Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ketoprak Financial “Sultan Agung” : Saat Menteri Veronica Beradu Akting dengan Bankir-Bankir

Oleh Darto Wiriosukarto

SIAPA sangka, kisah darah, logistik, dan perlawanan Sultan Agung Hanyakrakusuma melawan VOC Belanda bisa berakhir dengan tepuk tangan dan gelak tawa seisi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Kamis malam, 30 Juli 2026, sejarah tidak lagi dibacakan kaku dari buku. Ia hidup, menari, dan melempar lelucon. Di atas panggung pagelaran Ketoprak Financial “Sultan Agung”, heroisme abad ke-17 bertemu dengan realitas 2026: QRIS, barcode, ChatGPT, hingga investasi bodong.

Selama hampir dua jam, penonton diajak pulang ke masa lalu tanpa meninggalkan dompet digital di kantong. Yang membuat malam itu berbeda, para pemainnya. Bukan aktor profesional, melainkan deretan petinggi industri keuangan, perbankan, BUMN, akademisi, hingga jurnalis senior. Ada Suwandi Wiratno (Ketua Umum APPI), Haryanto T. Budiman (Ketua Umum IBI), Alexandra Askandar (Wadirut BNI), Rudiantara (mantan Menkominfo yang juga Komisaris Utama Dana), Antonius Widodo (Direktur BCA), Seno Soemadji (Direktur Telkom), hingga Veronica Tan, Wakil Menteri PPPA, yang turut hadir sebagai bintang tamu bersama komedian Yanti Lemu.

Selain mereka, beberapa eksekutif yang ikut naik panggung antara lain Armand Hermawan (Dirut Lintasarta), Fajar Wibhiyadi (Dirut Surveyor Indonesia), Vera Eve Lim (Direktur BCA), Yuanita Rohali (Presiden CFO Club Indonesia), Aviliani (Komut Allo Bank), Ronny Venir (Direktur BNI), Rita Mirasari (Direktur Bank Danamon), Juanita Luthan (Direktur NobuBank), Lisawati (Komisaris Bank Ganesha), Evi Afiatin (Direktur Surveyor Indonesia), Kusumaningtuti (Komisaris SMBC Indonesia), Nicolaus Prawiro (Wadirut Asuransi Cakrawala Proteksi), Jemmy Atmadja (Presdir Asuransi Maximus), Tribuana Tunggadewi (Direktur BSI), Susy Meilina (Dirut MNC Sekuritas), dan Intan Abdams Katoppo (Dirut Phapros).

Turut bermain pula Alfa Niasari (Direktur PertaLife), Edhie Purnawan (UGM), Nimmi Zulbainarni (IPB), Benny Purnomo (Komisaris InaRe), Dumasi M.M. Samosir (Direktur Asuransi Sinar Mas), Chaterinawati Hadiman (Komisaris HSBC Indonesia), Nunung Suhartini (Direktur Bank BJB), Rosmery Thomas (Direktur ICBC Indonesia), Wani Sabu (BCA), Maria Y. Benyamin (Pemred Bisnis Indonesia), dan Karnoto Mohamad (Wapemred Infobank).

 

Di bawah arahan sutradara Aries Mukadi, mereka membuktikan satu hal: dunia angka dan laporan keuangan juga bisa berdarah seni. Lakon ini mengangkat perjuangan Sultan Agung menyatukan Pulau Jawa dan memimpin dua ekspedisi besar ke Batavia pada 1628 dan 1629 untuk mengusir VOC. Namun, alih-alih serius dan berat, panggung ini memilih jalan lain: membumikan sejarah dengan humor.

Produser Eksekutif Ketoprak Financial, Eko B. Supriyanto, menegaskan bahwa pemilihan lakon Sultan Agung bukan nostalgia kosong. “Kami mengangkat lakon ini untuk mengenang dan meneladani semangat persatuan dan kemerdekaan yang digelorakan oleh Sultan Agung saat melawan VOC Belanda yang memecah belah Mataram,” katanya, di sela pertunjukan.

     

 

Bagi Eko, semangat itu masih relevan. “Masih ada ketidakadilan yang harus diperjuangkan dan masih ada anak bangsa yang terpecah akibat perbedaan pendapat,” tuturnya.

 

Panggung ini juga punya misi sosial. Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan ke Yayasan Anak Asuh Kita untuk beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk keluarga seniman ketoprak tradisional.

 

Makanya, Eko sangat mengapre-siasi semua pihak yang terlibat dalam pagelaran ini. “Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia,” ujar Eko.

 

 

 

Malam itu, Sultan Agung memang belum berhasil mengusir VOC dari Batavia. Tapi, ia mewariskan lebih dari kemenangan: penyatuan hampir seluruh Jawa, Kalender Jawa Islam yang memadukan Hijriah dan Saka, serta fondasi pemerintahan Jawa-Islam yang kokoh.

 

Di GKJ, Mataram memang tidak menang di medan perang. Tapi, ia menang di hati penonton. Karena ternyata, cara paling ampuh menjaga sejarah agar tidak mati adalah membuatnya tertawa, lalu merenung.

 

Dan, mungkin benar kata lakon tadi: semangat persatuan memang tidak bisa di-scan. Tapi, bisa diwariskan. Lewat ketoprak, lewat tawa, lewat pekikan “Merdeka!” yang menggema malam itu. DW

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2026

Rp 65.000

BELI