatis. Deng maupun Zhu adalah pemimpin politik. Tapi, keduanya memilih jalan reformasi institusional dan membangun kapasitas negara, bukan mobilisasi politik. Reformasi Zhu membuat iklim usaha sangat kondusif. Padahal, Tiongkok sangat setia kepada komunis. Makanya, Bloomberg Economics pernah menyebutkan, tidak ada satu negara pun yang dapat meniru Tiongkok dalam mentransformasi ekonomi yang berhasil.
Dua, pemerintah secara konsisten membuat kebijakan serta pembangunan jaringan transportasi, logistik, hingga kawasan industri masif dari nol secara terintegrasi. Agar masyarakat tidak tertinggal oleh pembangunan yang cepat, negara menjalankan program pengentasan kemiskinan presisi (targeted poverty alleviation) berbasis data dan penanganan langsung di lapangan.
Tiga, budaya adaptasi masyarakat yang tinggi dengan dukungan pendidikan manusia dan pembangunan mindset learning by doing – cepat mencoba teknologi baru, menguji, memperbaiki, lalu meluncurkan versi yang lebih matang. Kecepatan membaca peluang pasar dan keberanian untuk melakukan transformasi ketika situasi global berubah.
Empat, sistem kaderisasi dan meritokrasi politik yang menempatkan orang-orang kompeten dalam struktur kepemimpinan, termasuk dalam suksesi kepemimpinan. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok tumbuh pesat menyaingi Amerika Serikat (AS). Dalam pidato perayaan 100 tahun kelahiran Partai Komunis, dia kembali menegaskan tidak ada satu pun kekuatan asing menindas negara Tiongkok.
Sebagai penutup, kepergian Zhu Rongji patut mengingatkan kembali bagaimana perjuangan Tiongkok, dari negara yang diiris-iris oleh penjajah, rakyatnya masih hidup miskin setelah merdeka pada 1949, bangkit pada 1978, kemudian menjadi raksasa ekonomi terbesar kedua di dunia. Perubahan terjadi karena dimulai dari seorang pemimpin.
Bisa disimpulkan, kehadiran pemimpin dan negara telah membawa Tiongkok menjadi negara yang kuat, baik secara ekonomi maupun militer. Bukan semata-mata karena sistem komunis yang menyatukan Tiongkok dari risiko terpecah belah. Tapi, karena kepemimpinan yang membangun kapasitas negara hingga meraih kepercayaan rakyat maupun investor, karena seperti dikatakan sejarawan Arab, Ibn Khaldun (1332- 1406), “Government is an institution which prevent injustice other than such as it commits itself.” Selain juga faktor kerja keras, ketekunan, dan kesabaran rakyat Tiongkok, yang sejalan dengan pesan leluhurnya, Lao Tzu, "Water is fluid, soft, and yielding. But water will wear away rock.
Dunia juga mengenal Deng Xiaoping (1904-1997), pemimpin tertinggi RRC yang dikenal sebagai “bapak Cina modern”, yang membalikkan paradigma lama Mao Zedong (1893-1976), pendiri RRC yang ideologis-utopis. Deng berpikir empiris-pragmatik dengan merangkul pasar bebas untuk menggerakkan ekonomi. Kata-katanya yang terkenal adalah, “Tidak penting apakah warna kucing putih atau hitam. Yang jelas, dia harus bisa menangkap tikus.”
Jika Deng merancang arah baru Tiongkok, Zhu menerjemahkan visi tersebut menjadi institusi, kebijakan, dan tata kelola pemerintahan. Sejak 1998, Zhu mereformasi institusi pemerintahan, perusahaan milik negara, dan sektor keuangan. Dunia usaha berkembang pesat dan ekonomi Tiongkok tumbuh mengesankan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 1979-2025 mencapai 8,8% per tahun.