BI menegaskan perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yang harus ditopang oleh sistem pendukung yang kuat serta literasi keuangan yang baik. Di tengah dinamika ekonomi global dan pesatnya transformasi digital, edukasi keuangan menjadi bekal penting agar perempuan semakin mampu mengambil keputusan finansial yang bijak, adaptif, dan berkelanjutan.
Sumber : Infobank
Perempuan Indonesia terus membuktikan dirinya mampu menjadi motor penggerak di berbagai sektor, termasuk industri keuangan. Tapi, potensi besar itu tak cukup hanya mengandal-kan kemampuan individu, melainkan juga membutuhkan dukungan lingkungan yang kuat. Pesan itulah yang menjadi benang merah dalam Malam Apresiasi Infobank 500 Most Outstanding Women 2026 yang digelar di Wisma Batari, Surakarta, medio April lalu sekaligus mem-pertegas pentingnya edukasi keuangan agar perempuan semakin siap menghadapi per-ubahan ekonomi di era digital transformation.
Di kesempatan itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mem-bagikan pandangan strategis sekaligus per-jalanan hidupnya. Di hadapan para perempuan inspiratif dari sektor keuangan, sektor riil, dan pejabat publik yang hadir, Destry menyampai-kan gagasan yang cukup mengejutkan.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi soal emansipasi perempuan, tapi bagaimana membangun sistem yang mampu mendukung perempuan berkembang secara maksimal.
“Yang kita butuhkan sekarang bukan emansipasi perempuan tapi emansipasi pria. Karena tanpa support system yang lengkap kita perempuan akan sulit mengeluarkan potensi yang ada,” ujar wanita yang sementara ini juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI.
Lebih jauh ia menilai, ruang bagi perempuan Indonesia sebenarnya sudah terbuka sangat luas. Banyak perempuan kini menduduki posisi strategis, mulai dari direksi perbankan hingga pemimpin di berbagai lembaga penting.
Meski begitu, Destry mengingatkan bahwa keberhasilan itu tak lahir begitu saja. Menurutnya, keluarga, pasangan, dan lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam membentuk fondasi kesuksesan perempuan. “Kalau emansipasi perempuan, Indonesia sudah sangat baik. Posisi apa yang perempuan tidak ada. Di perbankan banyak perempuan yang jadi direksi,” katanya. Ia menambahkan, “Itu tidak lepas dari sistem yang mendukung kita, dari keluarga, dari pasangan. Tapi memang tidak mudah membangun sistem support yang kuat.”
Dia juga mengajak masyarakat melihat sejarah sebagai bukti bahwa perempuan Indonesia sejak lama memiliki peran besar dalam membangun bangsa. Ia mencontohkan sosok Laksamana Malahayati hingga R.A. Kartini sebagai perempuan yang mampu menembus berbagai keterbatasan zamannya.
Dalam konteks saat ini, kontribusi perempuan juga sangat terasa di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), di mana lebih dari 60% pelakunya merupakan perempuan yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Tak hanya itu, Destry menilai perempuan memiliki karakter kepemimpinan yang menjadi nilai tambah di tengah tantangan zaman. Secara ilmiah, perempuan dinilai lebih teliti, komunikatif, serta mengedepankan kolaborasi sehingga mampu menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam mengambil keputusan. Karakter itu menjadi modal penting untuk menghadapi dinamika ekonomi yang semakin kompleks dan penuh challenge, sekaligus menciptakan kepemimpinan yang adaptif.
Dalam kesempatan itu, Destry juga berbagi kisah perjalanan hidupnya yang penuh pilihan. Sejak kecil ia menekuni olahraga renang dan tenis, tapi kemudian memutuskan fokus menjadi atlet tenis sebelum akhirnya memilih meninggalkan dunia olahraga dan melanjutkan pendidikan ekonomi. “Hidup kita ini dipenuhi dengan pilihan. Dan kita tidak bisa memilih semuanya karena ada keterbatasan,” ungkapnya.
Pengalaman itu membuat Destry memahami konsep opportunity cost, yakni setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi terhadap pilihan lain yang harus dilepaskan. Baginya, keberhasilan bukan sekadar mengejar ambisi besar, tapi menjalani setiap proses dengan kesungguhan dan keikhlasan. “Apa yang saya kerjakan, saya kerjakan dengan tulus, soal hasilnya seperti apa, itu kita serahkan kepada Tuhan,” tegasnya.
Di sisi lain, BI juga terus memperkuat edukasi dan literasi keuangan sebagai bekal penting bagi generasi muda, termasuk perempuan, agar mampu mengambil keputusan finansial yang tepat di tengah gejolak ekonomi global dan pesatnya perkembangan teknologi. Bersama berbagai stakeholder, BI mendorong peningkatan literasi keuangan bukan hanya agar masyarakat memahami produk keuangan atau investasi, tapi juga mampu membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak dan berkelanjutan. Upaya itu diperkuat melalui pengembangan instrumen pasar uang yang memperluas pilihan investasi serta inovasi sistem pembayaran digital seperti QRIS yang membuat transaksi dan akses ke layanan keuangan menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Di kesempatan itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mem-bagikan pandangan strategis sekaligus per-jalanan hidupnya. Di hadapan para perempuan inspiratif dari sektor keuangan, sektor riil, dan pejabat publik yang hadir, Destry menyampai-kan gagasan yang cukup mengejutkan.