Baginya, usia senja bukanlah akhir dari perjalanan. Pengalaman panjang dan dedikasi selama puluhan tahun di industri perbankan justru membawanya kembali dipercaya untuk menakhodai salah satu BPR terbesar di Indonesia.
MATAHARI di kala senja begitu indah. Jelang waktu terbenam di ufuk barat, sang surya seakan masih ingin memberikan cahaya terbaiknya sebelum benar-benar tenggelam. Barangkali, metafora ini cocok untuk menggambarkan perjalanan hidup Freddijoe Wunas, Direktur Utama BPR Modern Express. Di usia senjanya, sosok ini masih terus aktif belajar, berkarya, dan berkontribusi lebih untuk memajukan perekonomian daerah melalui perusahaan yang dipimpinnya.
Proses perjalanan pria yang akrab disapa Freddy ini untuk menjadi tokoh besar di industri perbankan rural jauh dari kata instan. Freddy menghabiskan puluhan tahun di sektor perbankan, mengenyam asam garam kehidupan sebagai bankir, dan merasakan pasang-surut dari roda kehidupan yang terus berputar.
Freddy mengakui terlahir dari keluarga sederhana. Pria kelahiran Makassar pada 1949 ini sering menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya berdagang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Freddy pun merasa, hal ini yang kemudian membentuk jiwa dagang dalam dirinya.
“Menjadi bankir bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Tapi, karena saya lahir di lingkungan keluarga Tionghoa, dan waktu itu orang tua saya berdagang, maka jiwa dagang terbentuk dengan sendirinya,” kata Freddy kepada Infobank.
Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini pun mengikuti jejak keluarganya sebagai pedagang, berkecimpung di bidang kanvaser, barang kebutuhan harian, dan sembako. Pada 1984, barulah Freddy terjun ke dunia perbankan, dengan mengawali karier sebagai account officer (AO) di Bank Internasional Indonesia (BII) kantor cabang Makassar.
Lebih dari dua dekade berkiprah di BII – terakhir menjabat sebagai Kepala Divisi Branch Network – Freddy memutuskan pindah ke Bank Artha Niaga Kencana, yang kemudian diakuisisi Commonwealth Bank pada 2006. Dan, pada 2010, Freddy memutuskan untuk pensiun di usia 61 tahun, di posisi kepatuhan. Di benaknya, karier di dunia perbankan sudah usai.
Tapi, seperti sang surya yang memasuki kala senja, Freddy belum sepenuhnya terbenam. Di tahun yang sama ketika pensiun, Freddy malah mendapat tawaran untuk menjadi staf ahli di PT Modern Multiartha, yang kala itu memiliki sejumlah bank perekonomian rakyat (BPR) yang tersebar di wilayah Indonesia Timur. Melihat ada tantangan di sektor perbankan mikro, Freddy merasa tak perlu berpikir panjang untuk mengiyakan tawaran itu.
Tak perlu waktu lama pula bagi pemegang saham untuk memintanya mengisi posisi eksekutif BPR, baik sebagai direksi maupun komisaris. Puncaknya, pada 2023, Freddy mendapat kepercayaan penuh dari para pemegang saham untuk menduduki kursi Direktur Utama BPR Modern Express. Saat itu, perusahaan baru merampungkan merger 10 BPR, mempertegas posisi BPR Modern Express sebagai salah satu BPR terbesar di negeri ini.
“Pada April 2023, 10 BPR milik PT Modern Multiartha melakukan aksi korporasi berupa penggabungan badan hukum. PT BPR Modern Express terpilih untuk menjadi BPR induk dari penggabungan tersebut, dengan kantor pusat di Ambon. Dengan aksi korporasi tersebut, saya kemudian dipercaya untuk mengelola BPR Modern Express,” terang Freddy.
Usia Freddy saat mendapatkan amanah itu sudah menyentuh angka 74 tahun. Bagi sebagian orang, usia 74 tahun mungkin saatnya untuk benar benar menikmati masa pensiun. Tapi, bagi Freddy, menjadi direktur utama justru membuka babak baru dalam perjalanan panjangnya sebagai bankir.
Lanskap perbankan saat ini jauh berbeda dibandingkan dengan ketika pertama kali ia menjadi AO pada 42 tahun silam. Teknologi berkembang cepat, sementara kebutuhan nasabah juga terus berubah. Tapi, di sinilah etos kerja, ketekunan, pengalaman, dan kebijaksanaan memainkan peran untuk menavigasi arah BPR yang per Juni 2026 sudah memiliki aset Rp7,77 triliun ini.
Pria yang masih rutin olahraga jalan kaki ini mengaku tetap konsisten mempelajari hal-hal baru. Ia merasa selalu haus akan ilmu pengetahuan dan tren terkini. Sifat ini diakuinya dilatar belakangi masa mudanya yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Di lain sisi, ini menjadi karakteristik Freddy. Kendati sudah berumur, ia tak mau kalah pintar dari generasi muda dan tetap ingin up to date.
“Saya juga tidak mau ketinggalan dengan anak muda. Saya juga mesti tahu hal-hal yang berkaitan dengan digitalisasi. Seperti AI, misalnya, itu saya juga ikut coba memperhatikan, cuma masih tetap belajar. Mungkin usia saya sudah masuk senja, tapi otak saya masih mau bekerja lebih dari anak muda,” ucap Freddy dengan penuh rasa bangga.
Tantangan industri BPR tidaklah mudah. Persaingan branding dengan bank umum kerap membuat bank rural kesulitan bergerak, baik dalam penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Belum lagi, bank umum acapkali mendapat sokongan pemerintah, baik dari sisi pendanaan maupun program, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Digitalisasi juga masih menjadi PR bagi kebanyakan pelaku industri BPR.
Alasan-alasan itulah yang terus membuat Freddy memperluas cakrawala. Ia berharap, ilmu yang diperolehnya mampu diimplementasikan guna meningkatkan kualitas perusahaan dan memperluas layanan terhadap nasabah. Dengan tekun, Freddy bersama tim terus berusaha memperkokoh fundamental perusahaan melalui digitalisasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Melalui perbankan mikro, Freddy percaya bisa menjangkau masyarakat yang memang memerlukan akses keuangan. Puluhan tahun menjadi bankir membuat Freddy melihat wajah perekonomian dari dua sisi. Ketika berada di bank umum, ia banyak berhadapan dengan bisnis berskala besar. Tapi, ketika masuk lebih jauh ke industri BPR, cakrawala itu berubah. Ia berhadapan lebih dekat dengan denyut ekonomi masyarakat di daerah.
“Saya dulu di bank umum lebih banyak di kota besar. Tapi, setelah masuk, saya ‘kan di BPR yang ada di Indonesia Timur. Dan, kita sama sama tahu, kalau di Indonesia Timur, tantangannya double dari Indonesia Barat. Itu juga satu tantangan yang sangat menarik untuk saya. Saya jadi bisa mengenal begitu banyak karakter manusia yang berbeda-beda,” terangnya.
Usia senja tak menghalangi Freddy untuk terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat melalui BPR. Seperti sang surya yang tetap memancarkan cahaya sebelum benar-benar tenggelam, Freddy seolah ingin menunjukkan bahwa selama masih ada kesempatan untuk berkarya, perjalanan seorang bankir belumlah selesai.
Proses perjalanan pria yang akrab disapa Freddy ini untuk menjadi tokoh besar di industri perbankan rural jauh dari kata instan. Freddy menghabiskan puluhan tahun di sektor perbankan, mengenyam asam garam kehidupan sebagai bankir, dan merasakan pasang-surut dari roda kehidupan yang terus berputar.