Bank-bank kembali memasuki babak yang sulit. Suku bunga inflasi dan kredit macet tetap menjadi palang pengganjal bagi ekspansi kredit. Namun begitu, toh bankir tak kehilangan kepercayaan. Inilah sepuluh langkah yang bakal ngetrend di tahun 1995
Pasar perbankan makin terkotak-kotak dengan lahirnya konglomerasi bank. Bank mana saja yang menguasai pasar dana masyarakat? Benarkah merger antarbank satu grup menjadi alternatif untuk memperkokoh perbankan?
Bank-bank pemerintah kembali digoyang konglomerat. Kali ini tak hanya dililit kredit bermasalah, namun karena nasabah potensialnya mulai melunasi pinjamannya. Hidup matinya perbankan memang tergantung konglomerat.
Suku bunga perbankan naik lagi, dan dipastikan debitur bakal kesulitan membayar pinjaman. Bank-bank papan atas telah menghapusbukukan kredit macetnya. Apakah itu berarti, pemerintah tak bakal mengungkapkan 50 nasabah kakap bermasalah seperti Eddy Tansil?
Sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) dihadang kredit macet. Bayangkan, sebesar 19,26 persen kreditnya dikategorikan bermasalah. Benarkah ada kolusi antara bankir dengan pejabat daerah? Yang jelas sudah ada mantan Dirut BPD yang ditahan kejaksaan dan beberapa perkara kredit diselesaikan lewat pengadilan.
Bank Central Asia (BCA) menjadi bank nomor satu dalam merebut dana masyarakat - menggeser seluruh bank pemerintah. Bagaimana peta pasar perbankan Indonesia selanjutnya? Sosok grup bisnis punya peluang penting dalam membesarkan bank, seperti Grup Salim dengan BCA
Pengawasan di bank banyak digugat. Banyak kasus di perbankan berawal dari lemahnya sistem pengawasan. Akankah otoritas moneter melakukan revitalisasi pengawasan?
Aset perbankan kian menggelembung. Namun, rasio rentabilitas rata-rata dari 234 bank menurun, mengapa bank-bank yang telah go public lebih lincah dan melesat jauh
Setelah skandal megakredit Eddy Tansil-Bapindo sebesar Rp 1,7 triliun, pengelolaan manajemen Bapindo bakal dibantu pihak asing. Benarkah bantuan manajemen asing ampuh mengobali bank-bank bermasalah. Di jajaran bank-bank swasta bantuan teknis bahkan bukan barang baru lagi
Kredit sindikasi makin menjadi trend. Diproyeksikan kredit sindikasi bakal mencapai nilai Rp 20 triliun. Sayangnya, hanya konglomerat yang menikmati. Adakah manfaat lain dari sekadar mengamankan BMPK dan risk sharing?
Tahun 1992 dan 1993 tahun ujian buat para bankir. Era konsolidasi dengan berbagai krisis bank-bank bakal merontokkan bankir yang berhaluan pedagang kelontong. Bisakah bankir dipercaya? Untung ada Robby Djohan, Winarto, Mochtar Riady, dan Djaja Ramli, tampil sebagai Bankers' of The Year 1992.